Mewujud: Sebuah Roman Horor

Aziz Rahardyan
Chapter #9

Bab 9: Nostalgia Para Pemburu (IV)

Kedai Oma, Saha Loka, Jawa Region IX, Mei 2026

“Mau nasi atau mi, Nak … Sakti?” ungkap seorang nenek-nenek bertampang bule tiba-tiba, tanpa sekelebat saja mengalihkan pandangan dari sengkarut lembar-lembar koran lokal di atas meja kedai yang sedang sepi nyenyat.

Sakti—si pria rambut cepak yang mayoritas telah beruban—hanya bisa mengangkat kedua alis, berbarengan dengan kekehan ringan dan gelengan kepala.

"Oma ... Oma. Wah, memang masih sakti Oma ini." 

Wajar kalau Sakti melengung. Pertama, ia merasa belum resmi jadi pengunjung. Kaki-kakinya baru sampai depan pagar. Belum genap memasuki bagian dalam Kedai Oma.

Kedua, sebagaimana wanita tua pada umumnya, harusnya Oma mulai mengalami gangguan daya dengar. Mustahil menyadari keberadaan seseorang hanya dari langkah kaki. Bisa menyebut nama pula!

Lagipula Sakti datang dengan berjalan, tanpa kendaraan dengan bunyi-bunyi spesifik, bahkan belum sampai hati menyapa si empunya lapak dari kejauhan—sebab sedang tampak khusyuk sekali membaca berita.

Ketiga, ini yang paling penting; ia tak habis pikir ternyata masih ada orang yang menyapanya dengan honorifik kelewat janggal buat pria seusianya: Nak. 

"Hee, apa-apaan kata 'masih sakti' itu?" kata Oma menurunkan kacamata hingga terkalung di leher, lantas memicingkan mata ke arah si tamu yang masih mematung saja di depan pagar, "kau mau bilang aku sudah terlalu tua, ha?"

Oma kemudian tersenyum geli sendiri sembari memutar badannya terhadap kursi, mengabaikan koran-koran berantakan di atas meja berikut berita kriminal yang sedang ia baca, sementara Sakti sukses terbahak lebih keras ketimbang sebelumnya.

Sambutan aneh tapi intim itulah yang memaksa Sakti menyegerakan langkah-langkahnya buat menghampiri Oma. Sang Guru Besar. Sesepuh desa. Tetua Pedepokan Saha Loka. 

Mata Oma seketika berkaca-kaca begitu roman wajah hangat salah satu murid kesayangannya itu mendekat, "Sehat, Nak?"

Sepatutnya adab seorang murid kepada Sang Guru, wajib hukumnya bagi Sakti buat cium tangan, cipika-cipiki, sekaligus memeluk sayang, sampai nenek-nenek itu sendiri yang akhirnya melepas dekapan.

Ia pun mendekap nenek-nenek dengan semburat biru di kedua matanya itu selayaknya curahan kasih seorang anak terhadap ibu sendiri. 

Kuciran rambut serba putih Oma yang ujungnya menyentuh belakang paha disisirnya lembut supaya lebih rapi, diiringi respons bernuansa kerinduan dari vokal suara tenor empuk, tepat ke bagian belakang telinga lawan bicara.

"Alhamdulillah. Panjang umur pokoknya buat Oma, yah. Sehat selalu ... segar-bugar ... banyak rezeki ... Tuhan Memberkati."

"Amin," sahut Oma, nyaris menitikkan air mata.

"Lho!" pekik seorang dari balik etalase jajanan, bersamaan dencing sendok-garpu terbanting, disusul munculnya kepala wanita berkucir kuda dengan kacamata bulat-tebal yang menyembul dari bagian dalam meja kasir, "Pakde Sakti! Lho, lho, lho, apa kabar?"

"Alhamdulillah, Tini ... Tini gimana kabar? Sehat lahir-batin?"

"Kabar baik. Puji Tuhan." 

Giliran Tini menghampiri si tamu buat menyalami—ingat, adab murid kepada guru—tapi diselingi selorohan bernada curhat colongan, khas basa-basi nostalgia ketika seorang junior bertemu seniornya. 

"Jasmani sih, oke. Tapi batin ini lho, Pakde. Tambah puyeng aku ngurusi anak-anak zaman now."

Sakti sukses terbahak lebih nyaring lagi ketimbang tawanya beberapa detik lalu.

"Mbok sini melatih lagi toh, Pakde. Eh, mau makan? Minum? Mi dobel seperti biasa?" 

"Wah, terima kasih ... mengopi saja aku, Tin."

"Pakdemu ini sepertinya mau bicara empat mata sama Oma, Tin," sambar Oma sambil mangkus betul meraih tongkatnya yang tersandar di kursi sebelah kanan, namun dengan tetap memperhatikan perangai Tini di sisi kiri, seakan-akan wanita tua itu punya mata di belakang kepala, "nanti kamu antarkan langsung ke dalam, ya." 

"Baik, Oma."

Tini setengah berlari menuju dapur, sementara Oma coba berdiri perlahan dengan bertumpu pada tongkat di tangan kanan.

Sakti pun bergegas mengulurkan kedua tangannya lagi, “Saya bantu, yah, Oma.”

Lihat selengkapnya