Awing berjalan dengan tongkat mengetuk-ngetuk lantai, langkahnya diseret. Lorong menuju auditorium ujian praktik terasa lebih sepi dari biasanya, mahasiswa sedang bersiap ujian tulisan, tak ada yang datang ke sana. Wawan sedang menunggunya dalam diam, wajah lelaki paruh baya itu meringis prihatin menatap seniornya.
“Akang ini terlalu banyak memikirkan hal yang tak perlu dipikirkan, makanya belakangan sering sakit.” Kerut di kening Wawan tak bisa disembunyikan, meski nadanya terdengar dingin.
Awing terbatuk, ia duduk di kursi lipat paling depan, menghadap ke panggung kosong. “Kalau sudah menyangkut Saribanon, tentu saja aku pikirkan sungguh-sungguh.”
Beberapa deret kursi dibiarkan tak dibereskan, memenuhi ruangan auditorium yang lega, lampu-lampu sorot di atas sengaja Wawan nyalakan sebagian, sepanjang ia sedang bekerja di ruangan itu. Awing mengamati instalasi latar yang sedang dikerjakan Wawan. Sebagai seorang seniman instalasi, Wawan tahu bagaimana cara membuat latar yang dramatis untuk acara di tengah hutan nanti, semua ia pilih dari bahan ramah lingkungan.
“Wan…,” tegur Awing dengan suara parau. “Kamu yakin, saya terlalu khawatir?”
Wawan akhirnya menaruh papan besar di tangannya dalam posisi vertikal, ia menelengkan kepala, mengamati orang yang sudah dianggap kakaknya sendiri itu. Wawan tak berani menyalakan sebatang rokok pun—seperti biasanya—meski menggoda, Ia tahu napas Awing masih tersengal saat bicara. Wawan kini menyilangkan tangannya di dada, mengamati wajah rapuh Awing yang membuatnya merasa pilu karena khawatir.
“Sebetulnya, apa sih yang paling Akang khawatirkan, dari hubungan si Damar dan Saribanon?” Wawan bicara hati-hati, tak ingin mempertajam rasa khawatir Awing lebih buas lagi. Ia paham betul soal naluri kebapakan.
“Aku takut Saribanon semakin jauh dariku.”
“Takut tersaingi, lebih tepatnya,” ucap Wawan sambil terkekeh. “Kang, namanya juga anak gadis sudah tumbuh besar, pasti akan ada masa ia mengalami satu titik jatuh cinta sama lawan jenis.” Sambil berjongkok di ujung tangga menuju podium, Wawan meneruskan. “Kan, Akang sendiri yang merancang pertemuan mereka, supaya Saribanon jadi lebih betah di rumah.”
“Aku ini bapaknya, Wan. Tinggal aku saja, yang anak itu punya.” Suara Awing bergetar. Ia duduk dengan posisi tak nyaman, tongkat dalam genggamannya terus menerus ia remas. “Aku takut menyesal, sudah mengundang pemuda itu masuk ke kehidupan kami.”
“Akang jangan khawatir, kalian sebagai orang tua sudah meletakkan dasar yang kuat buat Saribanon. Dia tumbuh dalam irama Akang dan Teh Pitaloka, dalam warna orang tuanya. Tapi pada akhirnya, tarian itu miliknya sendiri. Kalau dia memilih jalannya, bahkan dengan Damar, bisa jadi itu caranya menggabungkan apa yang Akang ajarkan… sama apa yang dia inginkan.”
Awing menghela napas, meski berat, akhirnya ia mengangguk. “Kamu benar, Wan. Aku hanya... takut. Takut akan semakin kehilangan tempat di hatinya.”
“Akang nggak akan pernah kehilangan itu. Hubungan bapak dan anak, bukan sesuatu yang begitu saja mudah retak. Asal Akang ikhlas, melihat dia bahagia, bahkan kalau bahagianya bukan persis seperti yang Kang Awing impikan.”
Ketika mengangkat wajah, pelupuk mata Awing basah, susah payah ia menahan diri agar air matanya tak jatuh. “Kalau suatu hari dia benar-benar pergi, apa yang harus aku lakukan, Wan?”
Wawan beringsut mendekat, ia duduk persis di sebelah Awing sambil menatap panggung yang kosong. “Doakan dia, Kang. Doakan supaya apapun jalannya, Saribanon nggak lupa pulang. Karena rumah buat seorang anak, tidak akan pernah hilang dari hatinya, apalagi jika orang tuanya selalu mendoakan dia.”
Awing menunduk, seraya menggenggam tongkatnya. “Mungkin kamu benar, aku harus belajar mengikhlaskan.”
“Kita ini, dua bapak tua yang sama-sama sedang belajar ikhlas menyaksikan anak kita dewasa, Kang.” Wawan lantas terkekeh, sambil menepuk pundak Awing.
“Aku kira selama ini, cuma anak muda aja yang harus banyak belajar. Ternyata kita pun masih sekolah di usia setua ini.”
Wawan mengangguk, sambil menerawang ke langit-langit. “Karena jadi orang tua itu, Kang... tidak pernah ada lulus-lulusnya.”
Awing dan Wawan duduk berdampingan di baris depan gedung auditorium yang sunyi. Cahaya keemasan dari jendela besar di sisi kiri panggung jatuh miring, menyelimuti ruangan dengan sinar jingga. Setelah percakapan mendalam tentang peran mereka sebagai orang tua, keduanya lantas terdiam, menekuri kata-kata yang terucap dan dibiarkan menggantung di udara. Tatapan mereka sama-sama tertuju pada panggung kosong di depan—panggung yang masih menyisakan berbagai hingar bingar di masa lalu. Tirai beludru merah yang sudah pudar itu digulung sampai atas, seakan tak sabar menanti gegap gempita alunan instrumen dan gerak lincah para penari yang tiap tahun silih berganti. Dalam hening, keduanya teringat akan peran mereka, sebagai orang tua bagi murid-muridnya.
***
Sepulang dari kampus, Awing duduk di teras depan. Ia mengamati gambar rancangan kostum untuk acara pergelaran yang sudah dekat, Awing membayangkan bahan brokat bermotif sulur padi, dengan kain bagian bawah berupa batik berilustrasi parang.
Wawan bercerita padanya, kalau Ilham sudah memesan patung yang akan menggambarkan sosok Dewi Sri, sebuah rancang bentuk dalam balutan busana daun kelapa, ilalang, dan anyaman bambu, disertai mahkota berbahan padi atau bunga liar. Awing bisa membayangkan, kreasi seperti apa yang akan dibuat oleh sahabatnya itu.
Dari jalur masuk halaman, Damar memarkirkan motor milik Mang Oleh, ia menunduk dengan kening dilelehi keringat. Pemuda itu mengangguk menyapa Awing, ia berjalan menuju halaman belakang, ketika Awing memanggilnya. “Mar….”
Damar menghentikan langkah, dari sudut-sudut bibirnya pemuda itu tampak berusaha tersenyum. Ada muram di sorot matanya.
“Dari mana?”
“Dari rumah Pak Ilham. Tadi, beliau menyuruh saya koordinasi dengan para penari, untuk menyepakati konsep final koreografi yang diciptakan olehnya.”