Kediaman Victor Whitmore
Pukul 06.00 pagi. Matahari mulai terbit di langit, sementara penduduk mulai berlalu-lalang untuk melakukan aktivitas mereka.
Sambil menunggu hasil forensik tiba, Adrian berkeliling rumah Victor untuk melihat apakah ada tanda-tanda lain yang dapat membuktikan firasatnya.
Ia memeriksa pintu, jendela, halaman belakang, hingga balkon. Namun, ia tidak menemukan sesuatu yang aneh. Hanya saja, pintu depan memang tidak terkunci, seperti yang ditemukan oleh petugas polisi yang berjaga tadi.
Semakin lama ia menyelidiki, semakin kuat bukti bahwa Victor memang bunuh diri, sama seperti yang tertulis dalam surat itu.
Adrian berdiri mematung. Firasatnya biasanya tidak pernah salah, tetapi kali ini ia mulai meragukan firasatnya sendiri.
Ia menghela napas dan memijat batang hidungnya dengan lelah. Elias, yang baru selesai menggunakan radionya untuk berkomunikasi dengan anak buahnya yang berjaga di luar, memperhatikan Adrian yang terlihat kelelahan dan stres.
“Kau bisa beristirahat sejenak, Detektif. Jangan memaksakan dirimu,” ucap Elias sambil menghampirinya dan menepuk lembut pundak Adrian.
Adrian menggelengkan kepalanya.
“Saya baik-baik saja. Jangan khawatir,” jawabnya dengan nada tenang.
Elias menyilangkan kedua lengannya di depan dada sambil memperhatikan reaksi Adrian.
“Apa yang kau pikirkan sejak tadi? Kau terlihat tidak tenang,” tanyanya dengan nada tenang. Ia memang selalu tahu ketika Adrian sedang gelisah karena sudah lama mengenalnya.
“Tidak ada. Hanya... lelah saja. Saya butuh air,” jawab Adrian sambil menghela napas.
Mendengar itu, Elias memberi isyarat kepada petugas polisi di dekat sana untuk membeli sebotol air untuk Adrian. Petugas itu segera mengangguk dan berlari menuju toko terdekat.
“Hasil forensik akan tiba dalam dua hingga tiga jam lagi. Jadi, istirahat saja sebentar,” ucap Elias dengan tenang.
“Gunakan saja mobilku untuk beristirahat. Aku masih akan menyelidiki beberapa hal di sini,” sambungnya.
Adrian melirik ke arah Elias, lalu mengangguk. Ia menerima maksud baik dari rekan lamanya itu.
Adrian berjalan keluar dari rumah tersebut menuju mobil patroli Elias yang terparkir di halaman. Karena pintunya tidak terkunci, ia langsung membukanya dan duduk di kursi penumpang depan.
Ia menyandarkan punggung pada sandaran kursi lalu memejamkan mata. Rasa lelah yang menumpuk selama beberapa hari terakhir akhirnya memicu kantuk hebat hingga tanpa sadar ia tertidur pulas.
Ting… Ting…
Tiga jam berlalu. Suara denting jam digital di dasbor mobil Elias berbunyi untuk ketiga kalinya, membangunkan Adrian dari tidurnya. Di konsol tengah, dekat tempat duduknya, sudah ada sebotol air yang dibelikan oleh petugas polisi tadi. Mereka tampaknya tidak tega membangunkan sang detektif yang tertidur sangat nyenyak.
Adrian mengecek jam tangannya, mengusap matanya yang masih terasa berat, lalu menghela napas panjang.