Adrian dan Elara tiba di mall internasional yang disebutkan Damian.
Bangunan itu besar dan modern untuk ukuran tahun 1998. Lantai mengilap, lampu-lampu putih terang, musik pop samar terdengar dari pengeras suara. Aroma parfum mahal dan kopi dari kafe kecil di sudut lantai bercampur di udara.
Tempat seperti ini adalah dunia yang berbeda dari jalanan kota yang mereka lewati tadi.
Mereka mulai memindai toko-toko barang bermerek satu per satu.
Gaun mahal. Tas kulit impor. Perhiasan berkilau di balik kaca.
Hampir satu jam mereka menyusuri lorong mall. Langkah mereka tenang, tidak mencolok. Sesekali Elara membuka foto yang diberikan Damian, memastikan wajah yang mereka cari benar-benar terekam di ingatan.
Lalu..
Mereka melihatnya.
Seorang wanita dengan gaun mewah mencolok, rambut pirang bergelombang yang jatuh anggun di bahunya, mata coklat yang sulit dilupakan. Ia tertawa kecil saat berbicara dengan pramuniaga, jemarinya menunjuk tas mahal tanpa ragu.
Adrian dan Elara saling menatap singkat.
Itu dia.
Tanpa kata, mereka mulai mengikuti wanita itu.
Wanita itu berpindah dari satu toko ke toko lain. Tas belanjaan semakin banyak di tangannya. Wajahnya terlihat puas, bukan sekadar berbelanja, tapi menikmati kemewahan itu sendiri.
Adrian dan Elara menjaga jarak.
Sesekali, ketika wanita itu menoleh ke belakang, mereka berpura-pura menjadi pasangan yang sedang berjalan santai. Adrian pura-pura melihat etalase jam tangan, Elara memegang lengannya ringan seolah sedang bercakap biasa.
Taktik sederhana, tapi efektif.
Setelah hampir satu jam, wanita itu akhirnya terlihat selesai. Tangannya penuh tas belanja bermerek.
Ia berjalan keluar dari mall.
Di luar, ia menghentikan taksi dan masuk ke dalamnya.
Adrian segera mengangkat tangan memanggil taksi lain.
"Ikuti taksi di depan itu. Jangan terlalu dekat," ucap Adrian pelan pada sopir.
Taksi bergerak.
Perjalanan terasa lebih sunyi. Adrian memperhatikan taksi di depan dengan fokus. Elara menatap ke luar jendela, mencoba mengingat detail wajah wanita itu saat tersenyum tadi.
Setelah beberapa lama, taksi di depan berhenti.
Bukan di hotel mewah.
Bukan di apartemen elit.
Melainkan di depan sebuah rumah sederhana.
Cat temboknya sedikit kusam. Halamannya kecil. Tidak ada tanda kemewahan.
Wanita itu turun dari taksi. Sopir membantu menurunkan tas-tas belanja dari bagasi. Wanita itu terlihat begitu senang saat menenteng barang-barang mahalnya melewati halaman kecil itu.
Kontras yang aneh.
Adrian dan Elara tetap berada di dalam taksi sampai wanita itu masuk ke dalam rumah dan pintunya tertutup.
Mereka turun.
Taksi mereka langsung pergi, menyisakan keheningan jalan kecil itu.
Adrian merapikan jasnya. Elara berdiri di sampingnya, wajahnya serius.
Mereka berjalan perlahan mendekati rumah itu. Berusaha tidak menarik perhatian.
Rumah itu tampak biasa. Terlalu biasa.
"hmm... Sepertinya ini tempat tinggal selingkuhan nya. Ayo kita ce-"
DUAR!!
Ledakan dahsyat memotong kalimat Adrian.