Midnight Stories

Maghfira Izani
Chapter #8

Lorong di lantai 4

SAYA adalah seorang mahasiswa di sebuah universitas swasta di kawasan Jakarta Selatan, kebetulan saya masuk kuliah tahun 2009. Kampus saya bukanlah kampus besar, hanya terdiri dari tiga gedung untuk ruang kelas dan satu gedung untuk kantor para dosen. Gedung kampus terdiri dari lima lantai, namun pada awal pembangunannya hanya tiga lantai. Lalu beberapa tahun kemudian, baru pembangunan dilanjutkan menjadi lima lantai. Awalnya gedung kelas terpisah dengan gedung kantor dosen. Namun, karena letaknya berdekatan akhirnya kedua gedung itu dibuat penghubung, penghubung itu berupa lorong panjang di lantai 4. Jadi, lantai 4 gedung kelas dan lantai 4 gedung kantor dosen menyatu.

Lantai 4 gedung kelas mempunyai lorong paling panjang ketimbang lorong lain, lorong itu cukup menyeramkan. Pada awal pembangunan lantai 4 dan 5 pun sudah banyak rumor yang cukup seram beredar, mulai dari para pekerja yang tiba-tiba jatuh sakit, sampai pekerja yang jatuh saat memasang pondasi coran lantai 4. Beberapa senior yang saya kenal menceritakannya, begitu pula para pedagang sekitar kampus saya. Namun saat saya mencoba menanyakan kepada staf kampus, mereka menjawab bahwa cerita itu hanya karangan para senior saja untuk menakuti junior.

Memang di kampus saya lorong panjang di gedung 4 adalah tempat yang menyeramkan, banyak mahasiswa dan mahasiswi yang mengalami hal-hal yang cukup membuat bergidik di sana. Namun setelah berbicara dengan salah satu staf kampus, saya jadi agak percaya bahwa mungkin mereka hanya berbohong. Mencoba menakuti saya. Jadi saya tidak ambil pusing.

Sampai saat pada semester dua saya kebetulan pindah jadwal, karena saya kuliah sambil bekerja. Saya memutuskan untuk pindah jadwal menjadi malam, agar siang hingga sore saya masih dapat bekerja. Pada semester itu juga saya mendapat mata kuliah di salah satu kelas di lantai 4, saya agak keberatan awalnya. Saya coba menghubungi staf bagian kemahasiswaan untuk pindah kelas, namun gagal. Mau tak mau saya harus mengikuti mata kuliah sesuai jadwal, saya pun menurut.

Di jadwal perkuliahan saya tertulis bahwa kelas dimulai pukul 8 malam, setelah menyelesaikan pekerjaan saya, saya langsung berangkat. Ini hari pertama saya mengikuti kelas itu, saya tidak boleh terlambat. Saya tidak tahu dosen seperti apa yang mengajar, jadi lebih aman jika datang lebih awal.

Selepas maghrib saya berangkat menembus jalanan ibukota. Jalanan saat itu cukup padat, cukup lama waktu yang saya habiskan agar sampai ke kampus saya. Pukul setengah delapan malam saya sampai, saat ingin memasuki gedung kelas saya berpapasan dengan satpam yang berjaga. Karena saya berbaik, maka saya sempatkan untuk berbincang.

"Tumben nih dek masuk malam?" satpam itu bertanya sambil menepuk bahu saya.

"Iya nih, lagi dapet kerjaan. Lumayan buat bayar kuliah," jawab saya sambil tersenyum.

"Emang harus gitu dek, mumpung masih muda. Kalo ada kerjaan kenapa nggak diambil, lumayan jadi gak nyusahin orang tua."

"Saya juga mikirnya gitu pak. Ya udah saya duluan ya, udah telat nih." Saya sedikit berbohong agar dapat menyudahi percakapan.

"Oke dek."

Pelan-pelan saya menaiki anak tangga menuju lantai 4, beberapa kali berpapasan dengan beberapa mahasiswa yang lalu lalang dari dan menuju lantai atas. Malam itu suasana kampus sangat dingin, saya pun tidak mengira ternyata udara di kampus sangat dingin saat malam hari. Setelah beberapa lama, akhirnya saya sampai di lantai 4.

Saya diam untuk beberapa menit, memandangi lorong panjang di lantai 4. Ternyata benar-benar menyeramkan, keadaan lorong sangat sepi. Kelas-kelas di sekitarnya sangat gelap, satu-satunya penerangannya hanya lampu yang bertengger di langit-langit lorong. Tiba-tiba angin dingin menerpa wajah saya, bulu kuduk saya berdiri seketika.

Tidak heran banyak cerita seram di lantai ini, memang seram banget. Pikir saya.

Saya terus saja memerhatikan lorong panjang, seperti orang yang terhipnotis. Hingga sesuatu menyentuh pundak saya, saya kaget bukan main, seperti terkena serangan jantung.

Saat saya menoleh, ternyata seorang mahasiswi berdiri di belakang saya. Ia mengenakan baju berkerah warna krem, dengan tas selempang. Ia menggenggam beberapa buku di tangannya.


"Maaf, kamar mandi di sebelah mana ya?" mahasiswi itu tersenyum.

Saya masih terdiam, bertanya-tanya dari mana datangnya mahasiswi itu.

Lihat selengkapnya