Suasana kos yang aku tempati terlihat biasa saja, sama seperti kos-kos yang lain. Hanya saja, memang hanya aku sendiri yang kos di sini. Sebenarnya, aku sangat tidak suka dengan suasana kos yang sepi. Aku ingin punya teman kos yang bisa diajak berbincang-bincang agar tak kesepian. Kalau sepi seperti ini sama saja dengan mengasingkan diri. Aku sempat bertanya ke Ibu Kos kenapa tak ada yang kos di tempat ini.
"Ini tadinya banyak Mbak, tapi memang sudah lulus semua, jadinya ya sepi, biasalah baru wisuda. Nanti juga ramai lagi," begitu katanya. Aku hanya bisa tersenyum miris, membayangkan hidupku akan terasa benar-benar sepi di tempat ini.
"Tenang saja Mbak, anak saya nanti juga tinggal di sini sama keluarganya. Jadi nanti ada yang menemeni," lanjutnya. Agak sedikit lega sebenarnya karena aku tak benar-benar sendiri.
Memang benar Ibu Kos, anak dan keluarganya ternyata juga tinggal di kos yang kutempati. Anak Ibu Kos beserta istri dan kedua anaknya memang cukup meramaikan suasana. Tapi, tetap saja aku tak merasa senang karena tak ada teman yang enak diajak berbincang. Andai saja ada teman sekampusku yang juga kos di tempat ini.
Aku adalah seorang mahasiswi salah satu Perguruan Tinggi di Jawa Timur, sudah semester 5 dan sebentar lagi akan lulus. Karena jarak rumah dengan kampus sangat jauh dan beda kota, aku putuskan untuk kos di dekat kampus agar tidak terlalu capek. Untuk pertama kalinya aku jauh dari orang tua dan selama seminggu harus hidup dengan lingkungan baru dan tentunya teman-teman baru.
Malam-malam pertama aku tidur di kos rasanya sama sekali tidak nyaman. Ruangan yang sempit juga panas membuatku merasa sesak. Berkali-kali aku keluar kamar hanya untuk mencari udara segar. Mungkin ini karena baru pertama aku tidur jauh dari orang tua, pikirku. Aku mencoba sedikit bersabar dan bertahan, sambil berharap esok mungkin ada orang lain yang akan kos di sini juga.
Doaku ternyata dikabulkan oleh Tuhan. Saat Ospek aku berkenalan dengan seseorang yang sedang mencari kos-kosan. Ah, benar-benar saat yang tepat. Dalam hati aku melonjak kegirangan.
"Gimana kalau ikut ngekos sama aku?" Aku menawarkan kos-kosan yang sebenarnya sama sekali tidak menyenangkan itu.
"Memangnya kamu kos di mana?"
"Itu, di dekat SD. Mau lihat?" Aku mencoba menawarkan lebih gencar karena dia kelihatannya tertarik. Memang sepertinya dia juga sangat membutuhkan tempat kos.
"Boleh, nanti aku ikut kamu ya," katanya. Aku senang bukan main.
"Iya," aku langsung menyetujuinya.
Sepulang Ospek aku mengantar temanku itu untuk melihat-lihat kos-kosan yang aku tempati. Setelah dibujuk dengan rayuan maut ala ibu-ibu kos, akhirnya temanku memutuskan untuk kos juga. Sepertinya dengan sedikit terpaksa. Tapi, tak apa-apa, yang penting aku dapat teman kos baru, satu kampus pula.
"Kok sempit ya kamarnya?" kata temanku saat baru pertama kali tidur di kos.
"Iya, aku juga ngerasa gitu sih," jawabku apa adanya. Memang begitu adanya, sempit dan pengap.
"Kenapa kos di sini? Kenapa nggak cari kos yang lain aja?"
"Kalau ada sih aku juga udah pindah, dari sini kemarin-kemarin," gerutuku. Aku memang sudah berusaha mencari kos lain, tapi tidak ada yang cocok.