Kabut pagi masih menggantung tipis di sepanjang tepi sungai Gravemont.
Cahaya matahari belum sepenuhnya kuat. Ia masih pucat, terpecah oleh sisa-sisa kabut yang melayang rendah di atas permukaan air. Sungai itu mengalir pelan, nyaris tanpa riak, seolah tidak pernah menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar arus biasa.
Namun bagi Adrian, sungai yang terlalu tenang justru selalu terasa mencurigakan.
Ia berdiri beberapa langkah dari dermaga tempat tubuh korban tadi ditemukan. Garis polisi sudah sedikit bergeser, meninggalkan area yang kini lebih lengang. Beberapa warga masih berdiri di kejauhan, tapi sebagian besar sudah kembali pada rutinitas mereka, seolah kematian di pagi hari hanyalah gangguan kecil yang cepat dilupakan kota ini.
Adrian mengamati sekitar.
Deretan gudang tua berdiri di sisi sungai seperti sisa masa lalu yang enggan runtuh. Dinding kayunya kusam, catnya mengelupas, dan beberapa jendelanya sudah tidak lagi memiliki kaca. Angin dari sungai masuk melalui celah-celah bangunan, menghasilkan suara pelan seperti bisikan panjang yang tidak jelas asalnya.
Elara berdiri di sampingnya tanpa banyak bicara.
Matanya sudah lebih dulu menyapu area sekitar dermaga.
“Tidak ada tanda perlawanan di sekitar tempat penemuan,” katanya akhirnya.
Adrian mengangguk pelan.
“Artinya, kemungkinan lokasi pembunuhan yang sebenarnya tidak berada di sini.”
Ia berlutut, memperhatikan tanah di dekat papan dermaga. Lumpur tipis masih basah, meninggalkan bekas kaki warga dan polisi yang datang lebih awal.
Namun di antara jejak-jejak itu, ada sesuatu yang berbeda.
Dua garis samar.
Hampir tidak terlihat.
Adrian menyipitkan mata, lalu menunjuk ke arah bekas tersebut.
“Ini bukan jejak orang yang berjalan.”
Elara ikut berjongkok.
Matanya mengikuti arah jari Adrian.
Dua garis tipis memanjang sejajar, membelah lumpur dengan pola yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
“Ini seperti jejak roda,” gumam Elara.
Adrian mengangguk.
“Jejak roda gerobak atau sesuatu yang sejenis.”
Ia berdiri kembali, pandangannya mengikuti arah jejak itu.
Jejak tersebut tidak berputar, tidak bercabang. Hanya lurus menuju deretan gudang tua di tepi sungai.
“Sepertinya dia dibawa ke sini,” kata Adrian pelan.
Elara menatapnya.
“Setelah dibunuh?”
“Mungkin.”
Adrian mulai berjalan mengikuti jejak itu.
Elara menyusul tanpa bertanya lagi.
Semakin jauh mereka meninggalkan dermaga, suasana menjadi lebih sepi.
Suara air sungai mulai kalah oleh derit kayu tua dari bangunan-bangunan yang berdiri di sepanjang jalan setapak. Beberapa gudang tampak masih aktif, dengan pintu setengah terbuka dan suara aktivitas samar dari dalam. Namun sebagian besar lainnya terlihat kosong, seperti sudah lama ditinggalkan.
Jejak roda itu melewati satu gudang, lalu dua.
Di salah satu titik, tidak jauh dari persimpangan gang, Adrian berhenti.
Elara ikut berhenti.
“Ada apa?” tanya Elara.
Adrian tidak langsung menjawab.
Ia menatap tanah.
Jejak roda di sini tampak lebih dalam dibanding sebelumnya.
“Beban di sini lebih berat,” katanya akhirnya.
Elara mengamati tanah itu lebih teliti.
“Mungkin pelaku berhenti sebentar di sini.”
“Bisa jadi.”
Adrian melanjutkan langkahnya.