Rumah Oma, Saha Loka, Jawa Region IX, Mei 2026
Sakti termenung pada sofa hitam tanpa sandaran di dekat pintu ruang tamu Oma. Notabene tempat duduk paling tak nyaman dalam ruangan 2x3 meter itu.
Senada, Oma dari arah tenggaranya pun diam saja. Wanita tua itu memilih posisi di tengah-tengah bagian terpanjang sofa. Segmen yang punya tiga dudukan.
Oma seperti sengaja menelantarkan tempat duduk eksklusif yang biasa ia gunakan ketika menerima tamu: segmen sofa singgel di bagian utara ruangan, memiliki busa lebih tebal dan empuk, sandaran tinggi, lengkap dengan peristirahatan lengan dan kaki. Pokoknya tempat duduk paling nyaman buat orang tua.
Itu sebenarnya tanda kalau tamu kali ini bukan orang tak dikenal, melainkan sudah seperti keluarga sendiri.
Memang, Sakti termasuk jenis tamu "ordal". Tamu yang pasti dibukakan pintu, kapan pun ia datang. Tamu yang akan dirindukan kalau sudah lama tak mampir bersilaturahmi. Tamu yang boleh duduk berdampingan dengan Oma. Tamu yang boleh secara intim berinteraksi dekat-dekat Oma.
Tetapi si tamu ini tampaknya wawas diri: jangan duduk terlalu dekat kalau bakal kena omel.
Praktis, ruang tamu yang telah dikelilingi dinding es tipis—perwujudan energi kebatinan Oma—itu selama beberapa menit hanya dihiasi bunyi-bunyi dengus napas keduanya.
Wajah Sakti begitu pucat. Tangannya mengepal. Badannya sedikit menggigil. Setiap embus napasnya mengeluarkan asap putih, sewajarnya manusia dalam hawa sekitaran 10 derajat Celcius.
Tapi Sakti bukan hanya kedinginan.
Tampaknya ia juga sedikit ... takut.
Dug. Oma memainkan tongkatnya terhadap lantai. Semacam iseng mengangkat-lepas sebilah kayu itu dengan ritme tertentu, sampai berbunyi: dug ... dug ... dug.
Sakti mafhum betul kalau itu pertanda Oma sedang menunggu ditanya terlebih dahulu.
Tapi apa daya, lidahnya telanjur kelu.
Bukan karena dingin, bukan karena malu, melainkan karena ada setumpuk koran lawas berserakan di atas meja, dan tampak jelas lembaran teratasnya memuat judul:
5 WNI Jadi Korban Tragedi KON Air
Tajuk itu sukses membuat pikiran Sakti tak jenak fokus. Melayang ke mana-mana. Merayapi kemungkinan-kemungkinan. Mempertanyakan nasibnya ke depan.
Batinnya, memang Beliau ini bukan sembarang beliau. Tahu saja rahasia orang. Masih sakti mandraguna rupanya.
Gambaran kepala Sakti yang kusut itu juga dihiasi dialog-dialog terhadap sisi lain pikirannya, macam aktor teater latihan sendirian tanpa punya lawan bicara.
Misalnya, ia bertanya kepada diri sendiri, apakah Beliau sengaja memamerkan berita yang erat berhubungan dengan “arah pembicaraan” itu sejak lama?
Ah … kemungkian sengaja. Ingat! Beliau bukan sembarang beliau!
Berarti Beliau sudah tahu?
Kemungkinan tahu. Namanya juga Guru Besar. Sakti mandraguna.
Sejak kapan ia tahu?
Entahlah. Mungkin sudah lama.
Apa kira-kira tanggapan Beliau tentang pendapatmu? Dan tentang tindakan-tindakanmu yang terhitung "pembiaran" itu?
Entah. Tapi ... yah ... Beliau pasti mau mendengarkan. Ia bukan tipe yang suka menghakimi.
Lantas, apa kira-kira pendapat Beliau menyoal kondisi Amara?
Yah ... itu ... ya, coba kita pikirkan nanti.
Apakah para tetua akan memberikan hukuman? Apa Beliau juga tega memberikan hukuman? Apa kira-kira hukuman buat Amara?
Ah ... yah, itu ... sial.
Sial.
Siaaal!
SIAAAALL!!!
Sakti terus saja berdebat dengan isi kepalanya sendiri sambil sesekali melirik berita dalam lembaran koran yang—seperti sengaja diatur sedemikian rupa—terpampang jelas mengarah ke hadapannya itu.
Kira-kira begini isi teras berita tersebut:
Kementerian Perhubungan memastikan terdapat lima Warga Negara Indonesia (WNI) dalam manifes pesawat KON Air menuju Kanada yang tertembak jatuh oleh serangan kelompok teroris Downstream Militia di Laut Pasifik, Senin (16/10/23).
Dug.
Hening.
Dug ... dug.
Masih hening.
Suara tarikan napas berat Sakti mulai memenuhi seisi ruangan, beriringan dengan ketuk permainan tongkat Oma.
Dug.
Senyap.
Dug, dug … dug.
Tetap senyap.
Pada akhirnya, setelah beberapa menit kesunyian seperti di tengah-tengah kuburan, Sakti memberanikan diri memulai pembicaraan, bersamaan tangan Oma kembali mengangkat tongkat untuk ke sekian kalinya, tepat sebelum dilepaskan ke lantai.
"Oma rupanya masih bisa mengenali energiku ... dari jauh?"
Dug. "Kau selalu disapa setiap pepohonan dan diberi perlindungan oleh seluruh tanaman. Tentu mudah sekali melacakmu, Sakti."
Si tamu rupanya jadi sedikit lega karena Beliau belum menunjukkan tanda-tanda akan muntab. Ia pun coba lebih berani menegakkan kepala buat melanjutkan obrolan secara lebih luwes, sambil melihat kedua mata Oma.
"Ah, jadi Oma masih bisa melacak rupa-rupa energi kebatinan di seluruh Pulau Jawa?"
Dug. "Tidak juga. Jawa sudah terlalu luas untuk sisa-sisa energiku. Ada benarnya kalau kau bilang aku tak sesakti dulu," jawab Oma sambil menatap ujung tongkat yang sedari tadi ia main-mainkan.
"Oma tak perlu merendah. Aku yakin ... Oma setidaknya masih bisa melacak energi orang-orang terdekat. Yeye, misalnya?"
Dug. "Hee. Cucuku itu ... sudah lama sekali tak mengeluarkan energi kebatinan."
Tiba-tiba Oma tersenyum.
Dug. "Kecuali baru-baru ini."
"Ya. Aku tahu. Baru-baru ini ia beraksi lagi."
Dug. "Gumpalan awan mendung. Badai petir. Angin ribut. Wujud residual energi buyut-buyut kami. Para nelayan penerjang badai di tiga samudra berbeda ...," lanjut Oma, kemudian mengambil jeda napas dalam simpul senyum.
Oma bahkan sempat menoleh terlebih dahulu untuk memamerkan wajah semringahnya pada Sakti sebelum menuntaskan kalimatnya.