Perjalanan pulang dari toko roti terasa panjang, meski jaraknya tidak terlalu jauh.
Pagi itu kota masih setengah terjaga. Udara dingin menempel di kulit, sisa embun masih terlihat di pagar-pagar besi dan dedaunan. Jalanan belum ramai, hanya beberapa pejalan kaki, seorang penjual koran yang baru membuka lapaknya, dan sepeda tua yang melintas perlahan.
Adrian dan Elara berjalan berdampingan tanpa banyak bicara.
Langkah sepatu mereka terdengar pelan di trotoar batu. Tidak tergesa, tapi juga tidak santai. Mereka baru saja menyelesaikan satu kasus pembunuhan dan keheningan itu bukan canggung, melainkan lelah.
Sekitar tiga puluh menit berjalan kaki, mereka tiba di depan gedung dua lantai dengan papan kayu hitam bertuliskan:
“Midnight Covenant Agency.”
Hurufnya dicat putih, sedikit memudar dimakan waktu.
Gedung itu sederhana, bukan bangunan modern dengan kaca besar. Dindingnya kokoh, jendelanya tinggi dengan tirai krem yang sedikit tersingkap. Lantai satu adalah kantor. Lantai dua adalah tempat Adrian tinggal.
Rumah dan pekerjaan menyatu.
Mereka masuk.
Pintu kayu itu tertutup dengan bunyi pelan, mengurung mereka dalam suasana yang lebih hangat dibanding udara luar. Bau kayu, kertas, dan tinta memenuhi ruangan.
Adrian melepaskan jasnya dan menggantungnya di gantungan dekat pintu. Ia menghela napas panjang, lebih terdengar kali ini. Langkahnya menuju meja kerja terasa sedikit berat.
Jam dinding bundar di atas rak buku menunjukkan pukul 8 pagi.
Elara meliriknya.
Cahaya matahari pagi menyorot wajah Adrian dari samping, memperjelas bayangan tipis di bawah matanya. Ia terlihat lebih pucat dari biasanya. Rahangnya sedikit mengeras, tanda ia menahan lelah.
Elara menghela napas kecil.
Dia tahu Adrian begadang lagi.
Tanpa mengatakan apa pun, Elara melepaskan jasnya dan menyampirkannya di kursi. Ia berjalan menuju dapur kecil di sudut ruangan. Dapur itu sederhana. Kompor gas kecil, ketel logam, rak kayu berisi cangkir porselen.
Suara api kompor menyala terdengar lembut.
"Mau kopi seperti biasanya, Rian?"
Suara Elara terdengar santai dari dapur.
Di luar pekerjaan, mereka bukan atasan dan bawahan.
Hanya Rian dan Ela.
Adrian yang sedang membuka buku catatannya menoleh sedikit.
"Hm? Boleh. Itu sangat membantu, Ela."
Senyum tipis muncul di wajahnya. Lelahnya tidak hilang, tapi setidaknya terasa lebih ringan.
Elara menyendok bubuk kopi dari toples kaca. Aroma pahitnya segera menyebar, memenuhi ruangan kecil itu. Ia menuangkan sesendok ke masing-masing cangkir dan menyiapkan gula batu dalam mangkuk kecil.
"Anda harus paling tidak tidur sebentar saja. Aku yakin sebentar lagi akan ada kasus lainnya."
Nada suaranya ringan, tapi ada kekhawatiran yang tak disembunyikan.
"Hm.. Kau benar. Tapi aku tidak merasa mengantuk sekarang. Mungkin mataku sudah terbiasa."
Jawabannya terdengar acuh, tapi jemarinya yang memijat pelipisnya sebentar mengkhianati kata-katanya.
Ia mulai menulis.
Kebiasaannya selalu sama. Setiap kasus yang selesai, setiap detail kecil, ia tuangkan ke dalam buku catatan kulit coklatnya. Seolah jika semuanya tertulis rapi, pikirannya bisa sedikit lebih tenang.