Lengang sejenak. Panglima itu akhirnya mengangguk, walaupun terlihat sedikit bingung. Mereka berjalan menuju elevator, melewati lorong yang kosong. Tidak ada satupun yang berbicara. Masing-masing sibuk dengan pikirannya. Tak lama kemudian, elevator tiba, membawa mereka ke kastil.
Itu pertama kalinya Mea menginjakkan kaki di kastil. Sepi, hanya ada dua orang penjaga di gerbang. Panglima itu sudah meminta mereka agar merahasiakan kedatangan Mea dan mamanya. Kemudian mereka dibawa ke salah satu ruangan di alun-alun. Ruangan itu putih bersih, cukup luas dan uniknya langit-langitnya sangat tinggi, seolah tak berujung. Ada dua kasur di situ. Tapi dia tidak bisa melihat apapun di luar, gelap. Panglima itu meminta mereka beristirahat, bilang akan meminta keterangan mereka besok pagi.
"Tunggu, bisakah aku meminta bantuanmu?" Cegat Mama saat panglima itu hendak keluar. Dia berbalik, apa yang bisa saya bantu?
"Itu ... kami memang akan pindah rumah. Bisakah kau mencarikan penghuni penggantinya?" tanya Mama. Sepertinya Mama mulai mempercayai panglima itu. Dia mengangguk, tentu saja. Mama berterimakasih. Panglima itu mengangguk, membuka pintu dan berjalan keluar, meninggalkan mereka berdua.
"Istirahatlah, Yang Mulia. Setidaknya kita aman disini." Mama menoleh ke arah Mea yang masih memperhatikan ruangan. Mea menatapnya tidak percaya. Kenapa? Karena ini istana? Atau karena tidak ada yang tahu mereka di sana? Mea menghembuskan napas.
"Kapan kau akan memberitahuku yang sebenarnya?" tanyanya. Mama sudah duduk di tepi kasurnya, bersiap tidur.
"Besok. Aku janji akan menjelaskannya besok. Sekarang tidurlah, Yang Mulia." Pintanya. Ia lantas memberi hormat, tidak menunggu respon Mea dan segera berbaring memunggunginya.
Mea duduk tak bergeming di kasurnya. Hei, bagaimana mungkin dia bisa tidur dalam situasi seperti ini. Tidak ada yang jelas. Dia tiba-tiba teringat Liam. Mungkin dia masih menunggunya di perpustakaan.
Di salah satu ruangan di tepi alun-alun, Panglima Zac menghubungi bagian kependudukan, melaporkan kepindahan Mea sekaligus meminta salah seorang petugas mencarikan penghuni pengganti untuk rumah mereka. Dua petugas yang terkantuk-kantuk langsung berdiri hormat ketika dia memperlihatkan identitasnya.
"Maaf, tuan. Ini sudah larut malam. Kami tidak bisa melakukan pengantaran surat sekarang. Semua petugas sedang beristirahat. Tapi kalau anda buru-buru, kami bisa meminta bantuan salah seorang penjaga." Saran salah seorang petugas setelah menemukan penghuni pengganti di layar monitornya. Panglima Zac berpikir sejenak, teringat Mea dan mamanya. Sepertinya mereka sangat terburu-buru. Baiklah. Sementara petugas itu membuat suratnya, petugas lain menghubungi kepala penjaga, meminta salah seorang anggota mereka mengantarkan surat pindah.