Mesin Jahit Bapak Awing

Foggy FF
Chapter #22

Sirig

Di bale bambu kediaman Awing Atmadilaga yang tak begitu besar, rapat persiapan pergelaran sendratari di Leuweung Sancang pertama kali diadakan, dan sungguh terasa semangat kolaborasi di antara mereka yang hadir. Jurusan seni tari yang diwakili oleh Ilham Budiman dan Awing Atmadilaga, sudah menyiapkan materi presentasinya. Dari jurusan seni lukis, tentunya adalah seniman yang akan memamerkan karyanya, Damar Jati Angkasa, dengan kurator Bambang Damandaru. Rapat juga dihadiri oleh rombongan para aktivis pencinta alam, dari WALHI dan Sawala Rimba. Mereka berbicara sahut menyahut, saling lempar gagasan yang berisi ide-ide cemerlang.

Ilham Budiman dan Bambang Damandaru membuka diskusi dengan paparan visinya: sebuah panggung terbuka yang memadukan tari, seni rupa, dan kampanye pelestarian alam. Saribanon mencatat setiap detil dengan saksama, sesekali bertukar pendapat dengan para seniman dan aktivis lingkungan. Meski terlihat malu dan canggung, Damar bicara dengan antusias ketika mendapatkan giliran bicara. 

"Saya ingin karya ini tidak hanya dinikmati, tapi juga menjadi pengingat akan apa yang harus kita jaga," ucap Damar, sambil menunjukkan beberapa sketsa kanvas yang akan dipajang di sela pepohonan, dan lukisan utama berjudul “Gemintang Leuweung Sancang.”

Dari kursi paling belakang, Adha memperhatikan setiap ucapan Damar, sesekali ia mengamati interaksi Saribanon dan seniman muda itu, keduanya saling bertukar apresiasi. Adha diam bergeming, mengikuti rapat bersama rekan Sawala Rimba-nya yang lain. 

Ilham Budiman, sang koreografer, menyampaikan ide gerakan tari yang terinspirasi dari profil Dewi Sri. Menurutnya ini selaras dengan pesan kampanye WALHI tentang pelestarian hutan. “Kita akan gabungkan elemen tari dengan simbol-simbol perjuangan alam. Penari utama akan membawa batang kayu muda, melambangkan regenerasi hutan,” ucapnya panjang lebar. “Sendratari dengan tema pewayangan dan lingkungan hidup ini, dapat mengangkat kisah Dewi Sri sebagai pelindung kesuburan dan kehidupan.” 

Awing mencermati setiap ucapan Ilham. Wajahnya semringah, di sorot matanya yang meski dibingkai oleh gurat usia, binar itu menggambarkan pengetahuan yang luas. Ia berdeham.

“Pak Awing? Ada gagasan yang ingin disampaikan?” Bambang sebagai rekan dari jurusan seni lukis, menangkap antusiasme di wajah Awing.

Awing mengedik ke arah Damar, ia mengangguk memberi aba-aba sambil mengayunkan tangan. “Damar sebagai seniman muda yang akan melaksanakan pameran lukis, juga sebagai wakil saya dalam pembuatan kostum tari, pasti memiliki rancangan bentuk pergelaran yang telah ia pikirkan matang.” Suara Awing bergetar, terdengar bijak.

Damar susah payah mengusir kegugupan, ia menggosokkan telapak tangannya yang berkeringat. “Saya dan Pak Awing beberapa malam ini telah banyak berdiskusi. Ada beberapa gagasan yang terlintas dalam benak kami berdua.” Ia menoleh ke arah Ilham, memohon izin untuk bicara.

“Seperti kita tahu, hutan berada dalam ancaman karena ulah manusia. Kita akan memberikan gambaran kehidupan di hutan yang mulai gersang, binatang kehilangan habitat, dan sungai mengering. Lalu, dalam keprihatinannya, Dewi Sri turun ke bumi untuk memperingatkan manusia tentang keseimbangan alam. Dewi Sri akan menghadapi tokoh antagonis, yaitu manusia-manusia yang mengeksploitasi sumber daya alam. Nah, simbol ini juga akan digambarkan dalam beberapa karya lukis saya.”

Ilham masih mengamati, ia mengernyitkan dahi. “Teruskan, Mar.”

Damar membersihkan tenggorokannya, sebelum melanjutkan. “Dewi Sri juga menghadapi tantangan dari manusia yang telah kehilangan harapan, membuat mereka ragu akan pentingnya menjaga lingkungan. Dengan kebijaksanaannya, Dewi Sri mengajarkan pentingnya hidup selaras dengan alam. Puncak dari pergelaran nanti, adalah dengan membuat ritual ‘Ngaseuk Pare’ (menanam padi) sebagai simbol kehidupan yang kembali menghijau.”

Lihat selengkapnya