Semua manusia terlahir dengan hati bersih, mereka yang disebut sebagai penjahat pun sama dengan manusia lainnya. Karakter kita terbentuk dari lingkungan dan cara pikir kita menanggapinya. Ada sebuah kalimat terkenal bahwa orang jahat adalah mereka yang dulunya sangat baik lalu dikecewakan. Namun, kalimat lain mengelak, orang yang dulunya baik dan menjadi jahat itu karena muka aslinya baru terlihat. Apapun yang orang katakan, yang perlu kita percayai adalah setiap kebaikan pasti akan menciptakan keajaiban. Jadi teruslah berbuat baik walau kadang kebaikan kita tidak terbalaskan di waktu yang bersamaan, tapi di lain waktu pasti itu tergantikan.
Lagi dan lagi, kenapa semakin berusaha untuk bersikap dewasa makin aku merasa kecewa. Apakah orang lain juga merasakannya?
Aku menangis sampai sesak rasanya, melihat laptopku rusak. Padahal aku sudah berencana malam ini untuk menyelesaikan tugas yang kutunda agar nantinya aku tidak dikejar oleh deadline. Satu masalah ini membuatku teringat masalah-masalah yang pernah kualami, membuatku semakin sedih, betapa menyedihkannya diriku...
Apa kesalahanku, kenapa masalah bertubi-tubi datang. Apakah benar aku memiliki solusinya hingga masalah ini datang kepadaku. Aku saja tidak tahu-menahu tentang perangkat komputer.
Tenang Jia... Ujarku dalam hati. Percayalah masalah memiliki seribu solusi, kamu hanya perlu mencari dari banyaknya solusi.
Aku akan membawa laptop ini ke tempat service, masalah harga bisa dinego. Itu yang harus kupikirkan untuk menenangkan perasaanku yang sedang kacau. Tapi tetap saja pikiran-pikiran yang tidak kuinginkan datang tanpa diundang. Aku menangis semalaman seorang diri di kamar kost yang sempit ini.
Esok harinya, aku memakai bedak dengan sangat tebal terutama dibagian kantong mata. Mataku bengkak sulit menutupinya. Aku akan memakai kaca mata agar tidak terlihat.
Merapihkam kamar membawa laptop, pergilah aku ke tempat service komputer yang lumayan jauh dan harus menaiki angkot untuk sampai disana. Semoga buka, masalahnya hari ini minggu biasanya toko-toko tutup dihari ini.
Astaga! Pikiran buruk ini malah terjadi. Tempat service komputernya tutup. Ke mana lagi aku harus membawa laptop ini untuk diperbaiki. Aku mengelai napas dan mengucap istigfar, memaksakan diri untuk sabar.
Aku mengelilingi toko-toko yang ada disini, berharap ada tempat service komputer yang belum aku ketahui. Sejauhku melangkah, belum juga kutemukan. Hanya harapan yang tersisa bahkan tenaga saja sudah terkuras habis. Siang telah tiba matahari terasa tepat di atas kepalaku. Aku duduk di trotoar, menatapi keramaian yang tidak kusukai ini.
“Neng,” tegur seorang ibu.
“Yang waktu itu kan, yang bantuin Ibu nyari kunci motor?” Lanjutnya.
Aku berusaha mengingat wajah ibu ini dan kejadian yang ibu ini maksudkan. Ingatanku terlalu banyak sampai lama aku mengingatnya.
“Ah... Ibu yang waktu itu pakai kerudung hijau yah? Tanggapku cukup lama.
“Iya neng, seneng deh eneng masih inget,” Ibu itu tersenyum lebar, aku ikut tersenyum sebagai bentuk kesopanan.
“Ibu rumahnya di sekitar sini?” Tanyaku basa-basi.
“Enggak, tadi ibu salah naik angkot kebablasan sampai sini. Ini mau nyari angkot lagi yang ke arah rumah ibu.”
“Oalah....”