“Lihat, Papa benar kan, dia selalu datang jam segini,” ujar Paman penjaga sambil melirik tempat bayangan itu berada, lantas melanjutkan pekerjaannya. Mea masih diam di tempat.
Dia berbicara dengan orang di depanku? Itu anaknya? Syukurlah, kukira itu hantu. Kenapa dia tidak bersuara sih? Mea menghembuskan napas lega, sedikit bersungut-sungut melihat bayangan di depannya. Dia tidak menyangka ada orang yang datang ke perpustakaan di malam hari selain dirinya. Orang itu berbalik, keluar dari bayang-bayang. Mea mengangkat alis, terkejut.
Tunggu, kalau tidak salah, dia kan petugas floem waktu itu. Jadi dia anaknya paman penjaga. Siapa ya namanya? Aku lupa. Mea menatapnya sambil berpikir. Petugas itu hanya menyahut paman dengan ya,ya, meliriknya sekilas, lantas berjalan ke area baca dan duduk di salah satu kursi.
Mea yang tadinya ingin bertanya apa yang kau lakukan di sini? mengurungkan niatnya. Tentu saja dia kemari untuk membaca. Dia berjalan menuju meja penjaga, ingin bertanya tentang buku yang dia temukan di rumahnya.
“Paman, boleh aku bertanya?” tanyanya. Paman penjaga meletakkan bukunya, bertanya apa?
“Apa di sini ada buku yang di sampulnya hanya tertulis angka?” tanyanya. Paman penjaga berpikir sejenak, lalu mengangguk, itu buku-buku tentang anggota kerajaan. Mea bertanya dimana letaknya.
“Liam, antar nona ini ke rak anggota kerajaan.” Paman penjaga memanggil petugas itu. Oh, iya, namanya Liam, aku baru ingat, pikir Mea. Petugas itu meletakkan bukunya, baiklah. Mea berjalan di belakang Liam. Hening.
“Kenapa kau selalu datang ke perpustakaan di malam hari?” tanya Liam memecah sunyi. Mea diam saja, apa aku harus menjawab itu? Tentu saja karena aku tidak punya waktu selain itu. Liam berhenti, menunjuk rak di sebelah kanan, ini dia. Mea mengangguk, terimakasih.
Kenapa dia diam saja? Apa dia memang pendiam? Atau dia sombong? Yah, dia pasti punya alasan sendiri, pikir Liam. Baru beberapa langkah berjalan, Mea memanggilnya.
“Tunggu, kau tahu dimana buku nomor lima? Tidak ada di sini.” lapor Mea. Liam berbalik.
“Memang tidak ada.” jawabnya. Mea bertanya, kenapa? Liam mengangkat bahu, bilang sejak dia kecil memang tidak ada buku nomor lima di sana.
“Aku pernah menanyakannya pada Papa,” katanya sambil menunjuk paman penjaga, “Dia bilang buku itu dipinjam salah seorang anggota kerajaan. Aku tidak mengerti kenapa sampai sekarang belum dikembalikan. Tapi kurasa aku tahu isinya tentang apa.” Mea bertanya, apa? Liam tidak langsung menjawab. Dia melipat tangan.