Matahari hampir terbenam ketika Panglima Zac berjalan menuju kantornya, melewati barisan petugas distrik akar yang berangsur-angsur pulang. Dia menyapa mereka sekilas, lantas kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sejujurnya dia tidak yakin kalau Ian adalah Lee, anak yang mereka cari. Dia tahu betul Ian tidak berbohong saat menjawab pertanyaan tentang keluarganya.
Apa dia lupa? Itu mungkin saja, mengingat dia masih kecil saat peristiwa itu terjadi. Tidak menutup kemungkinan juga seandainya ibunya menyembunyikan masa lalu mereka untuk membuka lembaran baru.
Saat ini dia tidak bisa memastikan itu, tapi yang jelas mereka harus diawasi. Dia akan meminta bantuan beberapa anggotanya untuk mengawasi mereka. Mungkin dengan begitu mereka bisa mendapatkan bukti bahwa Ian dan ibunya adalah orang yang mereka cari.
Setelah menemui Ian, dia menyempatkan diri mencari petugas yang membuang serpihan pedang itu. Tapi ternyata tidak semudah yang dia bayangkan. Dia menemui perwakilan petugas kebersihan, memperlihatkan serpihan di tangannya, bertanya siapa-kira-kira yang membuang itu di distrik akar. Perwakilan itu menggeleng tidak tahu. Tentu saja tidak ada catatan mengenai benda-benda yang kami buang. Kami hanya membersihkan tanah dari atap rumah dan membuangnya. Memangnya penting siapa yang membuang apa? Toh, semuanya sama saja.
Dia berbelok menuju salah satu lorong yang agak sepi, tempat kantornya berada. Letaknya bersebelahan dengan markas penjaga dan panglima senior. Markas mereka jauh lebih sepi. Mereka lebih memilih berada di luar, menyamar sambil mengawasi. Panglima Zac tidak mengerti kenapa mereka belum menemukan tuan putri setelah semua itu.
Seorang anggotanya sudah berada di sana ketika dia masuk, berdiri mengamati sesuatu di meja. Itu Roa, anggotanya yang dia suruh mengumpulkan serpihan pedang di distrik akar tadi. Roa memberi hormat begitu dia masuk, bilang sudah menyelesaikan tugasnya. Panglima Zac mengangguk, mengalihkan pandangannya ke meja.
"Ah, saya hanya mencoba menyusunnya, tuan. Semoga anda tidak keberatan. Itu memang pedang, tuan. Tapi ada beberapa bagian yang hilang. Saya tidak bisa menemukannya." Jelasnya.
Panglima Zac mengangguk, tak apa, dia memang ingin memintanya untuk menyusunnya tadi. Hanya saja dia lupa karena terburu-buru pergi ke kastil. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan serpihan yang dia ambil tadi, meletakkannya di bagian yang kosong. Masih belum lengkap, setidaknya ada satu bagian yang hilang. Apa mereka bisa berasumsi potongan itu ada pada orang yang membuang ini?
"Apa kita bisa memastikan ini digunakan untuk merusak kastil?" tanyanya sambil memperhatikan pedang itu dengan seksama. Roa mengangguk, ada semacam gel di seluruh permukaan pedang. Gel itu membuat tanah menempel pada serpihan pedang. Biasanya mereka menggunakan gel itu untuk pembangunan.
"Menurutmu, kenapa pelaku menghancurkan pedang ini?" tanyanya lagi. Sebuah nama terukir samar di gagang pedang yang tidak tertutup tanah, Ian. Roa berpikir sejenak, mungkin untuk menyembunyikan identitasnya, tuan. Panglima Zac tiba-tiba teringat sesuatu, bergegas mengambil kertas, menuliskan sebuah nama dan sebaris alamat.