MIDNIGHT COVENANT

stellaris rhea
Chapter #17

BAB XVII - Tragedi

Langkah kaki Adrian terdengar tergesa-gesa saat ia menaiki tangga menuju lantai dua. Teriakan wanita itu masih terngiang di telinganya, membuatnya mempercepat langkah hingga tiba di depan kamar Isabella.

Pemandangan di dalam kamar membuat tubuhnya seketika menegang. Rahangnya mengeras saat pandangannya tertuju pada sosok yang terbaring tak bergerak di atas ranjang. Meski keterkejutan dan amarah mulai berkecamuk dalam dirinya, Adrian berusaha mempertahankan ketenangannya.

“Segera hubungi polisi dan ambulans!” perintahnya tegas kepada wanita yang berdiri mematung di ambang pintu. Tubuh wanita itu gemetar, seolah masih sulit menerima pemandangan mengerikan di hadapannya.

Kamar Isabella tampak begitu rapi, seolah tidak terjadi apa-apa di sana. Namun, pemandangan di atas ranjang merusak ketenangan itu. Seprai putihnya berlumuran darah, sebagian masih tampak basah, sementara bagian lainnya mulai mengering. Bau anyir menyengat memenuhi ruangan.

Adrian mengatupkan rahangnya. Ada rasa bersalah yang menyelinap di dadanya. Semalaman ia berjaga di seberang jalan, meyakinkan dirinya bahwa Isabella berada dalam pengawasannya. Namun, kini wanita itu terbaring tak berdaya di hadapannya.

Ia menarik napas perlahan, berusaha menyingkirkan emosi yang mengganggu pikirannya. Untuk saat ini, ia harus tetap fokus.

Dengan langkah hati-hati, Adrian memasuki kamar tanpa menyentuh benda-benda di sekitarnya. Pandangannya menyisir ruangan, mencari sesuatu yang mungkin ditinggalkan pelaku.

Tak lama kemudian, matanya tertuju pada tirai jendela yang menghadap langsung ke rumah sewaannya semalam.

Di salah satu bagian kain itu, tampak noda darah samar.

Adrian terdiam. Ia masih mengingat kesepakatannya dengan Isabella. Jika wanita itu membutuhkan pertolongan, ia harus membuka tirai lebar-lebar agar Adrian dapat melihatnya dari seberang jalan.

Namun, semalam tirai itu tidak pernah terbuka lebar seperti yang telah mereka sepakati.

Tatapannya kembali tertuju pada noda darah tersebut. Apakah Isabella sempat berusaha meminta pertolongan, tetapi gagal melakukannya? Ataukah ada sesuatu yang terjadi sebelum ia sempat membuka tirai?

Adrian belum bisa memastikan jawabannya. Ia hanya tahu bahwa noda darah itu merupakan sesuatu yang tidak boleh ia abaikan.

Tak lama kemudian, suara sirene polisi dan ambulans terdengar mendekati rumah Isabella. Beberapa tetangga mulai berkerumun di depan rumah, berusaha mencari tahu apa yang telah terjadi. Ketika kendaraan-kendaraan itu berhenti, sejumlah petugas segera turun dan memasuki rumah untuk menangani situasi.

Salah satu petugas yang datang adalah Inspektur Elias.

“Detektif! Saya dengar Anda berada di sini, jadi saya langsung datang untuk mengambil alih penanganan kasus ini,” ujar Elias. Nada suaranya terdengar akrab, tetapi sikapnya tetap menunjukkan profesionalisme.

Sementara itu, manajer Isabella sedang dimintai keterangan oleh seorang petugas polisi. Wanita itu masih menangis tersedu-sedu, tampak begitu terguncang oleh kejadian yang baru saja disaksikannya.

Adrian melirik Elias dengan tenang, lalu menghela napas pendek.

“Kebetulan, saya memang sedang mengawal Isabella sejak kemarin,” jelasnya.

Setelah itu, ia berbalik dan berjalan menghampiri manajer Isabella bersama petugas yang sedang mencatat keterangannya. Elias menyusul beberapa langkah di belakang.

“Saya menginap di rumah seberang untuk mengawasinya semalaman. Namun, saya tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam kamar karena tirainya tertutup,” ujar Adrian tenang.

Petugas tersebut mengangguk sambil mencatat penjelasannya.

“Saya mengerti. Jadi, bagian dalam kamar itu berada di luar jangkauan pengamatan Anda,” katanya dengan nada profesional.

Adrian membalas anggukan itu.

Petugas tersebut kemudian kembali menoleh kepada manajer Isabella, yang masih berusaha menenangkan diri di sela-sela tangisnya.

Lihat selengkapnya