Beberapa bulan telah berlalu sejak malam di mana segalanya berubah. Udara subuh yang dingin sering kali melempar ingatan Saribanon pada pagi terakhir itu, pagi sebelum napas bapaknya kian sesak dan kanker paru-paru yang menggerogotinya tak lagi bisa diajak berkompromi. Malam setelah pagi itu, Awing dilarikan ke rumah sakit, dan pada akhirnya, tak pernah kembali pulang.
Dalam kenangan yang kini tak lagi menyakitkan itu, azan subuh bergaung di kejauhan. Waktu itu, Awing tergolek lemah di peraduannya. Fajar sudah datang, tapi ia memutuskan untuk meluruskan punggungnya sejenak. Suara kecipak air di halaman belakang menjadi pertanda Mang Oleh baru selesai melangsungkan salat subuh di musala.
Ingatan itu berputar jelas. Pagi itu, Awing kembali terbatuk. Kesehatannya menurun drastis sejak pertunjukan di Leuweung Sancang sebulan sebelumnya.
“Pak….” Saat itu Saribanon menjulurkan kepalanya dari celah pintu, menatap bapaknya khawatir. “Udah bangun?”
Awing berdaham. “Mau salat subuh.”
Saribanon masuk, lantas duduk di tepi kasur. “Ke dokter, ya Pak. Batuknya makin sering, aku khawatir.”
Namun Awing menggeleng teguh. “Bentar lagi hari besar buat kamu, Banon. Nggak usah pikirkan Bapak, inshaa Allah, Bapak baik-baik aja. Si Damar masih di Jakarta?”
Saribanon mengangguk. “Sejak pameran, Damar makin sibuk. Apalagi sekarang dia harus mengurus materi promosinya WALHI di banyak media.”
“Kamu rindu, ya?” goda bapaknya saat itu.
Mengingat percakapan itu, Saribanon masih bisa merasakan bagaimana hatinya tersipu. Tapi ucapan terakhir bapaknya di pagi itulah yang paling menancap di batinnya.
“Banon… besok siang, tolong suruh Mang Oleh membereskan mesin jahit, dan simpan di gudang.”
Itulah serpihan kenangan terakhir. Malam harinya, Awing kritis dan segalanya berlalu begitu cepat. Kini, setelah bulan-bulan yang diselimuti kabut duka, air mata itu telah mengering. Saribanon perlahan berhasil berdamai dengan takdir. Ia merengkuh kepergian sang ayah menjadi sebuah pijakan untuk melangkah maju, mempersembahkan dedikasi terbaiknya dalam versi dirinya sendiri.
Senin depan adalah hari sidang skripsinya. Tanpa kehadiran fisik Awing, momen itu mungkin mendebarkan, tapi Saribanon menganggap sidangnya hanya satu dari rangkaian fase yang harus ia lalui, satu dari sekian kewajibannya menjadi manusia yang bertanggung jawab. Ia melangkah ke bengkel seni, duduk di kursi yang dulu biasa diduduki bapaknya, lalu mengamati mesin tua itu dengan saksama. Mesin yang tak pernah ia izinkan untuk dipindah ke gudang.
Pandangannya tertuju ke arah logam mengkilap, di tengah penampang kayu kokoh bermerek Singer Treadle Sewing Machine. Saribanon mengelus kayunya perlahan, ada jejak tangan keriput sang bapak di sana. Ia yang menghabiskan ribuan jam, memicingkan mata di balik kacamata bulan sabitnya, sambil memasukkan benang dan menggunting pola. Beragam karya apik Awing dihasilkannya dari gerak mesin bandel itu, dalam ayunan pedalnya yang kadang berderit kalau tak lekas diminyaki. Saribanon hafal betul dengan dengung mesinnya kala menyala, disertai genjotan pedal yang kadang membuat Saribanon bertanya-tanya, kenapa bapakku bisa begitu sabar?
Ia memeluk lengannya sendiri, di atas penampang mesin, keningnya menyentuh dudukan kayu. Dengan mata terpejam, Saribanon membayangkan mesin itu melaju sempurna, menggulirkan berlembar-lembar kain melewati relnya yang berbau minyak pelumas. Ia terhenyak ketika seseorang menyentuh bahunya pelan.