Middlemist White

Azuma.H
Chapter #4

Tiga Agenda Penting

Sudah dua hari sejak serangan Botrytis. Penduduk sudah kembali beraktivitas seperti biasa. Kastil-kastil yang terinfeksi sudah ‘disingkirkan’. Petugas pengendalian kerusakan ‘memotong’ lorong menuju kastil, membuat kastil itu jatuh ke tanah. Semua penduduk hadir menyaksikan, memberikan penghormatan terakhir pada anggota kerajaan yang gugur.

Setelah itu petugas membangun dinding, menutup lorong. Lorong di beberapa distrik batang yang awalnya berujung dengan kastil, kini bertuliskan lorong ini buntu, silakan putar arah. Cepat sekali petugas pengendalian kerusakan menyelesaikan tugasnya.

Lain halnya dengan kastil utama, ada banyak agenda yang harus dilaksanakan. Menyelidiki kembali serangan Botrytis, mencari tempat untuk kastil baru, menyeleksi ulang anggota kerajaan yang layak menjadi calon raja, sepertinya festival harus ditunda, menyeleksi petugas xilem, floem, penjaga dan penduduk dari distrik daun untuk ekspedisi. Belum lagi pencarian tuan putri yang seolah tak berujung.

Benar, kerajaan tidak pernah menyerah soal itu. Selama mayatnya belum ditemukan, berarti tuan putri masih hidup dan pencarian akan terus dilakukan.

Raja berjalan menyusuri lorong menuju aula. Derap langkah kakinya terdengar jelas di lorong kastil. Kemarin, dia sudah menunjuk para panglima untuk menjadi penanggungjawab setiap agenda, meminta mereka membuat tim khusus, kecuali pencarian tuan putri.

Sejak awal, itu khusus ditangani oleh panglima dan penjaga senior yang saat ini tersebar di seluruh distrik. Mereka orang-orang yang tahu, kenal dan pernah melihat tuan putri kecil.

Tiga orang panglima sudah berkumpul ketika Raja memasuki aula, serentak berdiri, memberi hormat. Raja mengangguk, berjalan menuju tempat duduknya. Seharusnya hari ini sudah ada laporan mengenai perkembangan tugas kemarin. Para panglima menunggu Raja duduk, lantas kembali duduk di tempat masing-masing. Raja mempersilakan mereka menyampaikan laporannya. Panglima Zac, penanggungjawab kasus Botrytis, berdiri.

“Sudah bisa dipastikan bahwa kastil memang dirusak, Yang Mulia. Pengawas pembangunan yang saat itu bertugas, bersaksi bahwa pemeriksaan dilakukan dengan sangat ketat. Sama sekali tidak ada celah atau dinding yang berongga. Kami juga sudah meminta keterangan penduduk yang ikut serta dalam pembangunan dan mereka memberikan keterangan yang sama.” Jelas Panglima Zac setelah memberi hormat kepada Raja.

“Kami belum menemukan alat yang digunakan, Yang Mulia. Tapi kami berasumsi pelaku menggunakan pedang, mengingat itu satu-satunya senjata yang dapat digunakan oleh bangsa kita. Sedangkan motifnya, karena sasaran serangannya adalah kastil, besar kemungkinan, dendam kepada anggota kerajaan, Yang Mulia.” Panglima Zac berhenti sejenak.

“Tapi Yang Mulia, saya masih tidak mengerti, kenapa hanya kastil utama yang tidak diserang?” tanyanya, yang sepertinya mewakili dua panglima lain. Terlihat dari raut wajah mereka yang ingin tahu.

Raja diam sejenak, ah, benar, mereka panglima muda, tidak tahu kejadian itu. Raja menghembuskan napas, lantas menceritakan tentang Panglima Haam yang melindunginya dari serangan Botrytis, tentang Stel dan Lee, juga hilangnya Shea. Para panglima terdiam, tapi tampak mereka cukup terkejut mendengar kronologinya.

Lihat selengkapnya