Mesin Jahit Bapak Awing

Foggy FF
Chapter #18

Galeong

Ia belum pernah mengamati apa yang diciptakan oleh bapaknya dengan teliti, Saribanon memandangi kain di hadapannya penuh kekaguman. Sepulangnya ke rumah tadi malam, ia menghabiskan malam hingga pagi, mengobrol dengan Damar tentang niat laki-laki muda itu untuk meneruskan pekerjaan bapaknya, sambil tetap melukis. Awalnya, Saribanon tak setuju karena ia amat tahu karakter Awing, yang tak biasa mewakilkan pekerjaannya pada orang lain. Namun, Damar berhasil meyakinkan lelaki tua itu, Damar mengungkapkan rasa cinta terdalamnya pada dunia seni. Kalimat Damar membuat Saribanon yakin, kalau seniman yang dipilih bapaknya itu bukan orang biasa.

Damar pamit ke kamar belakang, sementara Saribanon memutuskan untuk tidur di sofa ruang kerja Awing, api matanya sulit terpejam. Ia malah membuka beberapa kostum, yang Damar gantungkan di atas rak. 

Jemarinya menyentuh payet-payet berkilau di atas kain dengan motif rumit. Motif kawung yang Awing pernah kisahkan padanya waktu kecil, dengan lingkaran simetris, yang sering dikaitkan dengan filosofi keindahan alam dan harmoni. Saribanon belum pernah memikirkannya terlalu dalam, hingga pagi buta ini perasaannya berubah sendu. Awing Atmadilaga adalah seorang maestro, ia mulai menyadari kecintaan bapaknya tergambar dalam setiap karyanya. Ingatannya melayang pada suatu sore, ketika Saribanon kecil bermain di bengkel seni bapaknya, berlarian tanpa alas kaki.

“Kawung itu dari biji aren, Banon,” papar Awing sembari mengamati manik mata putrinya, yang terpukau menyentuh kain. “Meskipun kecil, kawung  punya banyak manfaat. Ini mencerminkan pentingnya hidup sederhana dan rendah hati, sambil memberikan manfaat sebesar mungkin untuk orang lain. Begitulah motif ini memberi makna pada selembar kain.”

Setiap kalimat Awing, merasuk dalam pikirannya sedari tadi, membangkitkan kenangan yang diliputi rindu mendalam. Pada pengetahuan dan kasih sayang yang bapaknya sampaikan, tentang sebuah dedikasi yang tak lekang dimakan zaman. Saribanon terisak, ia mencium kain dalam genggamannya, hatinya seolah membengkak dua kali lipat, ada haru dan bangga di dalamnya. “Maafkan aku, Pak,” bisiknya lirih. 

Dalam hening, air matanya tumpah.

***

Jalak suren tidak mendengkur ketika lelap, ia cenderung diam dan tenang ketika beristirahat, terutama jika merasa aman di lingkungan sekitarnya. Dalam diamnya, Damar melihat ketenangan. Ia mengamati burung dalam sangkar itu.

Damar tahu, Saribanon tak lekas tidur saat dirinya berpamitan. Lampu ruang kerja Awing masih menyala, Damar mengamatinya, dari jendela kamarnya di luar rumah besar. Ia tahu, perempuan yang dikaguminya tengah merasakan sesuatu, batin Damar ikut merasakan adanya sembilu. Ia membuang napasnya pelan, tak kuasa untuk menghampiri dan membantunya.

Damar lantas berbaring sambil menatap langit-langit, otaknya berputar. Hati dan pikirannya tidak berjalan seiringan, hatinya berdesir dengan banyak keinginan untuk memiliki perempuan itu, sementara pikirannya mencegah dan berhitung tentang banyak hal yang kelak akan membuatnya kecewa. Damar belum pernah sebimbang ini, sejak kematian kedua orang tuanya. Kenapa cinta bisa begitu membingungkan? Ia lantas duduk tegak, sambil meremas rambutnya. Cinta??

Saribanon adalah wujud perempuan yang sampai kapan pun akan sulit ia raih, berbagai pertimbangan masa depan menjadi kendala baginya, untuk mendekati gadis itu. Awing Atmadilaga adalah pintunya menuju masa depan yang lebih baik, seniman itu sangat ia hormati, hingga Damar rela mengorbankan banyak hal untuk membantu Awing, seperti Awing juga telah banyak membantunya. Mencintai Saribanon—orang terdekat Awing—adalah sebuah pengkhianatan. Damar lantas menggeleng, mengenyahkan berjuta keinginan yang ingin ia ungkapkan. Terkadang cinta bukan hanya tentang memiliki, tapi juga tentang menerima bahwa tidak semua yang kita inginkan bisa dimiliki, pikirannya berusaha membunuh hasrat itu.

“Mar….”

Suara langkah kaki di luar kamar, membuatnya terperanjat.

“Ya?”

Saribanon berdiri di depan pintu kamarnya, dengan derai air mata di pipi, perempuan itu terisak. Damar lekas menghampiri, jarinya tak bisa dicegah untuk mengusap pipinya yang sehlus beledu. “Hei… kenapa?”

Saribanon menggeleng. “A-aku… aku merasa bersalah sama Bapak.”

Sesuatu menggerakkan langkah Damar untuk mendekat, dan mengusap rambut Saribanon yang hitam legam. Perempuan itu terpejam, dan kembali terisak tanpa suara, mengundang haru yang begitu menyakitkan untuk Damar. Ia memeluknya, memeluk Saribanon erat, meski logika dalam pikirannya terus melarangnya. Biar pagi ini larut dalam diam, biar udara dingin menjadi saksi, sebesar apa rasa yang buncah dalam dadanya. Damar tak melepaskan pelukannya.

“Maafkan aku, Mar,” bisik Saribanon di dada Damar, dengan air mata membasahi kemejanya. “Maafkan aku… pernah benci sama kamu.”

“Ssst…,” bisik Damar, ia mengelus rambut Saribanon dengan jantung yang berdegup kencang. “Jangan pikirkan itu, Sari. Aku tahu… kehilangan bisa sangat melukai,” bisik Damar di atas kepala Saribanon. “Kehilangan, bisa bikin orang jadi membenci.”

Jalak suren di dalam sangkar beringsut sembunyi, seolah tahu dua manusia di hadapannya tengah mengurai rasa yang selama ini mereka pendam. Sebelum azan awal berkumandang, Saribanon dan Damar larut dalam diam yang menghanyutkan, tanpa takut, tanpa prasangka, tanpa harus banyak berkata-kata.

***

Lihat selengkapnya