Berjam-jam berlalu. Syuting akhirnya berakhir dengan lancar. Jam menunjukkan pukul 17.30 ketika para staf mulai membereskan peralatan untuk mengakhiri kegiatan hari itu.
Isabella telah berganti pakaian menjadi busana kasual. Ia keluar dari ruang ganti bersama manajernya, yang membawakan tas jinjing miliknya.
“Saya sudah selesai, Detektif. Saya ingin beristirahat sekarang,” ucap Isabella sambil menghela napas panjang.
Manajernya segera menuju mobil untuk menyiapkan perjalanan pulang.
“Baiklah. Saya akan ikut dengan Anda,” ujar Adrian dengan tenang ketika mereka berjalan menghampiri mobil yang mesinnya sudah dinyalakan.
Isabella tertegun sejenak.
Pipinya sedikit memerah saat mendengar ucapan Adrian.
“E-eh? Anda akan ikut ke rumah saya?” tanyanya, berusaha menyembunyikan rasa malunya.
Adrian meliriknya sekilas.
“Saya sudah menyiapkan tempat menginap di dekat rumah Anda. Saya hanya akan memastikan Anda tiba dengan selamat.”
Ia kemudian membukakan pintu mobil untuk Isabella.
Isabella terdiam sesaat sebelum menghela napas lega. Rupanya, ia telah salah mengartikan perkataan Adrian.
“Oh, begitu rupanya. Syukurlah...” gumamnya pelan.
Ia segera masuk ke dalam mobil, berusaha mengabaikan rasa malu yang masih tersisa di wajahnya. Meski merasa lega, entah mengapa ada sedikit kekecewaan yang tak sempat ia pahami.
Perjalanan menuju kediaman Isabella hanya dipenuhi keheningan.
Beberapa menit kemudian, mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah di kawasan yang cukup tenang. Isabella dan Adrian turun setelah manajernya mematikan mesin.
Adrian mengamati keadaan di sekeliling mereka. Lingkungan itu tampak sepi menjelang malam. Beberapa lampu rumah mulai menyala, sementara jalan di hadapan mereka sesekali dilalui kendaraan.
Setelah memastikan Isabella tiba dengan selamat, manajernya berpamitan dan meninggalkan mereka berdua.
“Perlu saya temani masuk sambil menunggu malam?” tanya Adrian dengan tenang.
Isabella sedikit terkejut. Ia kemudian tersenyum tipis dan menggelengkan kepala.
“Oh, tidak perlu, Detektif. Anda sudah menyempatkan waktu untuk tinggal di dekat sini demi mengawal saya. Itu sudah cukup,” jawabnya lembut.
Kelelahan setelah seharian bekerja mulai terlihat di wajah Isabella. Ia hanya ingin segera beristirahat.
Adrian mengangguk, memahami keputusannya.
“Kalau begitu, saya perlu memberi tahu Anda di mana saya akan tinggal selama pengawalan ini.”
Ia menunjuk sebuah rumah yang terletak tepat di seberang jalan.
“Saya menyewa rumah itu untuk sementara waktu. Dari sana, saya bisa mengawasi keadaan di sekitar kediaman Anda.”
Isabella mengikuti arah tangannya. Ia tampak sedikit terkejut saat menyadari betapa dekatnya tempat tinggal Adrian dengan rumahnya.
“Oh, begitu. Kalau begitu, kamar saya ada di lantai dua. Jendelanya menghadap langsung ke jalan.”
Ia mengangkat tangan dan menunjuk jendela yang dimaksud.
Adrian mendongak, memperhatikan posisi jendela tersebut. Letaknya cukup jelas terlihat dari rumah sewaannya.