Amara melepas syal krem bercorak kotak ungu-hitam dari lehernya. Bentuk simpul tetap ia pertahankan dengan kedua tangan, biar kain wol sepanjang 200 cm itu leluasa menjerat leher Cliff sebelum jemarinya telanjur menyentuh pagar rumah pasien.
“Akh ... uhk,” seketika Cliff terbatuk, jakunnya terdesak masuk. Persis satu senti lagi sebelum tangannya menyentuh pagar. Ia nyaris terjengkang akibat cekikan syal rekan kerjanya, atau dalam banyak aspek lebih tepat disebut bos … ah, atau sekalian … majikan.
Cliff berjarak dua hasta di depan Amara, niatnya ambil ancang-ancang masuk pekarangan rumah dengan cara melompati pagar perforasi hitam bermotif daun kelor setinggi 2,3 meter itu selayaknya perampok konvensional.
Alhasil, kini Cliff pun hanya bisa memalingkan kepala dengan air muka seperti orang mau buang air. Pertama, karena efek tercekik, tentu saja. Kedua, diselak mendadak di tengah-tengah sedang mengerjakan sesuatu itu terlampau mengagetkan buat jantung maupun otak. Ketiga, ekspresi itu merupakan keniscayaan bilamana punya bos sinting yang diam-diam main cekik kalau kita buat salah.
“Jangan gegabah,” sergah Amara, seraya mengendurkan jerat syalnya dari leher Cliff, “Ingat kata Bu Sari. Harus peka sama jebakan alarm.”
“Alarm apa?”
Amara merespons dengan goyangan mata ke salah satu tiang kanopi dekat teras rumah pasien. Ia melihat sensor PIR, inframerah pasif, alias sensor deteksi radiasi panas tubuh makhluk hidup. Kalau manusia terpergok melintas, sirene anti maling sudah pasti berdengung nyaring.
“Kalau mau aman, kenapa tak pelihara anjing saja?" tambah Cliff.
“Entah. Karena … muslim, mungkin. Kalau dari namanya, sih, terdengar islami, ya,” sahut Amara sembari melangkah maju, ke kanan, ke kiri, mengintip dari sela-sela pagar buat meneliti fasad rumah pasien secara lebih saksama. Tujuannya menyelisik sistem keamanan lain, seperti melakukan verifikasi apakah pagar dialiri listrik, juga bagaimana jenis CCTV yang dipakai.
Setelah memastikan kalau tidak ada pagar listrik dan kamera pengawas hanya versi standar yang fungsinya sekadar merekam kejadian, Amara menyeringai. Lega. Ada rasa plong dalam hati, sebab PR-nya tinggal melewati sensor PIR dan ia sudah mafhum betul strategi mengatasi rumah dengan sistem pemicu alarm semacam itu.
Caranya sederhana, hanya dengan mengaktifkan energi kebatinan dengan suhu tertentu ke seluruh tubuh. Dijamin sirine tak akan meraung-raung, karena dalam balutan energi kebatinan, suhu badan sebagai makhluk hidup akan tertutup sepenuhnya. Sensor kamera PIR pun seakan-akan hanya menangkap benda transparan, macam plastik bening melintas halaman karena tertiup angin.
Beda cerita kalau sensor itu sudah semakin pintar, ya, misalnya sudah dilengkapi akal imitasi (AI). Ia pasti bisa berpikir: tas kresek bening kok gede amat? Memang ada bungkus kulkas bisa terbang-terbang sendiri? Menuju ke dalam rumah pula? Mencurigakan! Alarm!
Tapi tenang, kemungkinan kecil ada AI dengan pemelajaran mesin secanggih itu sekadar buat jaga rumah.
Lantas, Amara pun mulai berkonsentrasi, komat-kamit merapal mantra, dan seketika itu juga aura berwarna fusia menjalar dari perut, badan, kepala, tangan, sampai ke ujung kaki. Selepas itu ia mengelih rekan kerjanya—sebutan terhalus yang ia sering ucapkan buat memanggil Cliff, di samping karyawan atau pegawai, padahal aslinya lebih mengarah ke budak, jongos, pelayan—sembari memberi kode gerakan kepala melirik kakinya sendiri.
Cliff sang asisten setia sudah peka dengan kode-kode semacam itu. Tanpa basa-basi ia pun berjongkok agar Amara bisa menjejak pundaknya buat melompat pagar.
Hap. Sampailah Amara ke seberang pagar secara akrobatis, segala pakai pendaratan rol depan ala atlet parkur.
“Voila!” ungkapnya setelah kembali berdiri, sambil menyibakkan sisi rambut hitam-lurusnya yang sepanjang bahu itu ke bagian belakang. Bergaya. Penuh percaya diri. Semringah telah berhasil melompat dengan cantik bak pesenam olimpiade gimnastik, “Keren, enggak?”
Cliff memberikan satu jempol dengan muka datar, dan dengan polosnya justru membuka topik perdebatan baru, “Aku bingung dengan pasien kali ini. Kalau benar muslim, mana mungkin dia berzina hampir tiap hari?” timpalnya, sama sekali tak mengindahkan keceriaan bosnya di seberang yang jelas-jelas minta dipuji.
Ternyata dalam konteks menyenangkan hati wanita, Cliff tidak sepeka itu.