Mewujud: Sebuah Roman Horor

Aziz Rahardyan
Chapter #2

Bab 2: Kekuatan Penuh

Amara dan Cliff tanpa basa-basi menuju gerbang pintu samping rumah Karim yang menjadi penghubung antara fasad depan dengan suatu lorong terang. Pintu laser cutting bermotif daun yang senada seperti motif di pagar itu memancarkan cahaya kuning hangat, menyelinap dari lubang-lubang kecilnya.

Apabila mengintip celah-celah gerbang, tersembul keindahan taman vertikal modern begitu rimbun, membentang sampai mentok ke tembok paling belakang. Konsepnya macam ruang terbuka hijau dengan atap kaca void dalam rumah gaya tropis modern.

Tak heran kalau lorong selebar 2 meter itu terlampau terang dari depan rumah, bahkan dari kejauhan, sebab sepanjang taman ada berjibun lampu sorot di sana-sini, LED setrip fleksibel yang melilit di setiap batang-batang pohon, bahkan lampu tanam terang pada bebatuan di kiri-kanan akses jalan, sampai-sampai terkesan mirip landasan pacu.

Semakin dekat pintu, kian terlihat jelas pula kemegahan halaman belakang Karim yang terhubung langsung dari lorong. Sepanjang tembok belakang ada kolam ikan dengan ornamen dinding kaya batu alam dan tanaman hias terkonsep. Dari sana pula sayup-sayup terdengar gemericik air terjun mini, beserta suara kecipak air khas yang ditimbulkan ikan koi kala iseng menyambar sesuatu di permukaan.

Jadi kalau semuanya lancar-jaya sesuai rencana, Amara dan Cliff berencana masuk melalui pintu kaca geser di depan kolam itu. 

Tapi sebelum sampai ke sana, keduanya perlu membuka dulu gerbang lorong kalau-kalau terkunci, dan lebih sial lagi kalau ternyata digembok.

Amara sempat merengut ketika menoleh ke arah Cliff. Tandanya dongkol karena pintu gerbang itu terkunci. Tapi sekitar lima detik kemudian ia mengintip-intip dan menyelidik gagang gerbang bagian dalam, ekspresinya berbalik 180 derajat, kali ini ia menoleh dengan anggukan cepat dibarengi air muka optimistis. Tandanya senang tak ada gembok terpasang. 

Sisi lain, Cliff balas mematung saja dengan ekspresi kosong. 

Pria itu sudah terbiasa dengan perangai bosnya sehari-hari. Harus maklum kalau-kalau Amara bisa sedikit-sedikit sebal, tiba-tiba senang, atau seketika terlihat emosi tanpa ada juntrungannya. Memang sudah tabiatnya kelewat ekspresif. Tak punya bakat menyembunyikan isi hati. Padahal, sebagai Pemburu Anomali profesional yang sudah bolak-balik membongkar pintu rumah orang dengan kekuatan supranatural, Amara secara natural pun sebenarnya sudah paham sendiri apa yang harus dilakukan.

Benar saja, tanpa basa-basi Amara meregangkan sendi-sendi lehernya sampai berbunyi krekkrek, membebaskan rambut-rambutnya yang terimpit syal di leher, lantas memulai aksi dengan cara memilin dua-tiga helai rumbai wol pada ujung syalnya sampai terlihat gemuk dan kaku. Setelah komat-kamit dan berkonsentrasi, rumbai-rumbai itu pun menyala terang karena tersalurkan energi berwarna fusia dari tubuhnya.

Rumbai wol gemuk itu Amara dekatkan ke lubang kunci, dan percaya tak percaya, sim salabim adakadabra, rumbai-rumbai itu seketika melesat masuk dengan sendirinya sampai begitu dalam, secara otomatis memenuhi ruang-ruang sempit silinder kunci, dan seakan bisa menyesuaikan diri sendiri sebagai pasangan anak kunci yang dibutuhkan. 

