Mesin Jahit Bapak Awing

Foggy FF
Chapter #21

Gitek

Bambang Damandaru adalah ketua program jurusan seni lukis di Institut Ilmu Seni dan Kebudayaan Bandung, ia dikenal sebagai pejabat kampus termuda dibanding koleganya yang lain. Mungkin karena Bambang—di usia masih teramat muda—sudah mampu membawa jurusan yang dipimpinnya itu, menelurkan banyak seniman dan akademisi di bidang seni lukis.

Ia duduk di mejanya, mengamati seseorang di balik jendela kaca. Bambang tahu, kalau seniman muda itu punya banyak potensi dalam dirinya, yang tak banyak orang sangka. Mungkin karena anak muda itu tak pandai memublikasikan kemampuannya, dan tak suka dipuja-puja, makanya ia tak terpindai oleh radar kurator. Bambang menggerakkan telunjuknya, menyuruh pemuda itu masuk ke ruangannya. “Mana?” ucapnya memberi kode, “kamu bawa?”

Damar yang baru saja datang, dengan rambut gondrongnya yang terikat dan sedikit lembab, terkekeh sambil garuk kepala. “Bawa, Pak. Malu… tapi.”

Bambang menggerutu. “Mau malu sampai kapan, Mar? Sampai keduluan orang-orang dan kamu gigit jari?”

Damar tersenyum, pandangannya terarah ke layar laptop Bambang. “Itu silabus buat semester depan, Pak?”

“Iya.” Bambang menatap Damar, lalu menyurengkan alisnya. “Mau bantu aku jadi asisten?” 

Ucapan Bambang, tiba-tiba membuat Damar menghela napas berat. “Wah, kenapa saya?” 

Kini, Bambang yang terkekeh, melihat tingkah mahasiswanya yang dianggap paling berprestasi di jurusannya itu. “Kamu… dari sekian orang di jurusanku, Mar, itu paling bandel… sekaligus punya otak paling brilian.” Ia kembali mengamati ekspresi Damar. “Pantas Pak Awing nggak menyia-nyiakan potensimu.”

“Duh, Pak.” Damar tersipu, sambil meremas tengkuknya gugup. “Pak Awing itu cuma kasihan sama saya.”

Bambang mengibaskan tangannya. “Karya dan prestasi kamu itu bukan cuma soal nasib baik, tapi hasil dari usaha yang konsisten, keberanian untuk gagal, dan kesabaran dalam menghadapi proses panjang. Nasib baik mungkin membuka pintu, Mar, tapi perjuangan kita yang menentukan seberapa jauh keberuntungan itu bisa bertahan.” Bambang melipat tangannya di meja, punggungnya ia dekatkan ke arah Damar yang duduk sambil mendengarkan.

Di balik wajahnya yang terkadang orang anggap pemalu dan malas-malasan, Damar memiliki kemampuan untuk mengamati dengan cermat. Ia tahu siapa Bambang, dan ia tahu kapabilitas Bambang di kampus itu, karena ia mampu mengelola jurusan dengan baik. Tak cuma seniman mumpuni, Bambang Damandaru adalah seorang pendidik yang berdedikasi.

“Awing Atmadilaga itu bukan orang sembarangan, Mar. Kemampuannya seringkali dianggap remeh orang, karena ia tak mudah tergiur oleh industri dan proses penciptaan yang ‘pabrikan’, ia adalah maestro. Tangan-tangannya seperti punya daya magis… lewat tempaan puluhan tahun.”  

Damar mengangguk-angguk, ia sepakat dengan pernyataan Bambang.

“Posisi kamu ada di sebelah beliau, itu bikin iri orang-orang,” ucap Bambang serius. “Aku punya insting yang sama dengan Pak Awing, untuk mengajak kamu turut serta membangun jurusan seni lukis. Karena aku bisa melihat potensimu di sini.”

Tiba-tiba Damar terkekeh. “Duh, maaf Pak, saya bukan mau menertawakan Pak Bambang, tapi tawaran ini malah bikin saya makin bingung.”

Bambang menepuk mejanya, ia menyudahi pembicaraan mereka sambil berdiri dan membalikkan tubuhnya menatap Damar. Ada kesungguhan di binar matanya. “Ingat kata-kataku ini ya, Mar. Suatu hari nanti… kamu nggak perlu bingung harus memilih yang mana, karena kemampuan sejenius kamu, bisa mengawinkan dua dunia yang orang lain anggap tak mungkin.” Ia lantas tersenyum lebar, dan berjalan keluar. “Aku tunggu karya buat pameranmu, Mar. Di manapun kamu mau menyelenggarakannya.”

Lihat selengkapnya