Middlemist White

Azuma.H
Chapter #14

Suara

Dia yakin sekali itu suara Haam. Bagaimana mungkin dia tidak mengenali suara suaminya sendiri? Dia berlari ke sumber suara, menoleh kesana-kemari. Tidak ada orang.

“Haam? Kaukah itu?” tanyanya. Hening. Tidak ada jawaban. Apa aku berilusi? Dia masih terisak. Tidak ada gunanya menangis. Lebih baik dia memeriksa lorong tadi, pikirnya. Dia bergegas membuka peta, berlari ke lorong yang benar, sesekali mengecek Shea di gendongannya. Entah kenapa, Shea diam saja. Mungkin dia mengerti Stel sedang kesulitan, tidak mau menambah beban.

Dia menutup mulut ketika sampai di lorong itu. Salah satu jendelanya kotor sekali. Apa tadi Lee di luar? Jendela itu memang cukup untuk keluar masuk anak kecil. Tapi dimana dia sekarang? Yang ada hanya buku yang dia pegang tadi. Kalau Lee meninggalkan lorong dengan berjalan kaki, seharusnya dia meninggalkan jejak. Tapi tak ada bagian lorong yang kotor. Apa seseorang membawanya pergi? Atau Lee kembali ke luar jendela? Dia kembali menangis, merasa sangat bersalah.

Stel mengintip dari jendela yang kotor itu. Gelap. Tiba-tiba sesosok makhluk menghantamkan dirinya ke jendela. Stel terjatuh ke belakang. Dia tidak tahu itu makhluk apa. Makhluk itu menghantam jendela berkali-kali, mengeluarkan suara yang mengerikan. Dia bisa saja melawan makhluk itu sekarang. Tapi dengan Shea di gendongannya, ditambah Lee yang menghilang dan Haam yang belum jelas keberadaannya, dia tidak mau mengambil resiko. Lebih baik kalau dia keluar dari distrik akar, meminta bantuan.

Dia berjalan mundur, mengawasi makhluk itu, lantas segera berlari sebisanya. Belum lama berlari, dia berhenti. Lorong itu bercabang tiga. Dia mengecek peta di tangannya. Apa? Kenapa di tangannya hanya ada buku? Dia terduduk lemas, pasti terjatuh waktu dia melarikan diri dari makhluk itu. Tidak, tidak ada waktu untuk menyesal. Dia bangkit, mencoba mengingat-ingat peta yang dilihatnya tadi dan kemana dia berbelok di persimpangan.

Dia menggeleng, tidak bisa mengingatnya. Lorong di distrik akar ini sangat rumit. Tiba-tiba ada suara di lorong sebelah kiri, seperti suara jendela dipukul. Takut-takut, Stel berjalan ke arah sumber suara. Tidak ada orang di sana. Sejenak dia merinding, tapi dia melihat ada peta tergantung di dinding. Dia buru-buru mengambil peta itu, memeriksa jalan keluar yang ternyata sudah dekat. Dia menghembuskan napas lega, lantas menoleh ke jendela, menyadari suara itu berhenti. Tak mau memikirkan lebih jauh tentang suara itu, dia segera berlalu pergi.

Stel tidak tahu berapa lama dia berada di dalam lorong, tapi distrik akar masih gelap ketika dia keluar. Mau tidak mau, dia harus melanjutkan perjalanan. Dia membawa Shea tanpa meninggalkan pesan apapun. Raja dan Ratu pasti khawatir. Baru setelah itu, dia akan mencari Lee bersama Haam. Semoga Lee baik-baik saja dan Haam sudah kembali ke kastil. Semoga firasatnya itu salah.

Dia berjalan terseok-seok melewati beberapa distrik daun, sampai akhirnya dia tidak sanggup lagi berjalan. Sepertinya masih setengah perjalanan lagi untuk sampai ke kediaman anggota kerajaan. Dia memutuskan beristirahat, duduk di bangku yang disediakan di sepanjang jalur elevator yang baru dibangun, tersembunyi di balik dinding korteks. Shea tertidur di gendongannya. Dia mengusap lembut wajah kecil itu, merasa bersalah sudah membawanya ikut serta. Tiba-tiba wajah Lee melintas di benaknya. Air matanya kembali mengalir.

Tuhan, dimana dia? Padahal dia sudah berjanji menjaganya. Ibu macam apa aku ini? Bagaimana aku akan menghadapi Haam? Dia terus menangis, mengutuk diri hingga tertidur karena kelelahan.

Lihat selengkapnya