Langkah Adrian bergema pelan di sepanjang gang sempit itu.
Dinding bata tua di kiri kanan tampak lembab. Beberapa bagian cat telah mengelupas, meninggalkan warna kusam yang hampir menyatu dengan bayangan siang yang redup di lorong itu.
Gang itu terlalu sunyi.
Padahal pasar hanya berjarak beberapa puluh meter di belakangnya.
Adrian berjalan perlahan.
Matanya mengamati setiap pintu yang tertutup, setiap jendela yang dipaku dari dalam, dan setiap sudut yang cukup luas untuk seseorang bersembunyi.
Beberapa bangunan tampak seperti gudang lama.
Sebagian lainnya mungkin rumah yang sudah lama ditinggalkan.
Ia berhenti.
Angin tipis melewati lorong itu, membawa suara samar dari kejauhan.
Tangisan.
Sangat pelan.
Hampir seperti seseorang yang berusaha menahannya.
Tatapan Adrian berubah sedikit lebih tajam.
Ia mengikuti arah suara itu hingga berhenti di depan sebuah rumah tua dua lantai di ujung gang.
Cat dindingnya mengelupas.
Jendelanya tertutup papan kayu.
Namun pintunya terlihat baru saja digunakan.
Jejak sepatu masih jelas di tanah yang lembab.
Adrian mendekat.
Ia berdiri beberapa detik di depan pintu, mendengarkan.
Tangisan itu terdengar lagi.
Lebih jelas sekarang.
Adrian mengetuk pintu.
Tok.
Tok.
Beberapa detik tidak ada jawaban.
Lalu terdengar suara langkah kaki dari dalam.
Kunci pintu diputar dengan tergesa.
Pintu terbuka sedikit.
Seorang pria muda muncul di balik celahnya. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat, dan matanya terlihat terlalu waspada untuk seseorang yang hanya sedang beristirahat di rumah.
“Ya?” tanyanya singkat.
Adrian tersenyum tipis.
“Maaf mengganggu,” katanya santai.
“Saya sedang mencari seorang anak kecil yang mungkin lewat di gang ini.”
Pria itu mengerutkan dahi.
“Saya tidak melihat anak kecil.”
Jawabannya terlalu cepat dan singkat.
Adrian belum sempat menjawab ketika pria itu memperhatikan wajahnya lebih lama.
Matanya tiba-tiba membesar.
“…Tunggu.”
Ia menatap Adrian dengan lebih tajam.
“Wajahmu…”
Beberapa detik hening.
“Detektif… Adrian…?”
Senyum Adrian tidak berubah.
Namun itu sudah cukup.
Wajah pria itu langsung memucat.
Ia mencoba menutup pintu dengan cepat.
Namun Adrian sudah menahan pintu itu dengan tangannya.
“Kalau kau tahu siapa aku,” kata Adrian tenang, “Maka kau juga tahu aku tidak akan pergi begitu saja.”
Dari dalam rumah,
tangisan anak kecil terdengar lagi.
Pria itu panik.
Ia mencoba mendorong pintu dengan kasar, namun Adrian menahannya dan mendorong balik dengan satu gerakan kuat.
Pintu terbuka lebar.
Pria itu mundur beberapa langkah.
“Aku bilang tidak ada anak di sini!” bentaknya.
Namun Adrian sudah melangkah masuk.
Matanya langsung menyapu ruangan.
Dan di sudut ruangan,
seorang anak kecil duduk di lantai dengan wajah basah oleh air mata.
Rambut coklat.
Kaus biru.
Celana pendek coklat.
Julian.
Begitu melihat Adrian, anak itu menatapnya dengan mata besar yang ketakutan.
Pria itu tiba-tiba berlari menuju pintu belakang.
Namun Adrian sudah menduganya.
Dengan satu langkah cepat, ia menangkap kerah jaket pria itu dari belakang dan menariknya hingga terjatuh ke lantai.
“Lepaskan aku!” teriak pria itu panik.
Ia mencoba melawan, namun Adrian menahan pergelangan tangannya dengan mudah.
“Berhenti melawan,” kata Adrian datar.