MIDNIGHT COVENANT

stellaris rhea
Chapter #11

BAB XI - Jejak yang Tertinggal

Adrian dan Elara kembali ke dermaga untuk menemui Elias dan beberapa anggota polisi yang masih berada di lokasi.

Elias berdiri tidak jauh dari tempat mayat pertama kali ditemukan. Kedua lengannya tersilang di depan dada sambil memperhatikan anak buahnya memeriksa area sekitar dan memasang garis polisi agar tidak ada warga sipil yang melintas.

Saat melihat Adrian dan Elara mendekat, Elias langsung menyadari mereka telah kembali.

“Menemukan sesuatu, Detektif?” tanyanya tenang.

Melihat ekspresi Adrian, ia sudah bisa menebak bahwa penyelidikan mereka tidak berakhir sia-sia.

Adrian mengangguk pelan. Pandangannya sempat beralih ke arah garis polisi yang membentang di sekitar dermaga sebelum kembali menatap Elias.

“Ya. Kami menemukan tempat yang kemungkinan besar merupakan lokasi pembunuhan sebelum korban dibuang ke sini.”

Elias mengangguk dan melangkah menghampiri mereka.

“Di mana tempatnya? Kami akan menyelidikinya.”

“Salah satu gudang tua di deretan gudang sisi sungai. Kami menemukan jejak yang tidak cocok dengan kondisi di sini.”

Adrian bergerak menuju jejak roda yang sebelumnya ia temukan tidak jauh dari lokasi penemuan mayat.

“Jejak ini. Bekas roda ini berhenti tepat di depan sebuah gudang tua. Saat kami masuk ke dalam, kami menemukan banyak bercak darah dan genangan darah.”

Elias mengikuti Adrian tanpa ragu. Ia mengusap dagunya pelan sambil berpikir.

“Begitu ya. Hei, panggil tim forensik untuk ikut bersama kami.”

“Siap, Inspektur!”

Salah seorang polisi segera berlari menjalankan perintah.

Elias kembali menatap Adrian.

“Ayo kita periksa tempat itu. Pimpin jalannya, Detektif.”

Adrian mengangguk singkat lalu berbalik memimpin mereka menuju gudang yang sebelumnya ia temukan bersama Elara.

Beberapa menit kemudian, mereka tiba di gudang tua tersebut.

Adrian membuka pintu terlebih dahulu.

Engsel tua kembali mengeluarkan bunyi berderit saat pintu terbuka.

Mereka melangkah masuk.

Seperti yang dikatakan Adrian, bercak darah terlihat di beberapa bagian lantai. Jejak-jejak kecil itu membentuk jalur menuju genangan darah yang mengering di balik tumpukan peti tua.

“Ini tempatnya,” kata Adrian. “Seperti yang Anda lihat, ada banyak jejak darah di dalam sini.”

Elias berjalan mendekati bercak darah terdekat dan mengamatinya.

“Kau benar. Ini kemungkinan besar adalah lokasi pembunuhan yang sebenarnya.”

Ia menoleh.

“Apakah kau menemukan senjata pembunuhan?”

“Tidak. Tidak ada senjata apa pun di sini.”

Adrian melirik ke arah Elara.

“Elara hanya menemukan dua jejak kaki berbeda di pintu belakang gudang.”

“Jejak itu berbeda satu sama lain,” jelas Elara. “Tapi keduanya datang dari arah yang sama. Kemungkinan besar milik korban dan pelaku.”

Elias segera berjalan menuju pintu belakang yang masih sedikit terbuka.

Ia memperhatikan tanah di luar gudang.

Benar.

Dua jejak berbeda terlihat samar di permukaan tanah yang lembap.

“Identifikasi semuanya,” perintah Elias kepada petugas forensik. “Dan kerahkan beberapa anggota polisi untuk menyisir area sekitar sampai jalur jejak kaki ini berakhir.”

“Siap, Inspektur!”

Petugas forensik segera mulai bekerja. Mereka mengambil sampel darah, memotret lokasi, dan mencatat setiap detail yang ditemukan.

Sementara itu, petugas polisi lainnya mulai menghubungi rekan-rekan mereka melalui radio.

Beberapa menit kemudian, seorang polisi datang menghampiri Elias.

Pria itu membisikkan sesuatu di telinganya.

Elias mengangguk pelan sebelum menoleh ke arah Adrian dan Elara.

“Identitas korban sudah diketahui.”

Adrian langsung mengangkat pandangannya.

Lihat selengkapnya