Middlemist White

Azuma.H
Chapter #3

Bagaimana dengan Festival?

“Mea, bisa bantu Mama memasukkan karbondioksida ke dalam oven? Ada sesuatu di atap, cahaya matahari tidak masuk ke rumah kita, ovennya jadi tidak bisa menyala. Mama harus menyampaikan ini kepada petugas,” ucap Mama kepada Mea yang baru saja selesai sarapan.

“Biar aku saja Ma, yang memanggil petugas,” sahut Mea bersemangat.

“Tidak, tidak. Kamu tetap di rumah. Mama tidak mau terjadi sesuatu lagi seperti waktu itu,” Mama melepas celemek, mengingatkan Mea kejadian beberapa minggu lalu.

Pagi itu, Mama meminta Mea memanggil petugas untuk memperbaiki jendela bawah yang macet. Tak lama kemudian, seorang petugas datang. Tapi Mea tidak kunjung kembali. Mama mencari Mea ke seluruh distrik hanya untuk menemukan dia tertidur di perpustakaan.

“Ma, ayolah, itu sebulan yang lalu, dan itu karena aku mampir ke perpustakaan.” Mea mulai memasukkan karbondioksida ke dalam oven.

“Oh, mampir. Bisa ingatkan Mama berapa lama kamu di sana? Sepertinya Mama lupa.” Mama melipat tangan, pura-pura berpikir.

“Kurasa ... sekitar ... sepuluh jam,” ujarnya pelan.

Mama mencondongkan telinga, pura-pura tidak dengar, berapa?

“Kurasa sekitar sepuluh jam.” Mea mengulangnya dengan suara normal.

“Benar, sepuluh jam Mea. Kamu tahu betapa paniknya Mama? Mama pikir kamu diculik.” Mama memegang tangan Mea, membuatnya pekerjaannya terhenti sejenak. Mea ingin menjawab, mana ada penculikan di kerajaan ini, itu hanya cerita kerajaan tetangga, tapi dia hanya diam, balas menatap Mama.

“Baiklah, Mama harus memanggil petugas,” ucap Mama tiba-tiba, melepaskan pegangannya, berpesan jangan lupa selesaikan pekerjaanmu dan pergi.

Mea menghela napas, melihat dinding atas dan bawah yang penuh dengan oven. Baiklah, ayo bekerja. Memasukkan karbondioksida ke oven bukan tugas rumit, tapi tetap membutuhkan banyak waktu. Tak lama kemudian, tugasnya selesai. Tapi karena Mama belum datang, dia melanjutkan prosedur memasak seperti biasanya. Dia mengisi wadah-wadah air untuk dimasukkan ke dalam oven. Baiklah, pekerjaanku selesai. Mea mengangguk puas, tinggal menunggu atap dibersihkan.

Hm, sepertinya di lorong ribut sekali, pikirnya, sambil berjalan ke arah pintu. Pintu depannya persis di depan lorong. Ah, pengumuman tadi ya, penduduk mulai bubar, membicarakan orang-orang yang muncul di layar. Mea sedikit menyesal tidak bisa melihatnya begitu tahu Raja yang berbicara. Apalagi dia jarang menyaksikan layar itu dibuka, Mama tidak membolehkannya keluar.

“Bagaimana dengan festival?” tanya seorang petugas yang lewat di depan rumah Mea kepada temannya. Dari pakaiannya sepertinya dia petugas xilem.

“Kita masih punya satu kastil, Alex,” jawab temannya.

Lihat selengkapnya