Mesin Jahit Bapak Awing

Foggy FF
Chapter #19

Nyampurit

Kampus Institut Ilmu Seni dan Kebudayaan Bandung, terletak di tengah kota, di balik kemacetan dan semrawutnya jalanan utama. Namun, carutnya kehidupan masyarakat urban, seolah terisap habis oleh asri dan betapa membuminya kehidupan di dalam kampus. Mereka yang tengah bergelut dalam ilmu seni, menggabungkan cipta, rasa dan karsa dalam perenungan proses budaya. Setiap penghuni kampus, tampak menikmati rutinitas mereka.

Ilham Budiman, adalah seorang koreografer dengan segudang pengalaman. Kemampuannya menciptakan kreasi gerakan seni tari, telah mengantarkannya ke berbagai penghargaan kelas dunia. Ilham didapuk menjadi salah satu koreografer termuda, yang berhasil menyelenggarakan pagelaran sendratari lintas negara.

Ilham sedang duduk menunggu para penari di aula, ketika Damar muncul di hadapannya. Ia tahu, kotak apa yang Damar bawa, hanya ia tak menyangka kalau Damar mengantarkannya sendiri, secepat itu. “Kenapa nggak dipaketin aja sih, Mar?”

Damar tersenyum, ia mengangkat bahu malu-malu, tak tahu harus menjawab apa. Sambil celingukan, Damar mengamati para pemain gamelan yang sedang bersiap. “Latihan sampai sore, Pak?”

Dari jauh, Wawan seorang senior penabuh gamelan—sahabat Awing—melambai padanya. Laki-laki setengah baya itu menyeringai, sambil mengacungkan jempol.

Ilham mengamati Damar, wajahnya terlihat masam. Ia seperti sedang banyak masalah. “Taruh situ aja, Mar. Nanti biar dibongkar anak-anak. Ada berapa kostum?”

“Tiga, Pak. Hanya kostum penari utama.” 

Ilham mengedik ke arah panggung, “kalau mau ketemu Dinda, temui aja. Dia udah selesai, kok. Pergelaran kali ini menggunakan Anggrek lagi, sebagai penari utama.”

Damar mengernyitkan dahi, dan melempar pandangannya ke arah panggung. Dinda melambaikan tangan padanya, mukanya muram.

“Saya pamit Pak Ilham. Semoga sendratari nanti sukses. Salam dari Pak Awing.”

“Hmm… Mar?”

“Ya, Pak?”

“Kang Awing… serius menyerahkan ini semua sama kamu?” Ilham memicingkan mata. “Kang Awing nggak sakit lagi, kan?”

Damar terkekeh seraya menggeleng. “Alhamdulillah, Pak Awing sehat. Mungkin memang sedang ingin istirahat dulu.”

Ilham memandangi Damar, dari ujung rambut hingga ujung sepatunya yang sudah usang. Laki-laki perlente itu, seperti sedang memindai barang dengan sinar laser di matanya. “Waktu Pak Bambang merekomendasikan kamu ke Kang Awing, aku pikir ini sifatnya hanya sementara. Aku nggak yakin bakal permanen begini, Mar.”

Damar tak tahu harus menjawab apa, sesuatu mengganggu di dalam hatinya, ia menelan ludah dengan susah payah. Damar tahu, banyak orang seringkali menyepelekan kredibilitasnya sebagai seorang seniman, tapi ia tak pernah menyangka, kalau Ilham meragukan pikiran sehat Awing. Firasat itu mengundang gejolak di dalam batin Damar.

“Damar….” 

Damar lekas menoleh ketika namanya dipanggil, Dinda tersenyum sangat manis padanya. “Kemana aja? Dari terakhir kita ketemu itu, susah banget cari kamu. Jarang ke kampus, ya?”

“Iya, sedang agak sibuk, Din.”

Ilham masih mengamati gerak-gerik Damar, sambil mengintip ke layar ponselnya. Sikap Damar yang berani berhadapan dengannya, membuat Ilham merasa ditantang, ia belum pernah menghadapi seniman yang bukan mahasiswa dari jurusannya. “Kamu masih melukis, Mar?”

Damar mengangguk sekilas, sambil menoleh ke arah Ilham.

“Udah pameran?”

“Bulan depan, Pak,” jawab Damar cepat.

Dinda terlihat mengamati interaksi dua lelaki di depannya. Ia tahu, Ilham terkadang menyebalkan, tapi Dinda tak ingin Damar menanggapi sikap meremehkannya. Ilham bukan lawan yang seimbang untuk Damar tanggapi. 

Lihat selengkapnya