Matahari sudah menggantung lebih tinggi di langit, menandakan hari mulai beranjak siang. Di apartemen Rue Saint-Michel, kamar 305, Elias dan Adrian masih berada di dalam sana.
Elias mengeluarkan radionya untuk menghubungi anak buahnya dan meminta mereka menyelidiki kasus utang Ethan Brooks. Sementara itu, Adrian kembali berkeliling di dalam apartemen, mencoba mencari petunjuk lain yang mungkin terlewat.
Namun, tidak ada apa pun yang mereka temukan.
“Hughes akan mengirimkan laporan kasusnya kepadaku jika dia sudah menemukan sesuatu,” ucap Elias tiba-tiba setelah menyimpan kembali radionya.
Adrian menoleh ke arah Elias dan mengangguk pelan.
“Baiklah. Sepertinya tidak ada petunjuk lain di sini. Mungkin sebaiknya kita bertanya kepada beberapa tetangga korban,” saran Adrian sambil merapikan kerah mantelnya.
Elias mengangguk.
“Ayo,” jawabnya tenang.
Mereka berdua meninggalkan kamar Ethan dan menuju kamar di sebelahnya, nomor 304. Elias berhenti di depan pintu, lalu mengetuknya beberapa kali.
Tak lama kemudian, pintu terbuka.
Seorang wanita berusia sekitar dua puluh lima tahun berdiri di ambang pintu. Rambut cokelat panjangnya bergelombang, sementara matanya masih terlihat mengantuk. Ia mengusap salah satu matanya sebelum menatap kedua pria di hadapannya.
“Ya?” tanyanya dengan suara parau karena baru terbangun.
Elias segera menunjukkan lencana kepolisiannya. Ekspresinya tetap tenang, tetapi cukup tegas untuk menunjukkan bahwa mereka sedang menjalankan penyelidikan.
“Selamat pagi, Nona. Kami dari kepolisian. Kami ingin menanyakan beberapa hal tentang Ethan Brooks.”
Wanita itu mengangkat alisnya. Rasa kantuk yang sebelumnya masih terlihat di wajahnya perlahan menghilang setelah melihat lencana kepolisian milik Elias.
Tatapannya kemudian beralih kepada Adrian yang berdiri di samping Elias.
“Hah? Tentu saja. Apa yang ingin kalian tanyakan?” ucapnya hati-hati.
Elias menyimpan kembali lencananya dan sedikit berdeham.
“Ethan Brooks ditemukan meninggal dunia tadi pagi. Apakah Anda mendengar sesuatu yang mencurigakan dari kamarnya selama beberapa hari terakhir?” tanya Elias dengan serius.
Wanita itu langsung membeku. Matanya melebar karena terkejut. Ia memang tidak terlalu mengenal Ethan karena pria itu cukup tertutup dan jarang berinteraksi dengan penghuni apartemen lainnya.
“Hal mencurigakan? Uhh... sepertinya tidak ada,” jawabnya ragu. “Saya tidur lebih cepat semalam karena lelah setelah bekerja.”
Elias mengangguk pelan, memahami jawabannya. Ia kemudian melirik ke arah Adrian yang sejak tadi memperhatikan setiap gerak-gerik wanita tersebut.
“Baiklah, saya mengerti. Jika Anda menemukan sesuatu, segera hubungi kepolisian. Keterangan dari Anda mungkin bisa membantu kami menemukan pelaku lebih cepat,” ujar Elias dengan tenang namun serius.
“Terima kasih,” ucap Adrian singkat.
Mereka berdua kemudian menjauh dari kamar 304. Pintu kamar itu perlahan tertutup di belakang mereka.
“Sepertinya Ethan tidak terlalu banyak berinteraksi dengan penghuni apartemen lain,” gumam Adrian, menarik perhatian Elias.
Elias mengangkat alisnya.
“Begitukah?” tanyanya tenang.
Adrian mengangguk. Mereka kini berhenti di depan kamar 306. Elias maju dan mengetuk pintu beberapa kali.
Kali ini, tidak ada jawaban untuk beberapa saat.
Hingga akhirnya pintu terbuka.