Amara tinggal mengira-ngira sudah seberapa apik rumbai wol dari syalnya itu menjelma wujud anak kunci padat, dan begitu dirasa cukup, tanpa memutar pergelangan dengan tenaga pun rumah kunci itu sudah berada dalam kendalinya. 

Ceklek. Pintu terbuka. 

“Voila! Memang sakti aku ini,” gumamnya pelan dengan sudut bibir terangkat. Seperti biasa, bangga betul dengan setiap kemenangan-kemenangan subtil buat kepuasan diri sendiri.

Amara menoleh, memiringkan kepalanya cepat, tanda aba-aba agar Cliff segera mengikuti langkahnya.

Seperti biasa, rekan kerjanya itu peka seraya lanjut melangkah tanpa banyak cincong.

Tembok sisi kanan lorong punya empat jendela jumbo. Semuanya tertutup dan tampak remang karena cahaya minim dalam rumah. Tapi Amara dan Cliff sudah paham betul semua jendela itu terhubung ke ruangan apa saja. Maklum, Pemburu Anomali profesional harus mempelajari denah rumah pasien dalam setiap merencanakan aksi. 

Jendela pertama, kedua, dan ketiga di lorong itu terhubung dengan ruang tamu rumah, sementara jendela keempat merupakan ventilasi utama dapur. Amara dan Cliff melewati jendela-jendela itu dengan aura kebatinan penuh di sekujur tubuh. Langkah mereka setengah berlari, tapi diusahakan tetap senyap. Tentu saja, apa gunanya berhasil mengakali jebakan alarm, kalau ketahuan hanya karena tak mampu menyembunyikan suara jejak kaki?

Keduanya fokus menuju pintu kaca halaman belakang secepat mungkin. Namun, secara natural, sudut mata kanan mereka bisa merasakan keberadaan sesuatu di balik jendela.

Ada sofa-sofa dan meja kaca jumbo di balik jendela pertama;

Lemari serbaguna yang mengikuti struktur tangga di balik jendela kedua;

Dan … sosok wanita berambut panjang yang mengintip dari jendela ketiga. 

“Cih.” Amara mendengus, sontak menarik syal dari lehernya tatkala melewati jendela dapur.

 Ia beranikan diri melirik ke jendela ketiga—tempat sosok wanita itu mengintip—sekaligus curi-curi situasi ruangan dapur demi mengambil langkah kuda-kuda tepat kalau-kalau harus berhadapan satu lawan satu.

 Sayangnya, sosok itu sudah hilang.

 Bertumpu pada kaki kanan, ia melompat setinggi mungkin buat menghadapi apapun yang menunggu di ujung taman. Siapa tahu sosok itu sudah menunggu.

 Tarikan kuat pergelangan tangan kanannya itu telah membuat separuh syalnya lurus menyambit udara. Menyebarkan energi kebatinan Amara layaknya api berwarna merah muda ke sekitar titik sambitan. Syukurlah ternyata tak ada apa-apa di ujung lorong dan sekitaran kolam ikan.

 Sementara itu, pemuda berambut coklat gelap gaya comma sealis itu kalem saja terus berlari melewati kepulan asap fusia yang baru saja diciptakan rekan kerjanya. Bahkan, pada saat bersamaan, Cliff membuka ritsleting tas kamera seraya memasukkan tangan kanannya. Klik. Ia mengeluarkan kamera mirrorless dengan lampu kilat eksternal yang dimensinya tak kalah besar dari kamera itu sendiri. 

 Sejurus kemudian, Cliff coba menggeser pintu kaca menuju dapur. Namun, pintu terkunci. Ia pun berhenti sejenak, mengembalikan tas selempang ke punggung. 

 Cliff membuka kunci dengan metode sama persis seperti saat Amara membobol pintu lorong dengan ujung syal. Bedanya, ia memanfaatkan ujung-ujung benang sarung tangan pada jari manis yang memang sudah lebih rombeng ketimbang jemari lain.

 “Kamu lihat? Tadi di sekitar mini bar depan dapur,” ungkap Amara sembari mengembus napas sejauh-jauhnya, coba menenangkan diri.

Lihat selengkapnya