Jumat Kliwon dini hari, 8 Mei 2026, pesisir Surabaya, Jawa Region VII
Kendati sekujur badannya ngilu, senyum Amara terkembang hingga kedua telinga. Ekspresi khas wanita setelah terima transferan melimpah.
Tapi senyumnya itu ternyata bukan semata perkara duit pelunasan berjuta-juta menuju rekeningnya: Pemburu Anomali kita baru saja mendapat servis penuh dari Bu Sari beserta para satpam dan segelintir warga kompleks yang masih melek.
Mereka sediakan segala kebutuhan Amara. Mulai dari pembersih luka, obat merah, plester-plester, perban, hingga kopi pahit dan bermacam jajanan. Tak lupa juga diiringi beribu ungkapan terima kasih sejak menyambutnya keluar dari rumah Karim bak pahlawan super selepas menang perang.
"Aman, Bu, Pak ... enggak perlu repot. Sudah biasa kami begini. Hehe," kata Amara berbasa-basi, sesekali sambil tertatih, demi tampil merendah saat merespons perlakuan istimewa para penghuni kompleks.
Padahal tampak jelas roman-romannya semringah betul.
Maklum. Dasar ekspresif. Tak berbakat menyimpan isi hati.
Beriringan dengan keluarnya Amara dan Cliff, kedua perek Karim pun cabut saat itu juga. Maklum, hilang sudah nafsu si empunya rumah buat berpesta.
Karim lemas tak berdaya, mengurung diri dalam kamarnya. Tak heran, siapapun pasti kena mental setelah melihat hal-hal ganjil ... tak masuk akal ... di luar logika ... telah membuat ruang tamunya porak-poranda.
Setelah penetralan anomali rampung, kurang-lebih satu jam Amara mampir dulu ke rumah Bu Sari. Ia perlu mengobati luka, mengopi, haha-hihi sebentar, juga ganti pakaian. Sendirian saja.
Sebab, Cliff memilih merokok pada sebuah bangku sepi di sekitar gerbang, dekat pos satpam. Alasannya menunggu taksi datang.
Aneh.
Tampaknya pria itu tak terluka sedikitpun.
Padahal, parka hitamnya compang-camping tak keruan.
Aneh?!
Selepas itu, Cliff baru jalan ke rumah Bu Sari setelah Si Bos menelepon, minta dijemput.
Paha Amara tertusuk pecahan kaca lumayan dalam, sehingga butuh penyangga buat sekadar jalan kaki ke depan gerbang.
"Kalau bukan Jumat Kliwon ...," sambar Cliff mendadak saat memapah bosnya, "... mungkin kamu enggak bakal sebonyok ini."
Sisi lain, Amara masih saja berdadah-dadah kepada para warga kompleks dan satpam, juga Bu Sari, sebab berbaik hati mengantar tamu sampai ujung jalan dekat gerbang.