BEKERJA sebagai seorang perawat? Ah, rasanya aku tidak pernah mengiranya. Sungguh yang ada di otakku adalah kuliah jurusan Manajemen dan menjadi pekerja kantoran. Murni sebagai wanita karir. Setiap sabtu dan minggu bisa bersantai di rumah. Juga, aku sangat menyukai matematika atau segala yang berhubungan dengan angka. Minimal, aku bisa menjadi seorang insinyur. Oh, astaga... lihat aku sekarang. Seorang perawat di sebuah Rumah Sakit Umum Pemerintah.
Aku baru lulus setengah tahun dan ada perekrutan karyawan untuk sebuah Rumah Sakit pemerintah yang baru dibangun. Aku sungguh tidak terpikir bekerja di Rumah Sakit. Darah, pasien, dan kematian.
Beruntung sekali, Rumah Sakit ini masih baru jadi kami masih belum menerima pelayanan. Masih sebatas melakukan pembersihan, pengaturan kinerja, pengaturan obat-obatan, pembagian tugas per ruangan dan menjadi Cleaning Service mendadak. Semua kami lakukan selama satu tahun terakhir.
Meski belum pernah merasakan bekerja di shift malam, karena memang Rumah Sakit ini belum benar-benar diresmikan. Apa yang kalian pikirkan tentang Rumah Sakit? Pasti, masih berkisar tentang pasien dan kematian. Kematian pasti akan berhubungan dengan segala sesuatu yang berbau horor. Benar tidak? Jadi, sejujurnya saat melihat Rumah Sakit ini aku sudah merasa takut. Meski belum sekalipun ada pasien yang meninggal, cerita horor sudah menyebar.
Rumah Sakit ini baru dan berdiri di atas tanah bekas tanah kosong. Jelas, selalu ada kisah di baliknya bukan. Rumah Sakit ini terdiri dari sebelas bagian gedung. Gedung A sampai gedung E. Kebetulan, aku terpilh di Instalasi Rawat Inap kelas dua yang ada di gedung E. Mulailah, aku dan kawan-kawan membersihkan khusus area Instalasi kami yang berada di lantai tiga. Cukup bagus. Semua berawal dengan cukup bagus. Belum terjadi apapun yang aneh.
"Pernah mendengar kisah seram itu?" tanya Bella, salah satu rekan kerjaku, dengan tiba-tiba.
"Apa?" tanyaku penasaran.
"Di Gedung B tepat di depan Instalasi bersalin, pernah ada yang melihat wanita menggendong bayi. Hiiy... seram..." pekik Bella.
"Gaya... kayak ngak pernah dengar cerita hantu di Rumah Sakit saja... aku pernah melihat tangan tanpa tubuh di tempat praktikku yang dulu."
"Serem amat... eh, ada lagi. Katanya, dari para kuli bangunan yang dulu tuh... gedung B yang paling beraura angker. Mereka harus membangun setiap lantai selama sehari. Jika ditunda, akan ada bencana..." gitu katanya..."
"Kamu percaya?"
"Kan mereka yang pernah ada di sini..."
"Setan, hantu, atau jin, memang ada... tapi nggak harus kita yang ketakutan terus," jawabku.
Tepat setelah aku mengatakan itu, sebuah hawa dingin sontak menyeruak. Sungguh, sangat dingin dan keran air di kamar mandi khusus laki-laki tiba-tiba saja menyala sendiri. Aku dan Bella saling berpandangan satu sama lain dan langsung berteriak ketakutan.
Tepat satu tahun berikutnya, Rumah Sakit benar-benar diresmikan. Kami mulai beroperasi dan menerima pasien. Mulailah kami membagi jadwal shift pagi dari jam tujuh sampai jam dua sore, shift sore dari jam dua siang hingga jam sembilan malam, dan shift malam dari jam sembilan malam hingga jam tujuh pagi. Rutinitas yang sangat biasa dan memang menjadi kewajiban kami. Karena Rumah Sakit baru, pasien yang datang juga masih bisa dihitung dengan jari.
Hari ini aku kebagian jadwal untuk shift sore. Pasien yang ada satu orang saja. Aku berjuang berdua saja dengan temanku yang bernama Fitri. Kami memulai aktivitas seperti biasa. Menyiapkan obat dan mengobserve tanda-tanda vital pasien. Jam enam sore aku bergegas memasuki kamar pasien lengkap dengan tensimeter di tanganku.
"Selamat sore Bu Agus," sapaku ramah.
"Sore, Sus."
"Permisi Bu, saya mau mengukur tekanan darah, nadi, dan denyut jantungnya."
"Silahkan, Sus."