Cringg…
Lonceng pintu agensi berdenting pelan, memecah kesunyian ruangan yang sejak tadi hanya diisi suara ketukan mesin tik. Adrian masuk lebih dulu, diikuti seorang wanita muda dengan wajah pucat dan mata yang sembab seperti baru saja menangis terlalu lama.
Elara menghentikan jemarinya yang menari di atas tuts, mengangkat wajah perlahan. Uap kopi di cangkirnya masih mengepul ketika tatapannya yang tenang beralih pada keduanya.
“Elara, tolong buatkan teh untuk nyonya ini,” ujar Adrian lembut, namun ada ketegasan halus dalam suaranya. Tangannya menuntun wanita itu menuju sofa di tengah ruangan, seolah takut wanita itu akan roboh jika dilepas.
Elara mengangguk tanpa banyak tanya. Ia meletakkan cangkir kopinya, berdiri, lalu melangkah cepat ke dapur.
“Ayo, duduk di sini, Nyonya,” ucap Adrian, lebih dulu duduk dan memberi ruang di sebelahnya.
Wanita itu duduk dengan gerakan kaku. Napasnya bergetar saat ia menghembuskannya, seakan baru saja keluar dari tempat yang terlalu sesak untuk bernapas. Tangannya saling menggenggam erat di pangkuan.
“Terima kasih… Detektif,” bisiknya lirih.
Adrian bersandar perlahan, menatapnya dengan mata yang tidak menghakimi, tidak seperti tatapan polisi yang tadi ia ceritakan di luar. Tatapan itu hangat, memberi ruang untuk rapuh.
“Pertama-tama… boleh saya tahu nama Anda?” suaranya rendah, menenangkan. “Saya ingin kita berbicara dengan nyaman saat membahas tentang putra Anda.”
Wanita itu menarik napas dalam-dalam. Bibirnya bergetar sebelum akhirnya ia memaksa dirinya berbicara.
“Nama saya Lise Duval,” ucapnya pelan. “Saya… ibu tunggal.” Tenggorokannya tercekat sesaat. “Anak saya yang hilang bernama Julian Duval.”
Ada jeda kecil setelah ia menyebut nama itu, seakan menyebutnya saja sudah cukup untuk membuat dadanya nyeri.
Adrian mengangguk perlahan. “Baik, Nyonya Duval. Tolong ceritakan pada saya… bagaimana kronologinya. Dan seperti apa ciri-ciri Julian.”
Lise menunduk, air mata mulai menggenang lagi.
“Julian… usianya empat tahun,” suaranya bergetar. “Rambutnya coklat, pendek… selalu sedikit acak-acakan karena dia tidak suka disisir.” Bibirnya melengkung tipis, senyum yang hancur sebelum sempat terbentuk. “Matanya coklat. Sama seperti saya.”
Ia menelan ludah.
“Dia memakai kaus biru… dan celana pendek coklat pagi tadi.” Tangannya mencengkeram rok yang ia kenakan. “Kami pergi ke toko mainan. Dia ingin sekali melihat kereta kayu di etalase.” Suaranya mulai pecah. “Tapi… saya lupa membawa dompet. Saya...” ia menutup mulutnya sesaat, napasnya memburu. “Saya menyuruhnya menunggu di dalam toko. Hanya sebentar. Saya bilang ibu akan kembali dengan cepat.”
Air mata jatuh tanpa bisa ia tahan lagi.
“Ketika saya kembali… dia sudah tidak ada.”
Ruangan terasa lebih dingin.
“Penjaga toko bilang dia tidak memperhatikan… karena sedang melayani pembeli lain.” Kalimat terakhir keluar hampir seperti bisikan penuh penyesalan. “Ini salah saya… kalau saja saya tidak meninggalkannya…”
Saat itu Elara kembali, membawa nampan dengan dua cangkir. Ia meletakkan teh hangat di depan Lise dengan gerakan lembut, seolah takut suara porselen bersentuhan akan membuat wanita itu semakin hancur. Kopi Adrian diletakkan di hadapannya, lalu Elara berdiri di sampingnya, diam namun waspada.
Adrian terdiam beberapa detik. Ia mengulang setiap detail dalam pikirannya.
Empat tahun.
Rambut coklat.
Kaus biru.
Celana pendek coklat.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Tadi pagi… di dekat toko mainan…
Ia melihat seorang pria muda berjalan tergesa-gesa. Dan dalam gendongannya..
Seorang anak kecil. Rambut coklat. Kaus biru.
“Rambut coklat… kaus biru dan celana pendek coklat…” gumam Adrian pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Lise.
Wajahnya yang tenang mulai berubah, bukan panik, tapi serius.
“Saya mungkin… melihat anak itu.”
Lise menegakkan tubuhnya tiba-tiba, matanya membesar penuh harap dan ketakutan sekaligus.
“Apa…?” suaranya hampir tak terdengar.
Adrian menatapnya lurus. “Saya melihat seorang pria muda membawa seorang anak dengan ciri-ciri itu. Di sekitar toko mainan. Saat saya lewat menuju kantor polisi.”
Udara di ruangan itu berubah.
Lise menegakkan tubuhnya tiba-tiba. Matanya membesar, penuh harapan sekaligus ketakutan yang sulit disembunyikan.
“Apa…?” suaranya hampir tak terdengar.
Adrian menatapnya dengan serius, mencoba mengingat kembali kejadian pagi tadi sejelas mungkin.
“Saya melihat seorang pria muda berjalan bersama seorang anak kecil,” ujarnya perlahan. “Anak itu… kira-kira seusia yang Anda sebutkan.”
Lise menahan napas.
“Di mana…?” tanyanya cepat. “Di mana Anda melihat mereka?”
Adrian menyandarkan siku di lututnya, jemarinya saling bertaut sambil berpikir.
“Tidak jauh dari toko mainan itu. Di jalan menuju kantor polisi.” Ia memicingkan mata sedikit, mengingat detail yang sempat ia abaikan tadi pagi. “Pria itu menggandeng tangannya. Anak itu memegang lollipop.”
Lise menutup mulutnya dengan kedua tangan.