Suatu siang di SMA 1 Saha Loka, September 2019
Tidak semua dukun yang dibantai itu benar-benar dukun santet!
Serupa seperti Tragedi 65. Tidak semuanya benar-benar kader, anggota underbow, simpatisan.
Kondisi kaos di lapangan merupakan buah dari propaganda penguasa!
Seragam putih–abu-abu Amara sampai berantakan, keluar-keluar dari pinggang, sebab ia terus berdiri pada mejanya, dan secara berapi-api mempertahankan argumennya itu di hadapan guru sejarah dan rekan-rekan sekelas.
“Kakek dan nenek saya termasuk salah satu korban propaganda semacam itu, walaupun dalam konteks kasus pembantaian dukun santet. Nah, kembali ke topik, artinya generalisasi Anda bahwa tindakan-tindakan ideologis PKI yang menyebabkan kemarahan publik adalah faktor utama pelecut tragedi … harus saya tegaskan … itu tidak bisa diterima!”
Bahkan, kali ini ia berusaha semakin artikulatif dengan melempar gestur tangan meledak-ledak yang menambah kesan ekspresif. “Anda harus pertimbangkan juga, dong, pecah kondisi kaos itu juga akibat akar rumput sudah dipenuhi fitnah dan misinformasi yang sengaja disebarkan penguasa saat itu!”
“Ya, tapi dengan Anda mengungkap contoh kasus yang personal, sangat mikro, dan terlalu emosional semacam itu, malah semakin memperjelas bahwa Anda sendiri ada bias untuk selalu menyalahkan faktor eksternal,” balas lawan debatnya, siswa laki-laki berkacamata dengan rambut belah tengah yang begitu lurus poninya.
Siswa itu sedang berada pada panggung kecil di depan kelas, meladeni Amara selaku penanggap dengan pembawaan tak kalah berapi-api, “Ingat, Mbak Amara, kita sedang membicarakan penyebab-penyebab konflik horizontal penyebab tragedi. Realitas di lapangan itu beda topik lagi!”
Semangat yang terpancar dari wajah Amara meredup. Argumennya ternyata berbalik jadi senjata makan tuan. Posisinya kian lemah.
Tak heran, ia memang sedang melawan murid terpintar di kelas. Bahkan, bukan hanya cerdas perkara akademis, tapi juga secara politis. Siswa itu bahkan seperti sudah paham sekali dengan marking suatu pertunjukan diskusi. Sebab ia berbicara sambal berjalan-jalan dari tempat awalnya sampai ke depan kursi-kursi barisan depan, begitu lanyah melibatkan segelintir siswa-siswi pintar dengan tatapan persuasif, berharap ada yang setidaknya menganggukkan kepala, berada di sisinya, atau bahkan berdiri membelanya, alih-alih terpengaruh dengan sanggahan Amara dari kursi bagian tengah.
Melihat tabiat licik rekannya, Amara tetap coba lebih tenang melanjutkan poin-poin argumennya, walaupun wajahnya tampak agak memerah. Tak bisa bohong. Tak punya bakat terlihat tenang. Memang sudah wataknya kelewat ekspresif sejak berojol dari kandungan.
“Oh! Jadi Anda menafikan kalau propaganda dari elite bukan bagian dari penyebab? Cuma seperti membonceng saja, begitu? Padahal, sudah banyak sumber yang membuktikan bahwa rezim saat itu memang sengaja bikin beberapa narasi sesat supaya terjadi kaos. Saya bisa bacakan beberapa dari catatan saya kalau Anda berkenan.”
“Oke … betul. Saya tidak menafikan itu, Mbak Amara. Tapi secara umum, logika Anda jadi cacat karena mengandung false dicotomy! Mentang-mentang Anda juga bagian dari keluarga para dukun yang dibantai, bukan berarti Anda bisa serta-merta simpatik betul dengan korban tragedi serupa, padahal konteks penyebab tragedinya pun beda sekali. Justru Anda yang seperti menafikan fakta-fakta lain yang juga ada dicatat sejarah.”
Amara kian meradang, air mukanya semakin kusut, pipinya sampai berkedut selama mendengar argumen teman sekelasnya yang setiap berbicara selalu dibumbui dengan tingkah laku tengil-tengil-cerdik itu.
“Sony Sanjaya, cukup,” potong Bu Dila yang sedari tadi berdiri di sisi mejanya, coba mengendalikan ruang kelas, mengambil peran sebagai penengah, “kamu juga terjebak ke sesat logika nanti kalau terlalu banyak menyerang sisi personal lawan debat. Secara umum, argumen-argumenmu sudah bagus sekali. Jangan mudah terjebak meladeni debat kusir, ya.”
“Siap, Bu. Terima kasih sekali, Bu.”