"KEY! Cepetan! Anak-anak udah dibarisin tuh!" seru Ani, sahabat baikku.
Dengan terburu-buru aku mengikat tali sepatuku dan berlari ke arahnya. Sebelum memasuki barisan panitia, aku memastikan dulu pakaian yang aku kenakan rapi, karena Pembina Pramuka sangat rewel, sedikit tak rapi akan kena omel, membantah dikit siap-siap kena tampar.
Aku memasuki barisan panitia dan mengambil posisi tengah, di antara kedua panitia yang lain, Desi dan Koni. Mereka juga termasuk salah satu sahabatku, hanya saja dengan Desi aku sering terlibat perdebatan, entah karena masalah pelajaran atau kehidupan, yang jelas banyak di antara teman sekelas kami yang membenci sang juara umum tersebut.
"Lo udah siapin perlengkapan hiking Key?" tanya Desi yang berdiri di depanku tanpa menoleh.
"Udeh! Tinggal go way aja. Lo sendiri, udah siapin kotak obat?" aku balik bertanya.
Desi hanya mengangguk tanpa menjawab. Miris. Aku benar-benar tidak suka dengannya.
"Ok, anak-anak...!!" seru Pak Agus sambil memakai toa, "Perjalanan kita diperkirakan dari jam delapan pagi sampai jam enam sore. Sebelum berangkat, ada baiknya kita berdoa dulu agar selamat saat perjalanan. Berdoa... dimulai!"
Aku memang tidak terbiasa berjalan jauh. Apalagi dengan jarak sampai dua puluh kilometer naik-turun gunung. Engsel kakiku rasanya mau copot. Dengan kaki pincang aku masuk ke dalam kelas khusus panitia dan mengikuti penataran. Kapan lagi aku kagum sama Pak Agus, sudah jalan sejauh itu kok dia masih semangat saja ya menggemeli orang. Hah!
"Key! Jangan ngedumel!" Tegur Pak Agus. Aku nyengir lalu menunduk.
"Maaf, Pak!"
Pukul dua belas malam panitia membangunkan seluruh peserta. Di tengah rintiknya gerimis dan hembusan angin yang cukup menusuk kulit, tetap tidak mengurungkan niat kami yang akan mengadakan acara renungan malam, atau banyak juga yang menyebutnya jeritan malam. Yah! mungkin di sini aku yang paling malas, karena jujur saja, untuk berdiri saja kakiku sudah sangat sakit, apalagi untuk berjalan ke pos jagaku yang jaraknya sekitar lima ratus meter, tepat di belakang pemakaman.
"Key, aku bantu jalan ya..." ucap Ardi, alumni di sekolahku. Aku mendelik lalu menggeleng. Jujur saja aku memang tidak pernah menyukainya, sekalipun secara blak-blakan di tempat umum dia pernah mengatakannya, tapi hal itu sama sekali tidak membuatku simpati padanya, aku justru semakin membencinya, terutama saat ia ikut acara yang seharusnya ia tidak perlu datang karena memang tidak diperlukan.
"Ani... bantu gue..." rengekku. Ani memapahku berjalan menyusuri jalan setapak yang hanya diterangi oleh senter yang kami bawa. Sesekali aku hampir terjatuh, tubuhku semakin menggigil bukan hanya karena angin malam, tetapi sebagian pakaianku memang sudah basah terkena air hujan.
"Pake jaketku aja, Key!" Ardi menyarankan.
"Kagak usah! Gak butuh!" ucapku ketus.
"Jangan galak-galak gitu ah sama mantan," ejek Ricky yang berjalan di sampingku. Aku memelototkan mataku lalu memukul bahunya kesal.