Meskipun ini Hari-Hari yang Terasa Hampa

RoomOfCreation
Chapter #19

TRACK #016

Arigatou Mama

Itsumo atakai gohan

Hontou ni hontou ni kanshashiteru yo

Demo ne, Mama

Tama ni moshi tabe kirenakute

Nokoshite mo okuranai de ne


Lagu Thanx Givin’ Day milik Miyavi, didengarkan oleh Al, melalui penyuara telinga yang tersambung ke ponsel W980 miliknya.


Dia saat ini, sedang duduk di kursi penumpang mobil Alphard hitam pekat, keluaran tahun 2005, yang sedang menuju ke arah SMA Djaya Bhakti, dari arah barat. Dan ambil memandang ke arah jalanan, pikirannya tertuju ke kondisi Sarah.


Iya, memang pagi ini, setelah Al mengirim SMS. Sarah menjawab, bahwa hari ini, sudah masuk sekolah, dan keadaan dia sudah baik-baik saja. Cukup membuat lega hati Al, setelah kejadian kejar-kejaran 3 hari yang lalu, dan berakhir Sarah jatuh pingsan.


Dan hari ini, seharusnya dia bisa menjemput Sarah, agar berangkat sekolah bersama.


Rumah Al yang ada di daerah jalan Magelang, memang bisa dibilang memutar, kalau harus menghampiri Sarah yang tinggal di daerah Bintaran.


Al membutuhkan waktu sekitar 18 menit, untuk sampai ke sekolah. Sedangkan untuk ke rumah Sarah dulu, membutuhkan waktu sekitar 20 menit, dan dari rumah Sarah ke sekolah, butuh waktu sekitar 9 menit. Ya, tidak terlalu masalah untuk Al, jika dia harus berangkat sekitar 10 menit lebih pagi. Sehingga dia masih bisa berangkat dengan sahabatnya tersebut.


Akan tetapi, masalah pagi ini bukan karena Pak Wira—supir pribadi keluarga—yang tidak mau mengantar, atau hari ini Al bangun kesiangan, sehingga membuat dia tidak bisa mampir dulu ke rumah Sarah.


Masalah utamanya adalah, seseorang yang sekarang duduk di sebelah Al.


Itu mama Al, yang sedari masuk ke dalam mobil, sibuk mengetik di ponsel E90 miliknya. Entah apa yang sedang dia ketik, tapi jelas Al tahu, kalau itu pasti berhubungan dengan, kerjaan.


Al berdecak ….


Hal yang membuat kesal hatinya, bukan karena masalah tidak bisa menghampiri Sarah, pagi ini. Ya, sudahlah, kalau tidak bisa berangkat bersama. Kan, masih bisa bertemu di sekolah. Apalagi, mereka duduk bersebelahan.


Mamanya sendiri, yang membuat Al kesal selama berangkat sekolah. Sudah bilang, tidak memperbolehkan untuk memutar arah ke rumah Sarah dulu, karena dianggap membuang-buang waktu. Selama dalam perjalanan ke sekolah, Mama selalu saja sibuk dengan pekerjaan.


Buat apa coba, pakai alasan sekalian mengantar Al, karena tempat Mama bertemu rekan bisnisnya melewati sekolah, tetapi selama dalam mobil, sama sekali tidak ada interaksi dengan Al?


Kini Al mendengus, dan merasa ironi dengan lagu yang dia dengarkan tadi. Lagu ini bercerita tentang Miyavi yang berterima kasih ke kedua orang tuanya, karena sudah memberikan hal terbaik dalam hidup.


Bukannya Al tidak berterima kasih.


Dia bisa sekolah di Djaya Bhakti—yang jadi sekolah impian Al—karena orang tuanya mendukung dia masuk ke sana. Walaupun, dia sering bertanya-tanya, dengan kondisi ekonomi di atas rata-rata, Al bisa sekolah di sekolah elit, bukan di sekolah negeri.


Lalu, kembali soal bukannya dia tidak berterima kasih.


Al, jika minta apa saja, baik Papa maupun Mama, bisa membelikan benda tersebut. Seperti Chuck Taylor All-Stars hitam yang sekarang dia pakai.


Al menginginkan sepatu tersebut, setelah menonton film Back to the Future, dan melihat Michael J. Fox yang berperan sebagai Marty McFly memakainya.


Hanya dengan bilang, kalau dia ingin sepatu tersebut sambil menunjukkan foto, keesokan harinya saat Al bangun tidur, sepatu dengan ukuran pas di kaki yang dia mau itu, sudah siap dalam kotak, di depan pintu kamar Al.


Atau saat dirinya masih SMP.


Dia ingin sekali punya jam tangan untuk hadiah ulang tahun, setelah melihat beberapa teman memakai benda tersebut. Papa Al, benar-benar langsung membelikan sebuah Baby-G seri BG-169 warna merah muda, yang kini masih melingkar manis di tangan kanan Al.


Ya, untuk hal yang berhubungan dengan uang, Papa dan Mama sama sekali tidak perhitungan. Bahkan, kadang benda yang tidak Al minta pun, kadang langsung dibelikan oleh mereka. Seperti sepeda Polygon Urbano 5—yang sekarang teronggok manis di garasi rumah, karena tidak pernah dipakai—bisa dimiliki Al, saat mereka makan malam bersama, dia bercerita kalau melihat beberapa temannya, berangkat dan pulang sekolah, menggunakan sepeda.


Dan jangan lupakan soal ponsel Al. Dia mendapatkannya, hanya gara-gara bilang, kalau bosan dengan ponsel W960 miliknya. Padahal Al, baru memakai ponsel tersebut, belum sampai 6 bulan.


Begitulah ….


Segala hal yang berhubungan dengan materi, mereka memang jago. Benda-benda yang dia miliki, terhitung mahal dan tidak umum, untuk anak usianya. Namun, jangan harap soal bagaimana mereka berinteraksi dengan Al.


Sering, Al bertanya-tanya ke diri sendiri, yang jadi orang tuanya itu Papa dan Mama, atau Mbok’e.


Hampir seharian, bahkan di akhir pekan atau libur, Al lebih banyak berinteraksi dengan Mbok’e daripada ke orang tuanya. Lebih terasa Mbok’e yang berperan sebagai orang tua Al, daripada Papa dan Mama.


Bahkan, dia lebih sering curhat tentang masalah dia di sekolah, atau hal-hal baru yang dia pelajari, ke Mbok’e. Orang tua Al, hanya akan bereaksi seperti, ‘oke’, ‘iya, ‘bagus’, saat Al dari sejak masih TK, saat dia menunjukkan apa yang baru saja dia buat. Beda sekali dengan Mbok’e, yang benar-benar memuji dengan tulus, hasil karya Al tersebut.


Terkesan, orang tuanya hanya sekedar formalitas, memuji Al. Itu pula, yang membuat Al jadi malas-malasan untuk belajar. Cukup dapat nilai seadanya, tidak bagus, tidak buruknya.


Lagipula, berprestasi di sekolah, juga tidak akan mendapatkan pujian apa-apa, dari Papa dan Mama. Jadi tidak ada bedanya, Al mau rajin atau tidak.

Lihat selengkapnya