Mewujud: Sebuah Roman Horor

Aziz Rahardyan
Chapter #5

Bab 5: Nostalgia Para Pemburu (I)

Ponsel Faye berkelap-kelip, menggetarkan bantal tempatnya sekelebat terpejam. Baru sekitar lima menit ia berproses menuju alam mimpi. Malas sekali menerima telepon. 

Terlebih, badannya masih linu-linu selepas berjam-jam ikut berburu anomali tuyul. Ingin rasanya cuek saja sambil lanjut berselonjor, berleyeh-leyeh di kasur empuk sampai benar-benar mengantuk.

Tapi mau bagaimana? Ini sudah kali ketiga ponselnya menyala-nyala dari nomor yang sama.

Ia sempat mengintip saat terjadi panggilan pertama dan kedua. Sayangnya, mata, leher, dan tangannya masih terlalu berat untuk berpindah koordinat, walaupun otaknya secara otomatis sudah menyusun rencana percakapan, potensi topik pembicaraan, bahkan lengkap dengan basa-basi-busuknya buat menanggapi lawan bicara di ujung telepon. 

Itu juga alasan Faye segar seketika saat nomor yang sama muncul kembali di layar ponselnya.

Namun, begitu terbangun, ia coba menahan diri untuk tak langsung menjawab. Ada Amara di kasur bawah. Mengorok memang, tapi tetap harus dipastikan dulu kalau wanita dengan gaya rebah serampangan itu betul-betul pulas.

Siapa tahu Amara tiba-tiba bangun walau sekadar mengigau?

Siapa tahu ia punya kuping sakti yang tetap sensitif dalam kondisi tidur?

Atau siapa tahu saat ini ia memang belum tidur? Cuma akting saja?

Jadi, bagi seorang dengan level kewaspadaan tingkat dewa seperti Faye, demi berjaga-jaga dari hal-hal tak terduga, lebih baik keluar kamar saja. Bisa panjang nanti urusan kalau Amara sampai curi dengar.

Faye pun membulatkan tekad untuk bangkit dari tempat tidur, secara perlahan menggeser badan dengan ponsel bergetar dalam genggaman, mengambil langkah berjinjit, dan akhirnya memutar kenop dengan pelan sekali. 

Ia memutuskan keluar rumah buat duduk-duduk di teras, sebelum menekan tombol hijau dan langsung mengawali percakapan, “Halo Om?”

Ada jeda beberapa detik sebelum suara berat laki-laki separuh baya dalam telepon itu menjawab dengan nuansa sungkan, “Maaf, yah Mbak Yeye … sudah istirahat pasti, yah?”

“Enggak, kok, Om, baru tidur-tiduran aja, sih,” timpal Faye, agaknya berbohong. “Om sehat? Tante sehat?

“Alhamdulillah … Mbak Yeye sehat? Kerjaan lancar?”

“Puji Tuhan, Om. Aman semua.”

Lihat selengkapnya