Mesin Jahit Bapak Awing

Foggy FF
Chapter #20

Tumpang Tali

Awing duduk di bale bambu halaman belakang rumahnya, memandangi hamparan kebun yang dirawat Mang Oleh dengan sangat resik. Di tangannya, tergenggam sebuah sketsa kasar—rancangan pertunjukan seni yang ia impikan. Panggung kecil di tengah alam terbuka, dikelilingi gemericik sungai dan bayang-bayang pepohonan. Ia membayangkan sebuah pergelaran di sebuah hampar padang hijau, dengan pepohonan melingkung, menggabungkan dunia Saribanon dan kecintaan Awing terhadap dunia tari, mengawinkan harmonisasi budaya dan alam. 

Awing menghela napas panjang, seolah mencari jawaban di antara semilir angin yang membawa aroma sedap malam ke tempatnya duduk. Ia punya keinginan untuk memberikan ingatan terbaik untuk orang-orang di sekelilingnya, tentang sebuah dedikasi pada proses penciptaan karya seni yang dilaluinya berpuluh tahun, tapi juga ingin menunjukkan kalau jalan yang dipilih putrinya berbeda, dan tak kalah mulia, untuk mengembalikan hakikat alam dan segala manfaatnya.

Ia menoleh, ke arah Damar yang datang dengan langkah gontai. Wajah lelaki muda itu ditekuk, tidak seperti biasanya.

“Mar?” sapa Awing.

Damar menoleh, ia kaget melihat Awing duduk di bale bambu. “Lho, Pak, sedang apa di situ?”

Awing melambaikan tangannya. “Sini, Mar.”

Damar mendekatinya, lalu duduk di tangga bambu menuju musala, sementara Awing berdiam di selasar bale menghadap barisan sedap malam.

“Kamu kusut sekali, Mar. Gimana tadi di kampus?”

Damar mencoba tersenyum, tapi pemandangan di teras depan rumah barusan masih mengganggunya. “Kostumnya sudah saya serahkan ke Pak Ilham. Tadi mereka latihan”

“Apa kata dia?”

“Hmm… Pak Ilham agak terkejut, begitu tahu saya menggantikan Pak Awing. Ia kaget, Pak Awing memutuskan untuk mengiyakan tawaran saya, membuat kostum.”

“Lho?” Alis Awing mengernyit. “Apa urusannya sama dia?”

Damar terkekeh. Cara Awing membelanya, membuat Damar merasa terhibur. “Apa itu Pak?” Ia mengedik ke arah kertas di genggaman Awing.

“Ini mimpi,” ucap Awing sambil tersenyum lebar. “Mimpi saya belakangan ini.”

“Coba saya lihat mimpinya, Pak,” ujar Damar sambil mendekat. “Wah, ini pertunjukan lagi?”

Awing mengangguk. “Tertarik buat bantu?”

Seperti ditantang, bara di dada Damar seolah dipantik api. Ia menyeringai. “Siapa takut.”

“Pameran dulu, Mar.” Awing menunjuk ke arah dudukan kanvas di selasar bale bambu. “Selesaikan karyamu, sampai ujian rampung. Nanti kita pikirkan mimpi saya ini.”

Damar tersenyum lebar. “Terima kasih, Pak.”

Awing mengangguk, ia menengok ke teras di depan. “Saya ke depan dulu. Sudah saatnya saya tanya, anak di depan itu punya niat apa sama anak saya.”

Damar tergelak, ucapan Awing seolah mengobati kecemasan yang sedari tadi dirasakannya. Ia lekas membekap mulutnya, ketika Awing menatapnya.

“Kenapa ketawa?”

Damar menggeleng sambil tersipu. “Silakan ditanya, Pak. Kalau ada apa-apa, saya siap dipanggil.”

Awing mengibaskan tangannya. “Banon marah-marah nanti, kalau tamunya kita keroyok.”

Lihat selengkapnya