Mewujud: Sebuah Roman Horor

Aziz Rahardyan
Chapter #4

Bab 4: Proses Mewujud (II)

Cliff khusyuk berkeliling setiap sudut kos dalam rangka investigasi lanjutan, saat Amara dan Faye masih bergantian mandi selepas menunaikan aktivitas wajib di akhir pekan—tidur siang sampai mentari nyaris tenggelam. Lelaki yang sehari-harinya mengenakan masker hitam, parka biru tua, sarung tangan, celana panjang gelap, dan sepatu badminton merek lokal warna dongker itu juga masih mengumpulkan informasi dengan mewawancarai setiap penghuni dan warga sekitar.

Apapun yang Cliff temukan, seketika akan ia laporkan kepada Bu Bos via pesan singkat. Termasuk perkembangan setiap proses pra-penetralan yang membutuhkan upaya-upaya ekstra, seperti bagaimana gambaran denah TKP, nama-nama penghuni dan tetangga sekitar, juga penyebaran wewangian melati ke seantero kawasan.

Tepat selepas pukul 11.00 WIB, Amara bersama si empunya properti akhirnya sampai TKP dengan berjalan kaki. 

Amara tampil modis dengan bot gelap, jin biru klasik, sweter sleveless turtleneck hitam, tak lupa berpadu senjata andalan tersampir di leher, syal krem bercorak kotak ungu-hitam.

Sementara itu, Faye tak kalah gaya lewat jumpsuit biru lengan pendek yang bagian bawahnya mengatung, namun masih pas dengan bentuk badan dan panjang kakinya. 

“Masih bisa sirep kan, Non?” goda Amara selagi Faye membukakan pagar untuknya.

“Dibilangin udah ilang semua. Udah lupa gue begini-begini.” 

Amara sontak menjejak kaki kanannya dengan cukup keras tepat satu langkah sebelum masuk kawasan pagar. Dari sisi kanan dan kiri kaki itu keluar semacam cahaya neon magenta yang menyebar cepat, membentuk persegi seluas kurang-lebih 500 meter. Warna khas energi kebatinan Amara pun memenuhi seluruh kawasan, membentuk terungku persegi tak kasat mata, memagari agar segala keributan yang mungkin terjadi dalam indekos itu tak sampai terlihat orang awam dari luar.

Selain itu, setiap manusia biasa yang berada dalam kawasan cahaya neon Amara dipastikan ketiduran di tempat, sekalipun dalam posisi sulit terlelap, seperti sedang berdiri atau bahkan di tengah-tengah makan mi. Kecuali orang itu sedang punya aktivitas dengan tingkat konsentrasi tinggi, seperti salat, belajar, bekerja, atau memasak, setidaknya dalam lima menit ke depan akan dihinggapi rasa kantuk tak terhindarkan sampai akhirnya memutuskan ingin terpejam sesaat. 

Faye dalam pengecualian sirep Amara kendati sudah bukan orang sakti lagi, sebab ia masih punya cara mengaktifkan energi kebatinan dengan bantuan azimat. Ia secepatnya merogoh saku buat mengambil kalung mantra—sebuah wadah kuningan silinder bertutup yang bisa diisi sesuatu. Begitu memakainya, aura ungu terpancar tipis dari sana, merambat secara lambat sekali ke sekujur badan.

“Ya ampun. Serius, Non? Bahkan sampai lupa cara nyebar energi kebatinan?” sindir Amara.

“Berisik. Gue bilang juga apa, udah bertahun-tahun gue enggah mau sentuh lagi barang-barang beginian,” kilah Faye sembari tampak terus coba berkonsentrasi, memegangi kalungnya erat-erat.

Amara tertawa tengil seraya masuk perlahan menuju bangunan dua lantai bergaya Leter U di lahan 20x30 meter itu—yang kini nuansanya kian temaram akibat tertutup aura berwarna fusia miliknya. Suasana indekos ini pun ibarat baru saja kedatangan petugas fogging eksklusif yang mengasapi satu gedung secara membabi buta, tapi hasil akhirnya bukan demi tewasnya para nyamuk demam berdarah, melainkan sekadar memenuhi kawasan dengan kepulan awan berwarna pink.

