Midnight Stories

Maghfira Izani
Chapter #9

Lepas bayangan kelam

Terasa kembali udara pagi yang diselimuti kabut tipis mengawali hari pertamaku pindah sekolah. Berharap semua kenangan buruk di sekolahku yang lama akan hilang dengan bergulirnya hari baru. Mungkin kos-kosan ini akan lebih nyaman aku tempati walau hanya berdua dengan kakak perempuanku. Dengan memakai seragam putih abu-abu ini, aku siap menjadi murid pindahan di sekolahku yang baru.

"Bang, ke SMA Harapan, berapa?" tanyaku pada seorang tukang ojek yang sedang mangkal di pinggiran gapura tak jauh dari kos Pak Benu.

"Emh, lumayan jauh dari sini Dek, sepuluh ribu aja," jawab tukang ojek tersebut sambil menggerakkan puntung rokok yang sedang menyala sampai serpihan abu berjatuhan di lantai. Dalam hati berpikir sejenak, baru dua hari di kota ini dan masih terasa asing bagiku, mungkin kin aku bisa berlangganan dengan tukang ojek ini.

"Gini Bang, saya ini rencananya mau langganan pulang pergi naik ojek ke Sekolah, kalau Abang mau nanti saya minta nomor hp-nya biar bisa dihubungi. Gimana?" ujarku menjelaskan pada tukang ojek sambil memberikan senyuman.

"Hemm, oke boleh juga, sekarang langsung ke sekolah kan?" tukang ojek menerima tawaranku dan mengubah posisi duduk layaknya orang siap mengendarai motor.

"Iya, sekarang mulai ke sekolahan," perintahku sambil mengambil helm yang ada di atas jok motor.

Perjalanan yang lumayan jauh ke sekolah. Hari ini adalah pertama kali akan berjumpa dengan teman maupun guru baru bagiku. Sekolah yang menjadi favorit bagi anak remaja ini akan mengisi lembaranku. Langkah kakiku menuju ke ruang Tata Usaha untuk menemui guru yang kemarin sudah melakukan perbincangan dengan ayahku mengenai perpindahan sekolahku.

"Permisi Bu, mau tanya ruang Pak Edi di mana ya? Saya murid pindahan di sini," tanyaku pada seorang wanita paruh baya yang sedang menggoreskan pena pada lembaran kertas berisi daftar kehadiran.

"Oh, itu Pak Edi yang sedang berdiri dekat pintu," sejenak leherku berputar 90 derajat ke arah kanan menyesuaikan arah jari telunjuknya. "Ke situ aja langsung," kata Ibu itu dengan jari telunjuk masih mengarah ke seorang guru yang sedang menghisap batang rokok yang hampir habis.

"Oh yang itu ya, makasih ya Bu," kataku sambil memberikan senyuman kepadanya dengan wajah sedikit menunduk.

Lalu aku melanjutkan langkah kakiku ke arah Pak Edi yang sedang membuang puntung rokoknya ke dalam tempat sampah.

"Permisi Pak, saya Rina murid yang baru pindah ke Sekolah ini," tuturku dengan badan sedikit gemetar karena gugup melihat wajah Pak Edi yang sedikti sangar.

"Oh yang kemarin orangtuanya ke sini ya, sini ikut Bapak menunjukkan kelas kamu," ujar Pak Edi dengan suara yang hampir membuat semua orang menoleh ke arahnya. Aku pun hanya berjalan mengikuti arahnya, sekolah yang begitu besar masih membuatku terasa asing dan sedikit merinding.

"Nah, ini kelas kamu, saya adalah wali kelas kamu. Nanti cari tempat duduk yang kosong ya," pinta Pak Edi kepadaku yang kehadirannya membuat bungkam seluruh murid di kelas tersebut. Tak terasa air liur tertenggak kaget ketika aku mendengar dia adalah wali kelasku.

"Iya Pak, makasih," aku pun langsung mencari bangku kosong yang ternyata ada di barisan depan. Aku mulai mengeluarkan buku dan alat tulisku di atas meja, tiba-tiba wanita yang duduk di sampingku terlihat senyum dan berusaha ingin menyapaku.

"Emh, namanya siapa?" tanya wanita tersebut kepadaku sambil tersenyum.

"Namaku Rina, kamu?" jawabku sambil menyodorkan tangan kanan untuk memulai perkenalan walaupun nada suara yang keluar masih agak malu-malu.

"Oh ya namaku Ranti, kamu pindahan dari SMA mana?" tanyanya kembali dengan membalas salaman kepadaku.

"Aku pindahan dari SMA 1, salam kenal ya," ujarku kepada Ranti.

"Oh, iya salam kenal juga," katanya dengan ramah dan kembali menoleh ke teman di belakangnya.

Tanpa sadar aku baru memulai untuk mendapatkan teman baru di sekolah ini, walaupun orang-orang di sini agak terlihat sombong, semoga mereka bisa menerima kehadiranku di kelas ini.

Tiba-tiba suhu di ruangan kelas ini begitu panas yang amat, panas yang terasa berbeda dengan suasana panas biasanya. Seluruh raga ini terasa menggigil dan merinding, apakah ini pertanda mereka mengikutiku? Aku tak kuat menahannya, kembali perutku terasa sakit sama seperti hal yang kurasakan di sekolahku yang dulu.

Lihat selengkapnya