Midnight Stories

Maghfira Izani
Chapter #4

Makhluk jahat penunggu pohon

Selasa, 23 April 2000

Dini menerima berita kelulusan seleksi penerimaan mahasiswa baru di sebuah universitas yang cukup ternama di kota Bogor. Merasa senang saat mendengar kabar itu, ia segera memberitahu orangtua dan keluarganya. Rumah Dini yang berada di daerah Ciawi, membuat orangtuanya khawatir Dini terlalu lelah jika harus pulang-pergi ke rumahnya setiap hari. Setelah berembuk, akhirnya mereka sepakat Dini akan kos di dekat kampus selama kuliah.

Pagi-pagi sekali, bersama ibunya, Dini pergi ke Bogor untuk mencari tempat kos dengan meminta bantuan sahabatnya, Farah. Dua jam berlalu, akhirnya Dini dan ibunya sampai di kota Bogor dan bertemu Farah. Farah ini sudah lebih dahulu masuk ke universitas tersebut dan tinggal di Bogor, jadi ia tahu seluk-beluk kota Bogor.

"Jadi kita mau ke mana nak Farah," ujar ibunda Dini.

"Kebetulan beberapa teman saya juga ada yang ngekos di sekitar sini tante, kita ke sana. Siapa tahu salah satu dari tempat itu cocok buat Dini," Farah menjelaskan.

"Baiklah, yuk kita jalan."

Akhirnya mereka mulai mengunjungi tempat-tempat kos di sekitar universitas itu. Tempat kos pertama yang mereka kunjungi adalah sebuah kos putri yang cukup padat, letaknya pun berada di antara dua buah rumah. Dengan kontur bangunan yang saling menghadap satu sama lain, dan jaraknya pun sangat dekat. Setelah menimbang, Dini dan ibunya memutuskan untuk menolak. Menurut mereka tempat kos itu sangat sesak, minim sekali ventilasi udara. Mereka pun melanjutkan pencarian.

Tempat kos kedua cukup nyaman, letaknya di sebuah jalan yang tidak terlalu kecil. Letaknya juga tidak terlalu jauh dari jalan besar, namun tempat kos itu terletak di ujung jalan. Tempat kos itu cukup besar, dengan sistem berbaris berhadapan. Namun jarak antara kamar sangat luas, tempat kos itu dikelilingi halaman yang cukup luas. Beberapa pohon besar terlihat di beberapa sudut, dan tempat kos itu tidak terlalu sesak. Tempat kos itu hanya diisi oleh beberapa mahasiswi, hingga suasananya sangat sepi. Namun, bagi ibunda Dini itu sangat membantu, setidaknya Dini dapat belajar dengan baik tanpa harus terganggu suara berisik.

Dini dan ibunya mulai berunding, Dini pun tidak keberatan. Ia suka tempat itu. Mereka sepakat menyewa sebuah kamar untuk Dini di sana, mereka menemui penjaga tempat kos itu. Kesepakatan dibuat hari itu juga.

Tiga hari kemudian, sebuah mobil mini bus milik ayah Dini terparkir di halaman tempat kos. Dini mulai pindah ke kos hari itu. Kedua kakak Dini membantu memindahkan barang-barangnya ke sana. Sedangkan ibu dan ayah Dini membantu merapikan kamarnya, mereka selesai saat sore harinya.

"Kamu baik-baik ya nak, jaga diri. Kalau ada apa-apa telpon ibu," ujar ibunda Dini.

"Baik bu, Dini pasti jaga diri kok. Lagian kan kampus deket, paling pasti nggak ke mana-mana selain kuliah," balas Dini.

"Ya udah, ibu sih percaya sama kamu. Kamu masuk kuliah kapan?"

"Minggu depan bu, besok Dini susun jadwal."

"Ya udah kalau gitu. Ibu, ayah, dan kakakmu pulang ya."

"Hati-hati di jalan bu," kata Dini sambil mencium tangan ayah dan ibunya.

Mereka sudah pergi. Dini hanya melihat mobil orangtuanya pergi meninggalkan tempat kosnya, dan kemudian masuk ke kos saat mobil mini bus itu tidak lagi terlihat.

Dini menjalani minggu pertama perkuliahannya, tidak sulit baginya untuk mendapat teman-teman baru. Dini memang tipe remaja yang murah senyum, begitupun di tempat kosnya, ia sudah berkenalan dengan beberapa penghuni kos dan mereka sangat baik terhadap Dini.

Lihat selengkapnya