Cliff mendekati Amara dari sisi kiri, arah unitnya, titik utama TKP. Sudah siap pula dengan peralatan perang: tas kamera dengan ritsleting terbuka.

Langkah berat kaki Cliff memaksa Faye menolehkan kepala, tepat saat aura ungunya telah sampai pada ujung kaki. Sementara itu, air muka Amara seketika beralih ke mode serius, khas orang pintar ketika mulai mengendus ancaman makhluk astral.

“Kamarnya normal?” tanya Amara pada Cliff. Dibalas gelengan kepala. 

Amara dengan cekatan melangkahkan kakinya buat mengecek kondisi TKP. Fokusnya tertuju pada satu titik: kamar mendiang Yogi yang sesekali menguapkan asap energi warna mulberi matang dari pintunya yang terbuka.

“Terus, apa lagi yang kau temukan?” sambung Faye, ikut bertanya pada pria bermasker di depannya. Agaknya seperti sengaja ingin mendengar suara pria itu. 

Cliff diam saja sembari menunjuk unit nomor 23, salah satu kamar yang berada di lantai dua bagian utara, notabene bisa terlihat jelas dari depan pagar. Dari sana pun muncul asap energi warna mulberi gelap yang merembes dari celah pintu dan jendela.

Sekilas Amara melirik interaksi Faye dan karyawannya. Ia sendiri lebih senang kalau Cliff tetap membisu. Sebab, ia sudah mafhum dengan kemampuan social engineering Faye yang setara penyidik polisi lapangan. Sekali saja kena di hati, bisa-bisa langsung nyaman mengobrol tak henti-henti.

“Kok kamar Mas Kirno?” ungkap Faye kebingungan. Perbincangan mereka pun terhenti seketika.

Amara mulai mengecek setiap sudut kamar korban. Ia berharap masih ada petunjuk tersisa di kamar bernomor 4 itu.

“Jadi barang-barang Yogi habis karena dirampok, Non? Semuanya?” ujarnya mengarah ke Faye, tapi tanpa mengalihkan pandangan dari setiap sudut TKP.

“Enggak juga. Barang-barang berharga aja yang hilang. Sisanya dipilah-pilah sama keluarganya dari Ungaran. Terutama mainan-mainan. Lainnya, ada yang disumbangkan, ada juga yang dibuang.” 

“Terus mas Kirno itu siapa? Teman dekatnya?” 

“Bukan. Orang lama aja di sini. Setahuku mas Kirno ramah dan bisa masuk ke semua orang. Enggak tahu juga, ya, kalau ternyata mereka ada urusan yang belum kelar.” 

Nyatanya setiap sudut kamar bekas mendiang Yogi benar-benar kosong. Amara menghela napas panjang beberapa kali untuk menenangkan diri. Sebab, kondisi aneh itu justru mengindikasikan kondisi gawat. Memaksanya bersiap. Minimal pemanasan ringan.

Ia pun memilih mulai menjentikkan seluruh sendi-sendi jari terlebih dahulu, lantas bahu dan pinggang ... disusul menyengir ngilu. Amara lupa pinggang kiri dan kedua pundaknya sebenarnya masih nyeri. Tapi apa daya, sekalipun sambil teraduh, harus pemanasan supaya siap dengan segala kejutan.

“Kita harus siap-siap. Menurut perkiraanku, anomali ini sudah hampir mewujud penuh.”

Jantung Faye seketika berdegup, menderu. Sudah lama sekali sejak terakhir kali mendengar kalimat semacam itu.

"Kalian berdua mendekat,” pinta Amara pada kedua rekan kerjanya yang masih sabar menunggu di halaman kosan, “kita berdoa dulu sebelum beraksi.” 

Amara secara sigap mengambil posisi pemegang kendali karena Faye tampak benar-benar lupa SOP pertolongan pertama gangguan supranatural. Buktinya, sampai-sampai ada anomali kuat bersarang dalam propertinya sendiri.

