Kabut pagi menggantung rendah di atas sungai Gravemont.
Lapisan tipis itu melayang di atas permukaan air seperti selimut pucat yang belum sepenuhnya tersingkap oleh matahari. Cahaya pagi baru saja muncul dari balik atap-atap bangunan tua di tepi kota, memantul samar di air sungai yang keruh dan bergerak lambat.
Bau lumpur basah bercampur dengan aroma kayu tua dari dermaga yang sudah berumur puluhan tahun. Sesekali angin pagi berhembus tipis, menggerakkan papan-papan kayu yang berderit pelan.
Beberapa burung camar berputar rendah di udara.
Suara mereka terdengar serak dan panjang, memecah kesunyian pagi di tepi sungai.
Di ujung dermaga kecil itu, seorang nelayan tua sedang menarik jaringnya dari air.
Tangannya kasar dan penuh kapalan. Gerakannya lambat namun terbiasa, seperti seseorang yang telah melakukan pekerjaan yang sama selama puluhan tahun tanpa pernah benar-benar memikirkannya lagi.
Namun pagi ini jaringnya terasa berbeda.
Lebih berat.
Ia menarik sedikit lebih keras.
Tali jaring yang basah menggesek papan dermaga dengan suara kasar.
“Hmm…”
Nelayan itu mengerutkan dahi.
Biasanya jaringnya hanya berisi beberapa ikan kecil atau kadang-kadang sampah yang terbawa arus. Namun kali ini beratnya terasa tidak wajar.
Ia menarik jaring itu lebih tinggi.
Air sungai menetes dari sela-sela tali.
Awalnya ia mengira jaring itu hanya tersangkut kayu atau puing.
Namun sesuatu yang lain muncul ke permukaan.
Sepotong kain gelap.
Nelayan itu berhenti menarik.
Ia menatap jaring itu dengan bingung.
Lalu perlahan, sesuatu bergerak di dalamnya.
Sebuah tangan manusia muncul dari air.
Nelayan itu langsung membeku.
Beberapa detik ia tidak bergerak sama sekali.
Matanya menatap jaring itu dengan napas tertahan.
Kemudian jaring itu bergoyang sedikit lagi, memperlihatkan tubuh seorang pria yang tersangkut di dalamnya.
Wajah pria itu pucat.
Matanya tertutup.
Tubuhnya setengah tenggelam di air sungai yang keruh.
Nelayan itu mundur satu langkah.
Tangannya langsung melepaskan tali jaring.
“Ya Tuhan…”
Suara itu keluar hampir seperti bisikan.
Tidak butuh waktu lama sebelum kabar itu menyebar.
Beberapa warga yang tinggal di sekitar dermaga mulai berdatangan. Mereka berdiri di tepi sungai dengan wajah tegang, berbisik satu sama lain sambil menunjuk ke arah jaring yang masih tergantung di sisi dermaga.
Tidak lama kemudian, suara langkah sepatu terdengar di papan kayu.
Beberapa polisi datang dari arah jalan kecil di dekat gudang-gudang pelabuhan.
Di antara mereka, seorang pria paruh baya berdiri dengan postur tegap dan wajah serius.
Inspektur Elias Dornhart.
Ia menatap tubuh yang baru saja diangkat dari jaring dengan ekspresi yang tidak terlalu terkejut, namun jelas tidak senang.
“Siapa yang menemukannya?” tanyanya.
Nelayan tua itu mengangkat tangannya dengan ragu.
“Saya… Inspektur.”
Elias mengangguk kecil.
“Pagi-pagi sekali sudah mendapat kejutan seperti ini, ya.”
Ia berjongkok di dekat tubuh itu.
Pria yang ditemukan di sungai masih mengenakan pakaian rapi. Kemeja putih yang kini basah menempel di tubuhnya, jas abu-abu yang sedikit kusut, dan sepatu kulit hitam yang tampaknya cukup mahal.
Ia tidak terlihat seperti gelandangan.
Lebih seperti seseorang yang bekerja di kantor.
Salah satu polisi muda berdiri di samping Elias.
“Sepertinya jatuh ke sungai tadi malam, Inspektur,” katanya. “Arus membawanya sampai ke sini.”
Elias menatap wajah pria itu beberapa detik.
“Bisa jadi.”
Namun nada suaranya terdengar lebih seperti kebiasaan daripada keyakinan.
Ia berdiri kembali.
“Bawa tubuhnya ke darat.”
Dua polisi mengangkat tubuh itu dari jaring dan meletakkannya di atas tandu.
Beberapa warga langsung memalingkan wajah mereka.
Mayat tidak pernah menjadi pemandangan yang menyenangkan.