MIDNIGHT COVENANT

stellaris rhea
Chapter #2

BAB II - Kebenaran

Adrian mengumpulkan beberapa tersangka.

Udara di dalam toko roti itu terasa berat, seperti ada sesuatu yang menekan dada setiap orang yang berdiri di sana. Aroma roti gosong masih tertinggal samar di udara, bercampur dengan bau tepung dan kayu lembap. Cahaya lampu menggantung redup, menciptakan bayangan panjang di wajah-wajah yang tegang.

Pertama, mantan istri korban. Elise Jacob, 35 tahun. Ia berdiri dengan kedua tangan saling menggenggam erat di depan tubuhnya, seolah mencoba menahan sesuatu yang bergetar dari dalam. Ia sebelumnya terlihat disekitar toko roti sekitar jam 9 malam sebelum toko tutup. Saat ditanya kenapa dia berada di sekitar toko roti, dia menjawab jika dia ingin mengajak Henry untuk rujuk kembali, namun Henry terus menolak karena alasan dia bercerai dengan Elise adalah Elise selingkuh dari Henry. Ini bukan pertama kalinya Elise datang disekitar toko roti. Saat itu dia tidak bertemu Henry dan memang toko masih terlihat terang dan bau roti dari dalam toko. Penolakannya bukan hal baru baginya, tetapi malam itu, penolakan itu menjadi sesuatu yang terakhir.

Kedua, pegawai toko roti, bekerja sebagai kasir. Hanna Louise, 23 tahun. Wajahnya pucat, matanya sembab karena tangis yang tertahan sejak tadi malam. Dia saat itu sudah pulang kerumah sejak pukul 7 malam, biasanya memang setelah jam 7 malam itu Henry yang mengurus sisanya dan menutup toko sekitar pukul 9 malam, karena beberapa masalah beberapa bulan lalu. Dia baru datang di TKP setelah ditelpon oleh polisi dan mendapatkan kabar jika Henry sudah tewas, alibinya dikonfirmasi oleh anggota keluarganya dan dia terlihat di cctv rumahnya sendiri. Ia tampak seperti seseorang yang kehilangan tempat bergantung.

Ketiga, mantan pegawai toko roti, dulunya bekerja sebagai pembuat roti. Georgia Frauce, 25 tahun. Ia berdiri lebih jauh sedikit, bahunya kaku. Dia terlihat berada disekitar toko saat jam 8 hingga 9 malam. Dia berkata jika dia datang ke toko roti untuk mengambil beberapa barangnya yang ketinggalan setelah berhenti bekerja di toko roti. Alasan dia berhenti karena dia ketahuan mencuri uang toko dan juga bahan membuat roti, sudah dikonfirmasi oleh Hanna. Namun di balik alasan itu, ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang belum diucapkan.

Adrian sudah mendengar beberapa pernyataan tersangkanya, alibi paling jelas adalah Hanna. Dia menghubungkan semua bukti yang dia dapatkan, yaitu kertas kosong dengan tulisan seperti tanggal lahir seseorang atau sebuah kasus, potongan serbet dengan noda tepung, dan sobekan baju yang tersangkut di paku dekat pintu belakang. Di dalam pikirannya, potongan-potongan itu bukan lagi bukti terpisah. Mereka adalah satu cerita yang utuh. Dan cerita itu dipenuhi luka lama.

Adrian menyimpulkan, dia berdiri didepan tiga orang itu. Polisi disisi kanannya dan Elara disisi kirinya, memegang beberapa bukti. Elara tampak tenang seperti biasa, tetapi matanya tajam memperhatikan setiap perubahan ekspresi.

"Saya sudah tau pelakunya, biarkan saya jelaskan terlebih dahulu. Pertama, saya menemukan secarik kertas dari saku korban, kertas itu nampak kosong namun terdapat jejak tulisan dan saat kami menggesek itu dengan pensil, muncul tulisan sebuah tanggal 23 Agustus 1973. Tepatnya 25 tahun yang lalu."

Suaranya tenang. Terlalu tenang untuk ruangan yang dipenuhi ketegangan seperti ini.

Dia menunjukkan kertas itu depan tersangka dan juga polisi. Tangannya stabil. Ia mengambil ponselnya, menunjukkan pesan dari salah satu kenalannya yang mencari tau ada apa di tanggal itu.

Ia membacakan isi pesan itu perlahan. Setiap kata seperti membuka kembali kuburan lama yang tidak pernah benar-benar tertutup.

Saat ia membacakan bagian tentang kecelakaan, tentang suami yang meninggal ditempat, tentang istri yang kehabisan darah setelah melahirkan, ruangan itu terasa semakin dingin.

Salah satu tersangka terlihat tegang saat dia membacakan berita itu. Nafasnya mulai tidak teratur. Reaksi itu tak luput dari observasi Adrian.

"Berdasarkan informasi yang didapatkan, anak laki-laki itu adalah Henry Douret. Saat itu dia berusia 10 tahun dan sedang menyebrangi jalanan untuk pulang ke rumahnya, tidak melihat jika ada mobil melaju kencang dan kecelakaan terjadi. Dan pasangan itu adalah Geordo Herald dan Mary Herald, meninggal 25 tahun yang lalu. Meninggalkan seorang anak perempuan yang kini juga berusia 25 tahun, orang tua dari Georgia, benar kan?"

Tatapan Adrian beralih pelan ke arah Georgia.

Georgia terlihat tegang dan juga perasaan campur aduk. Seolah ada dua emosi yang saling bertabrakan di dalam dirinya, kesedihan anak yang kehilangan orang tua, dan kemarahan seseorang yang merasa dihina.

"Ya, benar.. Aku baru tau tentang itu beberapa hari yang lalu dari kepala panti asuhan tempat aku tumbuh."

Suaranya sedikit gugup, tetapi lebih dari itu, ada getar yang dalam. Seperti seseorang yang kembali menjadi anak kecil yang kehilangan segalanya.

"Selanjutnya, bukti kedua. Potongan serbet yang ditinggalkan oleh pelaku, disini terdapat noda tepung yang sama seperti yang tersebar disekitar ruangan ini. Ini jelas digunakan oleh pelaku dan tak sengaja terjatuh di ruangan ini saat dia mencoba pergi."

Adrian menunjukkan potongan serbet itu. Tepung putih yang menempel kini terasa seperti simbol ironi, bahan untuk membuat roti, berubah menjadi saksi pembunuhan.

Lihat selengkapnya