“Bagaimanapun, Noni, elu punya kemampuan berburu.” Buka Amara dalam Pep Talk setelah berdoa sembari menatap tajam wajah sahabatnya. “Jadi sekarang aku akan anggap kau sebagai anak magang. Ah, nostalgia banget sumpah ini, Non.”

“Jancok,” umpat Faye pelan, sekadar meredakan emosi, lantas memperhatikan Amara lagi.

Ia peka dengan posisinya. Lagipula ia memang butuh bimbingan, sebab tak pernah menyangka akan melihat anomali lagi setelah sekian lama. 

Macam jenderal strategi tempur, Amara terlebih dahulu menjelaskan situasi, sekaligus coba membangkitkan lagi ingatan sahabatnya tentang tata cara penetralan anomali.

Katanya, setiap emosi manusia, juga gairah, hasrat, nafsu, ketakutan, bahkan sekadar pikiran terpendam terlampau lama, memiliki bulir-bulir energi yang menyebar, menginfeksi, terasakan entitas lain, bahkan tak jarang bisa menular. 

Partikel-partikel residual energi tersebut kerap dimanfaatkan makhluk halus yang biasa disebut hantu, entitas gaib, astral, jin, lelembut, dan lain sebagainya itu sebagai bekal mewujud.

Nantinya, terkhusus energi negatif yang berpotensi menuntun manusia pada keburukan, itulah kemudian yang secara spesifik disebut setan.

“Tebakanku, semua ini kemungkinan ada hubungannya dengan kemalasan ekstrem mendiang Yogi,” tegas Amara.

Menurutnya, aura mulberi gelap dari dua kamar kosan barusan merupakan indikator utama tempat si anomali biasa bersemayam. 

Entah apa yang menjadi pemicu anomali tersebut bisa terus memperkuat perwujudannya ke dunia fisik. Tapi Amara yakin, satu-satunya petunjuk akan mengemuka setelah mereka bisa mengintip isi kamar nomor 23. 

“Izin. Seingatku kamar itu disewa mas Kirno secara khusus sebagai gudang." Faye menimpali dengan gaya khas karyawan magang kepada pembinanya. "Kalau kamar aslinya yang nomor 24.”

Tanpa basa-basi, ayunan kepala Amara pun menjadi kode buat karyawan dan anak magangnya agar secepat mungkin bergerak naik tangga menuju unit nomor 23. Cliff yang memimpin rombongan, sedangkan pemilik kosan justru berlindung di balik punggung Amara macam VIP dalam misi pengawalan.

Sesampainya di muka kamar nomor 23, Cliff membuka kunci dengan begitu mudah, dengan cara seperti biasa. Begitu melihat kondisi dalam ruangan yang penuh dengan televisi dan konsol gim itu, terjawab sudah misteri di balik kemunculan anomali di kosan ini.

Kamar itu hanya punya ruang kosong sekitar satu meter persegi di tengah-tengahnya. 

Sebelah kiri ada kasur kosong penuh tumpukan bermacam jenis stik konsol gim, dihiasi gelas, piring, mangkok, juga sendok-garpu bekas yang berserakan di sekitarnya, bercampur sampah bungkus berbagai jenis makanan ringan menghampar sampai menutup akses lemari hingga merangsek ke dekat pintu masuk. Sebelah kanan ada televisi besar di atas rak setinggi lutut orang dewasa, dengan tiga gawai konsol berbeda yang tersebar begitu saja di atas lantai. Adapun, di sisi utara, sebuah proyek simulator gim balap tampil mencolok karena penuh untaian kabel yang menghubungkan tiga buah layar dengan PC, komponen setir, persneling, dan pedal, serta sengkarut transmisi ke perangkat internet. 

Dari beberapa gawai itulah sumber asap-asap energi mulberi gelap menguap ke mana-mana, termasuk yang merembes sampai ke luar ruangan.

“Kalau begini jadi jelas,” cetus Amara. “Mayoritas barang-barang ini punya almarhum Yogi.” 

Lihat selengkapnya