Mewujud: Sebuah Roman Horor

Aziz Rahardyan
Chapter #3

Bab 3: Proses Mewujud (I)

Sabtu, 9 Mei 2026 pukul 02.05 dini hari, kereta api Blambangan Ekspres tiba di Stasiun Semarang Tawang. Tepat waktu sesuai jadwal. 

Sekitar dua meter dari pintu keluar peron, wanita bertampang blasteran Jawa-Belanda menyibak rambut pendek pirangnya ke belakang telinga seraya mengernyit, sementara orang-orang di sampingnya satu per satu mulai meninggalkan area penjemputan. 

Betapa tidak, saat ia menegok jam tangan pintar di pergelangan tangan kiri, angka-angka dalam layar telah menunjukkan pukul 02.20 WIB. Sudah lewat 15 menit. Kereta api pun telah melaju kembali.

Praktis, setelah beberapa menit berbaur bersama para sopir taksi, pengemudi ojek daring, dan para penjemput lain, kini ia nyaris sendirian. Satu per satu sisa penumpang yang baru keluar peron pun mulai ia perhatikan secara lebih saksama. Belum nongol juga wajah Amara, batinnya. 

“Jangan-jangan ketiduran ini anak.”

Ia bicara sendiri sembari merogoh ponsel dari saku dalam jaket bombernya. Bersama ponsel itu tergulung laniar tanda pengenal yang talinya semrawut, perlu diurai dahulu supaya lebih ramping, sebelum dimasukkan kembali ke saku lain. Kartu identitas karyawan itu berlogo perusahaan otomotif multinasional, bertuliskan Faye K. Visser, Marketing Communication.

Tak heran, mulai muncul pikiran-pikiran iseng di kepalanya buat menumpahkan kekesalan pada sahabatnya sejak SD itu ketika nanti wajah tengilnya menyembul. Faye berpikir akan coba menyapa Amara dengan ekspresi bahagia, berlagak ingin memeluk, tapi begitu sudah dekat, ia akan mengganti gerakan tangan secepat kilat buat menjitak kepala.

Tapi kemudian ia kaget sekaligus lega setelah menyalakan layar ponsel, sebab 5 menit lalu ternyata ada pesan singkat dari Amara: Non, udah sampai Tawang nih!

Pesan itu membuatnya mantap menanti lebih lama, tapi juga membuat tubuhnya secara refleks merasa harus lebih mendekat ke pagar area penjemputan. Ada rasa khawatir, kenapa Amara lama sekali buat sekadar menyusur peron? 

Beberapa detik kemudian, pertanyaan dalam kepalanya terjawab secara mengejutkan: Amara muncul dari sudut tembok peron dengan sekujur badan penuh perban.

“Noniiiii!” sapa Amara macam anak kecil yang kegirangan bertemu kakek-neneknya.

Wanita berkulit sawo matang dengan kombinasi kontras yang unik antara bentuk pipi imut dengan rupa mata beringas itu berjalan begitu pelan menuju gerbang, terpincang, bahkan harus dipapah seorang pria dengan jaket, masker, dan topi bisbol serba hitam.

“Astaghfirullah. Habis ngapain lu, mbok? Sampai babak belur gitu, mbok,” celetuk Faye seraya mendekat ke gerbang, lantas mempertegas gestur ingin menghampiri sahabatnya yang tampak kesakitan itu pada satpam penjaga. 

 Satpam memperbolehkannya masuk berkat sikap tanggap dalam balutan air muka memelas, dua tangan merapat di depan dada, ditambah sepenggal kalimat penegasan situasi kegawatan yang tepat sasaran. Cekatan, efektif, komunikatif. Wanita yang kalau dari jauh akan selalu dikira bule itu memang punya kemampuan melunakkan manusia dengan karismanya.

 “Non! Jancok! Tambah cantik aja elu!” 

 Tak disangka, Amara justru tampak seperti tak kesakitan sama sekali. Senyumnya lebar, dan masih begitu riang meski kakinya pincang, meski tampilannya cukup berantakan. Luaran baju longgar putih tipis merosot dari bahu, memamerkan singlet gim warna krem yang langsung berkelindan dengan syal di lehernya, menjadi aksesoris yang begitu mencolok, karena tergulung berantakan untuk sekadar menggantung, sementara jaket di tangan kanan pun dijinjing sembarangan sampai hampir menyentuh lantai peron stasiun. 

Faye heran, sebal, tapi sekaligus lega, karena sepengetahuannya memang begitulah karakter sahabatnya sejak dulu.

“Bentukan macam mumi pun masih bisa cengar-cengir lu, mbok, mbok.”

Amara hanya tersenyum, lebih memilih berganti topik pembicaraan demi mempertahankan keluwesan berbasa-basi, “Semarang udah malam tetap gerah banget, bangke.” Sindirnya sambil menyerahkan jaket pada Faye yang telah begitu luwes merapikan syalnya seraya membantu memapah.

“Memang. Tapi lu kegerahan karena perban lu yang sebadan-badan ini juga, kali. Kok iso, lho?” balasnya, mulai mengeluarkan logat medok campuran dengan penekanan huruf ‘g’ dan ‘h’ tebal khas Jawa Semarangan.

“Biasa. Efek malam Jumat Kliwon. Elu kan pernah lihat yang lebih parah.”

