Gaung tembang populer Rayuan Perempuan Gila besutan Nadin Amizah sayup-sayup terdengar dari mobil SUV putih yang sedang melaju santai menyusuri ruas kiri jalan Tol Semarang-Solo. Terlihat dua wanita di baris depan menyanyi keras-keras. Berkaraoke. Tapi tak ada seksi-seksinya sama sekali.
Sebab, selain karena vokal keduanya cukup fales, wajah mereka babak belur penuh plester dan perban, seperti habis ikut tawuran pelajar. Pipi dan rahang yang harusnya lentur buat mengeluarkan nada tertentu, jadi terlalu kaku buat sekadar bergeser.
Yang terjadi~
Sebelumnya~
Semua orang~
Takut padaku … aduh … aduh … aduh.
Amara spontan meraba bawah lehernya. Sekadar bernyanyi saja tersiksa. Ia lupa habis ada gotri masuk satu-dua senti di sekitar tulang selangka. Baru sadar, ternyata perih juga kalau kepala bergoyang terlalu ekstrem sambil menyanyi.
“Makin mirip nenek-nenek lu, Mbok. Gerak dikit sakit,” goda Faye.
Hampir terjadi perdebatan sengit lagi di antara para wanita bermuka bonyok itu, namun keduanya tiba-tiba bergairah karena dari sisi kiri jalan mulai tampak rambu informasi area mengaso terdekat.
“Eh, ini, nih, yang rest area bagus itu. Jadi kiri?”
“Yosh! Jadi, dong! Akhirnya … makan, makan, makan!” jawab Amara, tak jadi membalas ejekan.
Adapun, Cliff di baris belakang hanya diam saja menatap pemandangan dari jendela. Ia masih konsisten mengenakan masker, sarung tangan, dan parka bertudung, tapi semuanya tampak seperti baru. Berbeda dari kostum semalam.
SUV putih berpelat H itu memperlambat lajunya jelang KM 456, persiapan melipir ke area mengaso megah dengan sky bridge penghubung kedua sisi jalan. Berhubung matahari hari Minggu mulai menjorok ke sisi timur dan genderang di perut sudah semakin nyaring, si pengemudi mobil begitu efektif dalam memilih tempat pemberhentian—alias asal-asalan saja memarkir.
Seturun dari mobil, Amara dan Faye berduaan saja mengelilingi seantero area, bahkan segala ke seberang walaupun notabene diisi tenan mirip-mirip.
Padahal keduanya sudah begitu lapar, tapi masih juga sebingung itu mondar-mandir menentukan tempat. Hampir di setiap langkah mereka pun selalu muncul keributan baru: berdebat memilih jenis makanan, spot pemandangan paling oke, sampai menimbang-nimbang tingkat keenakan tempat duduk buat mengobrol santai melepas penat.
Sementara itu, Cliff hilang sendirian entah ke mana. Terakhir kali terlihat memasuki minimarket.
Ia baru kelihatan lagi saat isi piring dua wanita paling heboh sedunia tadi sudah separuh habis. Itupun dengan tampak sengaja tak mau duduk semeja. Ia merokok sendiri saja di kejauhan. Juga membelakangi posisi Faye.
Itulah kenapa saat Faye bertanya kepada sahabatnya: mana karyawanmu?
Amara tinggal memanyunkan bibir buat menunjuk, “Noh!”
“Enggak diajak makan?”
“Enggak. Biasanya sekepal onigiri juga cukup dia, sih.”
“Masa enggak lapar? Mana belum sarapan juga kita. Lagi lelaku? Makan sekali doing sehari?”