MIDNIGHT COVENANT

stellaris rhea
Chapter #6

BAB VI - Penculikan

Keesokan paginya, udara kota masih berbau asap dan lembab.

Sisa kebakaran dari rumah yang meledak kemarin belum sepenuhnya padam, dan kabut tipis bercampur jelaga masih menggantung rendah di atas atap-atap bangunan.

Berita itu menjadi topik hangat di koran pagi. Judul besar terpampang mencolok, menampilkan wajah Adrian dengan tajuk:

“Detektif Swasta Ungkap Kasus Pengusaha Holt.”

Di dalam kantor Midnight Covenant Agency, suasananya jauh lebih tenang dibanding malam sebelumnya. Hanya terdengar suara kertas laporan yang dibalik perlahan dan aroma kopi hitam yang baru diseduh memenuhi ruangan, pahit dan pekat.

Adrian duduk di balik mejanya, mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung. Matanya menatap kosong ke arah jendela, mengamati langit yang mulai cerah setelah semalaman diguyur hujan. Cahaya pagi menyentuh wajahnya, tapi tidak benar-benar menghangatkannya.

Ia belum sepenuhnya beristirahat. Kepalanya masih dipenuhi sisa-sisa pikiran tentang kasus kemarin. ledakan itu, wajah-wajah yang terlibat, dan sesuatu yang terasa belum selesai.

Suara pintu depan berderit pelan.

Elara masuk sambil membawa tasnya dan setumpuk berkas laporan kasus kemarin. Langkahnya tenang seperti biasa, namun matanya sempat meneliti wajah Adrian.

“Pagi, Rian. Kau terlihat kurang tidur. Seperti biasanya,” katanya datar, namun ada perhatian halus di balik nada itu.

Adrian menghela napas pelan dan duduk lebih tegap, seakan menarik dirinya kembali ke kenyataan. “Seperti biasa. Ada beberapa hal yang kupikirkan.”

Elara menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya sebelum meletakkan berkas dan tasnya di atas meja. Ia duduk di kursinya.

“Anda terlalu banyak berpikir,” ucapnya tenang. “Saya kadang tidak tahu apa yang anda pikirkan sampai membuat anda kekurangan tidur seperti ini.”

Adrian terdiam sejenak. Ia tahu, ia memang tak pernah benar-benar membagikan isi kepalanya, bahkan pada asisten yang paling ia percaya.

“Entahlah. Itu hanya pikiran biasa.” Ia berdiri, mengambil jasnya dari sandaran kursi. “Omong-omong, aku diminta datang ke kantor polisi untuk dimintai keterangan kasus kemarin. Kau mau ikut?”

Elara terdiam sejenak. Ia menepuk ringan berkas laporan di atas mejanya.

“Pekerjaan saya belum selesai. Saya akan menyelesaikan ini terlebih dahulu, baru menyusul anda.”

Ini pertama kalinya ia menolak tawaran Adrian. Namun Adrian hanya mengangguk kecil, tidak memaksakan.

“Baiklah. Kalau begitu aku pergi sendirian. Kabari aku saja jika ada kasus baru.” Ia berjalan menuju pintu, menguap pelan.

“Aku mengerti,” jawab Elara.

Pintu tertutup.

Beberapa detik setelah langkah Adrian menjauh, Elara mengeluarkan ponselnya. Tatapannya berubah sedikit lebih serius, lebih tajam. Ia mengetik sebuah pesan singkat kepada seseorang, lalu kembali menyimpan ponsel itu dan melanjutkan laporannya seolah tidak terjadi apa-apa.

...****************...

Di perjalanan menuju kantor polisi, Adrian berjalan dengan langkah tenang, namun pikirannya melayang. Ia sesekali menghela napas, merasa ada sesuatu yang mengganjal sejak pagi.

Lihat selengkapnya