Middlemist White

Azuma.H
Chapter #15

Namaku Stel

Sarapan pagi itu terasa canggung. Mea dan Mama duduk di kasur masing-masing. Tidak ada lagi gurauan di meja makan. Fakta bahwa dia adalah Tuan Putri sempurna sudah menghancurkan kehangatan yang ada selama ini. Meski begitu, Mea bergegas menghabiskan sarapannya, teringat penjelasan yang dijanjikan Mama semalam. Tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan sarapannya. Beberapa menit kemudian mereka sudah berdiri berhadapan, tidak menyadari ada Ian di sebelah ruangan mereka.

“Sebelum aku bercerita, maukah kau berjanji satu hal padaku, Yang Mulia?” tanya Mama. Ian di ruang sebelah mengerutkan kening. Yang Mulia?

“Apa itu?” tanya Mea. Mama memintanya untuk merahasiakan apapun yang dia ceritakan. Mea menyanggupinya tanpa pikir panjang.

“Baiklah, kita punya banyak waktu luang sekarang. Apa yang ingin kau tahu, Yang Mulia?” Mama memulai dengan pertanyaan. Lebih karena tidak tahu harus bercerita darimana.

“Aku akan mulai denganmu. Kau bukan Mama yang selama ini kukenal. Kau siapa? Siapa namamu?” tanya Mea setelah diam sejenak.

“Namaku Stel. Aku pengasuhmu sekaligus sahabat ibumu, Yang Mulia Ratu.” Jawabnya tenang. Di ruang sebelah, Ian mematung, dengan mulut menganga dan mata melotot.

“Ceritakan lebih banyak tentang dirimu.” Ujar Mea. Aku perlu mengenalnya dengan baik, sebelum memutuskan apa dia bisa dipercaya atau tidak, pikirnya. Stel menatap Mea sejenak, lantas berjalan pelan ke arah jendela, memandang ke arah kejauhan. Dia menghela napas pelan.

“Aku datang ke sini dengan kapsul ekspedisi bertahun-tahun lalu. Bersama dengan Raja, Ratu, suamiku, beberapa panglima, penjaga, penduduk, seperti ekspedisi pada umumnya. Itu bukan hal yang mudah. Tepat setelah kapsul kami dilepas, angin menghempaskannya kesana kemari, sebelum menjatuhkannya ke tanah. Beruntung kapsul itu kokoh. Berbulan-bulan berikutnya kami membangun kerajaan, sedikit demi sedikit, dari dalam kapsul. Bahkan Raja dan Ratu ikut turun tangan. Bagaimana caranya? Yah, seperti pembangunan pada umumnya. kami hanya perlu sedikit sampel bahan bangunan, yang tentu saja kami bawa, dan mencampurnya dengan bahan makanan. Dia akan mengembang berkali-kali lipat.” Stel menerawang. Dia malah memulainya terlalu jauh.

“Setelah kerajaan ini mulai kokoh, aku menyadari bahwa kerajaan yang mengutus kami sudah tidak ada. Aku tidak tahu dimana persisnya, tapi harusnya kapsul kami jatuh tidak jauh dari kerajaan. Kalau aku tidak salah memperkirakan, seharusnya kerajaan itu ada disana sekarang.” Dia masih menatap kejauhan, lantas menggeleng pelan.

“Tapi tidak ada. Menghilang begitu saja. Bahkan tidak ada bekasnya. Kapsul yang dilepas bersamaan dengan kami juga tidak tahu rimbanya. Kalau mereka bertahan, seharusnya ada kerajaan lain di sekitar kita.” Stel terdiam, itu artinya mereka sudah tidak ada. Dia melangkah ke kasurnya, lantas duduk dengan anggun. Sepertinya aku tidak akan kuat menceritakan bagian ini kalau berdiri.

“Suamiku bernama Haam, seorang panglima. Dia adalah sahabat Raja, bahkan sebelum ekspedisi, mereka sudah tidak terpisahkan. Haam panglima yang baik, suami yang baik, juga ayah yang baik. Jika saja .... jika saja aku melarangnya pergi saat itu, ini tidak akan terjadi.” Suaranya bergetar. Mea terkejut saat Stel menyebut kata ayah. Mereka punya anak? Dia ikut duduk di kasur seberang. Stel menceritakan peristiwa yang merenggut Haam dan Lee darinya. Mea menunduk, tidak menyangka kisahnya akan seperti itu.

Lihat selengkapnya