Mesin Jahit Bapak Awing

Foggy FF
Chapter #24

Sembah

“Kenapa harus bintang sih, Mar? Kan, acara sendratarinya siang hari?”

Damar tersenyum ke arah Saribanon, yang masih penasaran dengan gagasan pameran lukisannya. “Kamu tahu kan, kalau bintang itu simbol harapan dan petunjuk arah, untuk pelaut di masa lalu?” Damar menarik napas dalam, sambil mengamati Saribanon yang terheran-heran. “Dalam konteks seni, bintang itu mewakili aspirasi manusia untuk terus bermimpi, tumbuh, dan mencari jalan menuju sesuatu yang lebih baik.” 

“Jadi lukisanmu itu tentang harapan dan aspirasi?”

Damar mengangguk. “Tentang harapan dan petunjuk, Sar. Setiap kesempatan yang aku dapatkan, adalah sebuah petunjuk untuk membuat karya. Kesempatan untuk bertumbuh lebih baik.” Damar menunjuk ke arah lukisannya, barisan pepohonan berbanjar di bawah naungan kerlip bintang. “Untuk pencinta alam seperti kamu… ini sebuah harapan untuk kelestarian hutan.”

Ujung bibir Saribanon berkedut. “Adha harus mendengar kalimat kamu barusan.”

Damar berdeham, dia membuang pandangannya ke arah sangkar jalak suren. “Adha sudah tahu maksudku, Sar….”

Saribanon mengangkat alisnya tinggi-tinggi. “Tahu? Kalian ketemu?”

Damar menunduk. “Adha itu… seorang pencinta alam, yang punya komitmen kuat untuk arah perjuangannya, Sar. Begitupun untuk kehidupan pribadi, dia cukup sportif dan berjiwa besar.”

“Ini kamu nggak lagi ngomongin sendratari dan pameran, kan?”

Damar menggeleng, seutas senyum di bibirnya tak perlu menjawab pertanyaan Saribanon. Damar mencoba bersikap fair dengan memuji pesaingnya, di hadapan gadis yang ia puja. 

“Adha… sepertinya menganggapku lebih dari seorang sahabat, Mar.” Saribanon menatap Damar, menunggu reaksi laki-laki itu. “Tadinya, aku pikir kedekatan kami hanya sebatas teman perjalanan, melintas berbagai destinasi pendakian. Ternyata… aku salah.”

“Sari… aku tahu,” potong Damar. Ia berjalan mendekati Saribanon, dan berdiri tepat di hadapannya. “Adha mengakui perasaannya di depanku. Dan, aku pun cukup menghargai kejujurannya.”

“Mar….” Saribanon menunduk. “Tapi… tapi aku menganggapnya sebatas sahabat, nggak lebih, dan nggak akan pernah mengkhianati komitmen itu.”

Berdiri di hadapan Saribanon, dengan dada berdegup kencang, bagi Damar… lebih menegangkan dibandingkan berhadapan dengan kurator-kurator hebat yang menilai karyanya selama ini. Damar memandang langit yang pagi ini bersinar tak tentu, meski cerah, ada semburat kelabu di ufuk timur. “Gimana denganku, Sar?”

Dahi Saribanon mengerut. “Kamu? Kamu kenapa?”

Damar menggaruk keningnya yang tak gatal, ia gugup. Sambil memasukan tangannya ke dalam saku, ia meredam gelisah yang makin tak karuan. Rambut gondrong yang dibiarkannya terurai, tersibak angin yang melintasi bale bambu. “Aku menyukaimu, Sari. Sepertinya… aku malah… jatuh cinta sama kamu.”

Damar tak memprediksinya, Saribanon tergelak sambil menepuk kening. “Itu adalah ungkapan hati paling buruk yang pernah aku terima, Mar,” ucap Saribanon, yang membuat Damar melongo. Ia menghentikan tawanya seketika. “Sekaligus, ungkapan hati paling lugu dari kamu… yang selama ini selalu menjaga janji sama aku dan Bapak. Kamu yang selama ini selalu diam.”

Damar menunduk, pipinya terasa hangat. “Aku nggak punya daya tawar apa-apa, Sari, yang membuatku lebih di antara orang lain yang menyukai kamu.”

Saribanon menatap lurus ke arah seniman muda itu. “Kamu… salah satu yang berhasil membuatku pulang, ke rumah ini. Membuat aku melihat Bapak dengan caraku sendiri. Makasih ya, Mar,” bisik Saribanon.

“Pak Awing mengajarkan banyak hal sama aku, Sar. Salah satunya, memperjuangkan mimpiku.”

“Aku salah satu yang kamu impikan?” gumam Saribanon.

Lihat selengkapnya