Middlemist White

Azuma.H
Chapter #7

Seleksi

“DUAR!” teriak Ian di telinga Liam. Tidak keras, tapi cukup untuk mengagetkan Liam yang sedang termenung di depan posnya. Ian segera menghindar begitu melihat tangan Liam terangkat untuk menjitaknya.

“Apa sih yang kau pikirkan, Liam? Ini masih pagi. Apa jangan-jangan kau memikirkan gadis itu? Siapa namanya? Ah, ya, Mea. Bahkan namanya saja cantik.” Ian pura-pura berpikir, menggoda Liam.

Liam mengibaskan tangan, mengajak mereka segera menuju ke kastil untuk seleksi. Alex yang sudah selesai menutup posnya mengangguk. Mereka memutuskan berjalan kaki. Selain karena pagi adalah jam-jam sibuk elevator, kastil utama juga tidak jauh dari pos mereka.

Sepanjang jalan ke kastil, Ian masih saja menggodanya. Liam memang memikirkan apa yang terjadi tadi malam jadi Ian tidak sepenuhnya salah. Dia kaget sekali ketika melihat Mea berhasil memunculkan tulisan di buku itu. Mea buru-buru menyuruhnya diam, dia juga terlihat bingung.

Untuk sekarang, jangan katakan pada siapapun tentang hal ini, bahkan pada paman. Janji? ujar Mea. Liam berpikir sejenak, baiklah, dengan syarat Mea memberitahunya apa isi buku itu. Mea mengangguk, berjanji akan mengembalikan buku itu malam ini, lantas membawa pulang buku itu diam-diam.

Itu hanya berarti dua hal kan? Dia penulisnya atau dia adalah tuan putri. Tapi mengingat usia buku itu, tidak mungkin dia penulisnya. Dengan kata lain dia pasti tuan putri. Apa ini alasannya tuan putri tidak pernah terlihat? Karena dia tidak di kastil? Apa dia menyamar menjadi rakyat biasa? Tapi melihat raut wajahnya, sepertinya tidak. Apa selama ini tuan putri menghilang? Apa Raja menyembunyikan kenyataan itu? Tapi kenapa? Kepala Liam dipenuhi berbagai pertanyaan.

Kasihan melihat Ian yang tidak digubris, Alex mengajaknya berbicara tentang seleksi. Ian mengeluh, padahal aku rajin datang ke perpustakaan sejak bertemu Mea. Tapi jangankan dia, aku bahkan tidak menemukan wanita disana. Alex geleng-geleng kepala melihat Ian, bisakah orang ini memikirkan sesuatu selain wanita?

Tak lama kemudian, mereka sampai di depan gerbang kastil. Dua orang penjaga berdiri di masing-masing sisinya yang terbuka lebar, memeriksa dengan seksama orang-orang yang masuk. Mereka bertiga masuk tanpa halangan setelah memperlihatkan identitas masing-masing.

Begitu masuk, tampak orang-orang sudah memenuhi alun-alun. Di tengah alun-alun ada semacam tugu yang tinggi sekali, dengan dasar seperti bola raksasa, menembus lantai tembus pandang di atas mereka. Ekspresi kagum terlihat dari wajah orang-orang. Yah, tidak ada yang pernah melihat bagian dalam kastil selain dari buku. Hanya Ian dan beberapa penjaga yang terlihat biasa saja. Mereka pasti penjaga yang datang di malam penyerangan itu.

Lihat selengkapnya