“Cah gendeng!” timpal Faye cepat, lantas keluar gerbang peron dengan tak lupa mengangguk pada satpam, berterima kasih karena baik sekali telah memperbolehkannya masuk.

“Biasa. Sekalian tes ilmu baru. Hehe,” kilahnya.

“Cah pekok!”

“Ah, sok banget elu Non, udah enggak mau tahu dunia beginian lagi. Minimal upgrade rajah lah, Non. Punya elu dari TK sampai sekarang masih begitu-begitu aja,” sindir Amara.

“Buat apa, sih, mbok. Lagipula udah enggak relevan sama hidup gue.”

Karena jawaban Faye itu, entah kenapa situasi mendadak hening bagi ketiganya.

Masuk ke halaman parkiran Semarang Tawang, Faye masih memapah sisi kanan sahabatnya dengan fokus penuh. Menatap depan, kiri, kanan, mengabarkan Amara setiap ada tangga dan jalan bergelombang, juga memberikan penanda buat setiap mobil yang mau keluar kawasan. Tujuannya mencari rute tercepat, sekaligus mengantisipasi setiap potensi bahaya, agar laju sahabatnya itu secepat mungkin sampai mobilnya. Efektif, solutif, berorientasi hasil, walaupun beberapa kali Amara sempat protes karena langkah kakinya kelewat cepat buat diikuti orang pincang.

“Bawel banget lu. Maksud gue, kalau cepat sampai mobil, lu juga jadi enak bisa selonjoran,” sergah Faye.

“Ya, iya, ah, elu juga bawel, anjir.” 

“Dasar nenek-nenek!”

“Dasar dukun cilik!”

Faye terdiam, agaknya kena juga dengan frasa cemoohan itu. Tak heran, kata dukun cilik seketika membangkitkan rasa malu dan merangsang sekelebat ingatan masa lalu yang telah lama coba ia lupakan.

Karena itulah, Faye hanya bisa menanggapi singkat dengan sebuah umpatan andalannya, “Berak!”

Haha. Dukun cilik. Anjir, nostalgia banget, ya.”

“Diam kau embok-embok sarap. Udah lupa gue soal semua itu.”

Mendengar tanggapan sahabatnya yang menyala dan mengarah semakin kocak, Amara justru ingin terus menggoda.

“Mana bisa lupa. Faye Kusumawardhani Visser, bakat Pemburu Anomali paling alami seantero Region IX. Keturunan pendiri pasukan khusus, calon pembasmi setan-setan skala global. Anjay. Haha,” cibirnya.

“Berak. Udah ilang lama ... masuk, masuk, masuk, ah,” kata Faye perlahan melepas tumpuan tangan sahabatnya itu seraya mempersilakan sahabatnya memasuki mobil SUV putih berpelat H.

“Melekat dalam darah tahu, Non. Cukup sekali latihan lagi, sebentar aja, pasti langsung jago lagi elu, dah. Bener, dah.”

“Buat apa sih, mbok? Dunia bergerak. Lu masih aja gaul sama para tetua.”

Faye bergerak ke arah kemudi sembari merogoh saku celana, mencari remot dan menekannya mantap tanpa melihat. Klek. Sein mobil berkedip bersamaan suara terbukanya kunci sentral kendaraan, dan … entah kenapa situasi mendadak hening lagi.

Adapun, Amara berhati-hati masuk dari pintu belakang sebelah kiri, hanya dibantu oleh Cliff. Namun, entah kenapa air mukanya 180 derajat berbalik: tadinya sangat cerah menjadi begitu lesu.

“Kenapa setiap kita ketemu pasti begini, ya, Non?” goda Amara lagi, tapi kali ini nadanya terdengar melandai. Mungkin dalam hati kecilnya memang ada maksud menanyakan hal tersebut.

“Lu yang mancing-mancing, ya. Dasar nenek-nenek! Udah, masuk mobil. Hati-hati,” jawab Faye.

Pada kursi kiri belakang mobil, Amara sedikit tertatih saat menyelonjorkan kaki sebelum menemukan posisi bersandar yang paling nyaman, “Aaah. Enaknya … eh, btw, kosanmu udah selesai dandan-dandan, Non? Jadinya campur atau tetap cewek?”

“Gak. Tetep cewek. Tapi jadinya aku chip-in di sebuah kosan cowok punya teman. Cukup dekat. Jadi tujuan diversifikasi pasarnya tetap jalan.”

Oww. Berarti di kos baru itu yang katamu ada kamar kosong? Karyawanku tidurnya di situ, dong?”

“Iya. Di sana. Masa tidur sama kita.” 

“Aih. Terima kasih sekali. Terbaik memang Noniku ini.”

Selama percakapan antara kedua sahabat lama itu, Cliff masih di luar buritan mobil, menunggu pintu bagasi terbuka. Begitu Faye menekan tuas pembuka bagasi, pria yang sedari tadi tampak menjaga diri agar tak bersuara itu menaruh dua tas ransel padat yang sejak tadi tampak enteng saja dijinjingnya di pundak kiri sekaligus.

Sisi lain, bersamaan dengan terbukanya pintu bagasi mobil, Faye jadi bisa memerhatikan pria bermasker yang sejak tadi terus membisu itu dari spion tengah. Menyelidik. Coba menemukan suatu kejanggalan.

Lihat selengkapnya