“Tak bisakah kau duduk, Liam?” ujar Iil, Papa Liam. Dari tadi dia mencoba memahami isi buku yang dibacanya tapi bunyi langkah kaki Liam yang mondar-mandir di depannya membuatnya terganggu. Apalagi dengan kondisi perpustakaan yang lengang.
Liam menurut, membaca buku yang tadi diambilnya. Harusnya dia bertemu Mea malam ini. Tapi ini hampir dini hari. Kemana dia? Kenapa dia belum datang? Apa dia bohong saat bilang akan mengembalikan bukunya malam ini? Tidak, tidak. Penduduk Middlemist White tidak berbohong. Pasti ada sesuatu yang menghalanginya datang, pikirnya.
Liam menutup bukunya, memutuskan pergi, dia harus bekerja beberapa jam lagi. Mungkin dia bisa menanyakan langsung ke Mea pagi ini.
Beberapa jam kemudian dia sudah berada di depan rumah Mea, ragu-ragu mengetuk pintunya yang sedikit terbuka. Mamanya bisa saja mengusirnya kan? Ian masih sempat menggodanya sebelum lari terbirit-birit saat atasannya memanggil. Ah ya, dia sempat menjelaskan alasan dia dipanggil kemarin.
Mereka hanya menanyakan pertanyaan-pertanyaan tidak penting seperti bagaimana bisa kau menjawab soal dengan sempurna? Kujawab, tentu saja karena kerja kerasku belajar di perpustakaan selama beberapa hari. Apa seaneh itu kalau aku bisa menjawab soal dengan benar? Sungutnya yang dijawab anggukan oleh Alex. Oh, aku juga bilang karena aku berdoa sebelum belajar, tambahnya dengan wajah bangga setelah pura-pura mencekik Alex.
Seorang gadis tidak dikenal membuka pintu, bertanya apa ada yang bisa dia bantu. Liam berpikir sejenak, apa ini saudarinya? Lantas bertanya apa Mea ada?
Gadis itu terlihat bingung sebelum akhirnya memanggil orang tuanya, bertanya siapa Mea? Orang tua gadis itu muncul, bapak-bapak dengan postur tinggi dan menyeramkan. Di luar dugaan, ternyata suaranya tidak semenakutkan itu. Kalau mendengar suaranya orang pasti meragukan jenis kelaminnya. Untuk sesaat, Liam bersyukur Ian tidak di sini. Kalau tidak, mungkin dia sudah terbahak-bahak sekarang.
“Dia penghuni sebelumnya ya? Kami tidak tahu kemana mereka pindah. Rumah ini kosong ketika kami tiba. Kami diminta pindah kesini pagi ini juga, tepat saat kami sedang mencari-cari rumah baru.” Jelas bapak itu sambil merangkul anaknya. Liam mengangguk, segera pergi sebelum tawanya keluar.
Liam juga bertanya kepada tetangga Mea. Mereka juga tidak tahu-menahu, menyesalkan Mama Mea yang tidak mengabari kepindahan mereka. Liam sempat kembali ke rumah gadis itu, bertanya apa ada barang yang bukan milik mereka di rumah itu. Gadis itu menggeleng, mereka sedang bersih-bersih saat ini.
Liam menanyakan satu pertanyaan lagi sebelum pergi, siapa petugas yang meminta mereka pindah? Liam terkesiap mendengar jawaban gadis itu, memintanya mengulang kata-katanya, lantas segera pergi setelah mengucapkan terimakasih. Dia bergegas pergi ke pos Ian, sesekali menabrak penduduk yang lewat, lantas buru-buru minta maaf.