"Assalamualaikum Jia," salam Ibu di telepon.
“Waalaikumsalam, ada apa Bu? Tumben telepon pagi-pagi gini,” sautku.
“Jia, ibu mau ngomong.”
Suara ibu terdengar sangat serius dan mengelai napasnya.
“Bapak dan Ibu lagi kesulitan Ji, untuk sementara gak bisa transfer uang dulu. Uang yang ada lagi di prioritasin buat adik dulu, dia lagi ikut Olimpiade sains butuh banyak biaya soalnya dari sekolah dananya belum cair...”
Ibu terus berlanjut berbicara dan disambung oleh Bapak dan inti dari pembicaraannya adalah aku harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhanku sendiri.
Ini bukan tahun resesi, seperti yang pernah terjadi di 2008 menyebabkan harga saham anjlok dan banyak perusahaan mengalami kerugian. Yang terjadi di keluargaku hannyalah masalah ekonomi biasa di suatu keluarga sederhana yang penghasilannya masih di bawah 10 juta per bulannya.
Aku pernah berpikir bagaimana jika angka tidak pernah ditemukan di dunia akankah kaya dan miskin tetap ada. Tapi, setelah kupikir-pikir lagi ketidakadaan angka akan membuat manusia masih berada dalam keterbelakangan, tidak akan ada teknologi dan ilmu pengetahuan karena angka sangat berperan besar dalam hal tersebut.
Sadarlah! Bukan waktunya aku memikirkan itu sekarang yang harus aku lakukan adalah bekerja untuk menghasilkan uang. Sudah terbayang bagaimana sulitnya untuk dicapai, aku yang seorang mahasiswa hanya bisa mengambil kerja part time sedangkan mereka orang-orang diluar sana yang memiliki waktu fulltime yang biasa disebut pengangguran saja kesulitan mencari kerja. Aku berusaha mengatur napas dan berpikiran jernih. Sekarang aku harus kuliah terlebih dahulu berangkat ke kampus dan memikirkan uang sambil beraktivitas seperti biasa.
Aku bertanya kepada teman-temanku, apakah mereka mengetahui informasi tentang lowongan kerja. Dan aku tidak mendapat jawaban yang ku inginkan. Pikiranku benar-benar hanya tertuju dengan uang, tadi saja dikelas aku tidak dapat mengerti apapun yang disampaikan dosen, uang terus terngiang-ngiang di kepalaku.
Keluar gerbang kampus aku memandangi para pedagang jajanan yang memenuhi sepanjang pinggiran jalan, terpikirkan olehku apakah aku berjualan saja. Disisi lain itu hal yang nihil aku terlalu pendiam untuk berjualan dan apa yang harusku jual aku tidak terpikirkan apapun tentang itu.
Seorang pengemis menghampiriku mengulurkan kedua tangannya dan menatapku dengan penuh harap. Aku pun merogoh kantung celana dan ditemukan dua ribu rupiah didalamnya dengan setengah ikhlas aku memberikannya kepada pengemis itu. Iya setengah ikhlas, jujur saja aku tidak menyukai pengemis yang sangat terlihat masih sehat dan tubuhnya bugar seperti yang dihadapkanku ini, bukankah seharusnya dia bekerja bukan malah meminta-minta. Walau begitu tetap saja hati kecilku tak tega dengan tatapan mata pengemis, membuatku memberikan selembar uang yang lumayan berharga itu.