Midnight Stories

Maghfira Izani
Chapter #7

Sudah Malam atau Sudah Tahu?

MATAKU masih terpaku menghadap layar laptop. Otakku berusaha keras menyusun deretan syntax untuk menjalankan program. Sedangkan jari-jari ini mematuhi apa yang sudah dikomandokan oleh otak, menekan keyboard laptop untuk menuliskan syntax yang merupakan hasil kerja keras sang komandan. Setelah mengalami pergulatan yang cukup keras, akhirnya syntax tersusun manis di layar laptop. Barulah jariku menggerakkan pointer menuju tombol Run dan menekannya. Kemudian...


"syntax error"


Aku menghela napas panjang. Untuk kesekian kalinya, program yang aku buat gagal untuk dijalankan. Program ini merupakan penugasan untuk mata kuliah pemrograman komputer, mata kuliah yang membuatku hampir tidak pernah mengistirahatkan mata dan sel otak barang sejenak di malam hari. Bermain logika dan keterampilan menggunakan program komputer memainkan peranan penting dalam mengikuti perkuliahan ini. Celakanya, kemampuanku dalam bermain-main dan berlogika dengan komputer bisa dibilang cukup parah. Setiap kali mengikuti perkuliahan, otakku sangat sulit mencerna materi yang disampaikan oleh dosen. Alhasil, setiap kali mengikuti perkuliahan pula, tatapan kosong ke arah dosen dan papan tulis merupakan satu-satunya kegiatan yang bisa kulakukan.


Terkadang aku merasa keheranan. Jurusan yang kuambil jelas-jelas berbau sains. Tak ada sangat pautnya dengan hal-hal yang berbau pemrograman komputer dan semacamnya. Tapi entah mengapa mata kuliah ini terpampang manis di silabus perkuliahan.

📖 Sudah Malam atau Sudah Tahu? — Lanjutan Teks Lengkap


Penulis: Novella Putri


 


Bagian 3


Dan entah mengapa pula aku bertemu dengan mata kuliah pemrograman komputer. Padahal niatku mengambil jurusan yang berbau sains ini adalah untuk menghindari hal yang bersangkutan dengan pemrograman komputer.


Kulirik jam dinding. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Mataku semakin berat dan berkali-kali aku harus menutup mulutku dengan tangan karena sudah terlalu sering menguap. Segelas kopi masih belum cukup untuk menahan kantuk yang kian menyerang hebat. Mataku kembali memandangi layar laptop. Tulisan 'syntax error' masih setia menghiasi layar laptop. Lagi-lagi aku menghela napas panjang. Deadline tugas tinggal seminggu lagi. Sedangkan progress pengerjaan tugas masih jauh dari kata beres. Jenuh dengan program yang sejak tadi gagal dijalankan, aku memutuskan untuk mematikan dan menutup laptop. Kurebahkan tubuh mungilku di atas kasur. Kulepaskan rasa penat yang cukup lama memenjara tubuhku. Mataku terpejam dan alam bawah sadarku mulai memboyong jiwaku ke alam mimpi.


 


Bagian 4


Keesokan harinya...


Kutatap lekat-lekat bayangan wajahku yang kini sedang bertransformasi pada cermin. Tampak lingkaran hitam menggelayut di bawah mataku. Mirip sekali dengan hewan asal China yang suka sekali mengonsumsi bambu, panda. Lingkaran yang terbentuk akibat begadang semalam dan hanya menghabiskan kurang lebih dua jam untuk sekadar mengistirahatkan mata. Aku mengoleskan krim mata untuk menyiasati 'hiasan' alami ini. Kusambar tasku lalu melangkah keluar dari cermin. Kulihat arloji yang melingkar manis di pergelangan tangan. Waktu menunjukkan pukul 06.20. Saatnya menjadi penghuni kampus.


Suasana parkiran kampus masih terlihat lengang. Hanya ada beberapa motor yang masih menjadi penghuni bangunan terbuka tanpa tembok tersebut. Setelah selesai memarkir motor, aku berjalan menuju ruang kelas. Sebuah tepukan pelan mendarat di bahuku.


"Kepagian non..."


Aku menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Mayda, teman sekelasku.


"Kayak kamu nggak kepagian aja..." celotehku.


Kami tertawa bersama-sama.


"By the way, gimana kabar tugas pemrograman?" tanyaku.


"Hmmm... progress masih 60%. Susah sih tugasnya... hehehe. Kalau kamu?" Mayda bertanya balik.


Hah? Seorang master pemrograman seperti Mayda saja masih sanggup mengatakan susah. Bagaimana dengan aku, gumamku dalam hati.


"Hehehe, masih kalah deh dibanding kamu," aku tersenyum.


Sebenarnya aku ingin meminta bantuan Mayda untuk pengerjaan tugas pemrograman ini. Namun aku takut merepotkannya karena dia sendiri juga belum merampungkan tugasnya. Selain itu, aku juga sudah sering merepotkannya dengan meminta bantuan ini-itu mengenai masalah pemrograman. Dan kini aku tak ingin merepotkannya untuk kesekian kali.


"Deadline tinggal seminggu lagi. Huh, yang benar saja. Berarti hampir tiap malam harus begadang deh..." Mayda tertawa.

Lihat selengkapnya